Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Untung dari Perang

SENIN, 16 MARET 2026 | 19:05 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KETIKA perang pecah di Timur Tengah, biasanya pikiran orang langsung melayang ke industri senjata. Bayangan kita penuh dengan jet tempur, misil hipersonik, kontraktor militer, dan perusahaan persenjataan yang sahamnya melonjak.

Di sisi lain, Donald Trump tampil mengakui Amerika Serikat menang perang ataumungkin maksudnya ingin segera mengakhiri perang. Namun Iran ingin perang terus berlanjut sampai Israel lenyap dari muka bumi.

Beda dari kebanyakan pengamat, Robert Kiyosaki melihat perang dari sudut yang sedikit berbeda, bahkan agak nakal karena pikirannya seolah bermain di atas penderitaan akibat perang. Ia tidak terlalu tertarik pada siapa yang menembakkan misil pertama. Ia lebih tertarik pada satu pertanyaan sederhana: saat asap perang sedang membubung atau mungkin sudah menghilang, siapa yang akan menjadi lebih kaya?


Itulah kebiasaan lama Kiyosaki. Sebagai penulis Rich Dad Poor Dad, sebuah buku fenomenal panduan financial freedom (kebebasan finansial) dan investor pasif, ia selalu memandang peristiwa besar dunia bukan sebagai drama politik, melainkan sebagai pergerakan arus uang. Dalam buku-bukunya ia sering pakai istilah win or lose, termasuk dalam perang kali ini. Padahal, maksudnya bukan menang perang, tapi “untung” dari perang.

Dalam logika investornya, perang bukan hanya tragedi kemanusiaan, meski tentu saja itu tetap tragedi, tetapi juga peristiwa ekonomi yang mengubah arah aliran kapital global. Dan dalam konflik terbaru di sekitar Iran, Kiyosaki menyebut negara-negara yang berpotensi menjadi “pemenang” ekonomi alias yang diuntungkan oleh perang. Salah satunya, yang paling menarik, India.

Mengapa India? Untuk memahami logika Kiyosaki, kita perlu melihat tiga mesin ekonomi geopolitik yang sering tidak disadari orang: energi, logistik, dan diplomasi ekonomi.

-000-

Mesin pertama adalah energi. Dalam dunia modern, minyak bukan sekadar komoditas. Ia adalah darah yang mengalir di seluruh tubuh ekonomi global. Hampir semua aktivitas ekonomi mulai dari transportasi, industri, pertanian, bahkan militer, bergantung pada energi fosil. Maka setiap gangguan pada suplai minyak segera menggetarkan ekonomi dunia.

Konflik Iran menjadi sangat sensitif karena berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi salah satu arteri energi paling penting di planet ini. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut setiap hari. Jika jalur ini terganggu, harga minyak langsung melonjak seperti balon dilepas dari tangan anak kecil.

Di sinilah Rusia tiba-tiba terlihat seperti pemain yang sangat beruntung. Negara itu memiliki cadangan energi raksasa serta jaringan pipa yang tidak bergantung pada Hormuz. Ketika jalur Teluk Persia terganggu, minyak Rusia tetap bisa mengalir ke pasar global. Tanpa menembakkan satu peluru pun, Rusia bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga energi.

Tetapi Rusia hanya menguasai bagian pertama dari permainan ini: suplai. India memainkan permainan yang berbeda.

Mesin kedua adalah logistik energi, khususnya kemampuan mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar bernilai tinggi. Banyak orang mengira bahwa keuntungan terbesar dalam industri minyak berada pada produksi minyak mentah.

Padahal dalam praktiknya, nilai terbesar sering muncul pada tahap pengolahan atau refining. Minyak mentah hanyalah bahan baku. Nilai ekonominya melonjak setelah diubah menjadi bensin, diesel, avtur, dan berbagai produk petrokimia.

India memahami hal ini dengan sangat baik. Negeri itu memiliki jaringan kilang minyak yang sangat besar. Kapasitas penyulingan nasionalnya mencapai lebih dari 250 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Di kota Jamnagar berdiri kompleks kilang terbesar di planet ini, dengan kapasitas lebih dari satu juta barel per hari.

Strateginya sederhana tetapi jenius. India membeli minyak mentah murah terutama dari Rusia yang sedang terkena sanksi Barat. Minyak itu kemudian diolah di kilang domestik menjadi bahan bakar bernilai tinggi. Setelah itu produk tersebut dijual kembali ke pasar internasional yang sedang kekurangan energi.

Secara ekonomi ini seperti membeli singkong murah di desa, mengolahnya menjadi keripik premium, lalu menjualnya di bandara internasional dengan harga sepuluh kali lipat. Di sinilah letak margin keuntungan raksasa itu.

India yang secara teori rentan terhadap kenaikan harga minyak justru bisa memperoleh keuntungan dari krisis energi global. Kiyosaki menyebutnya dengan kalimat yang sangat khas: India bermain catur sementara negara lain bermain dam.

Mesin ketiga adalah diplomasi ekonomi. India menjalankan strategi geopolitik yang sangat fleksibel, semacam politik bebas-aktifnya Indonesia. Mereka tidak mengikat diri secara kaku pada satu blok kekuatan dunia.

India tetap menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat. Pada saat yang sama mereka membeli minyak dari Rusia. Mereka juga menjaga hubungan ekonomi dengan Iran, sekaligus bekerja sama teknologi dengan Israel.

Kombinasi ini membuat India memiliki posisi diplomatik yang sangat unik. Banyak pihak melihat India sebagai jalur komunikasi tidak resmi di tengah ketegangan global.

Dalam bahasa geopolitik modern, ini disebut multi-alignment diplomacy. Negara yang mampu berbicara dengan semua pihak sering kali mendapatkan keuntungan ekonomi terbesar, karena mereka menjadi perantara perdagangan, energi, dan bahkan negosiasi.

-000-

Sekarang mari kita menoleh ke Nusantara.

Indonesia pernah menjadi eksportir minyak penting dunia. Pada era 1970-an sampai 1990-an kita bahkan menjadi anggota OPEC. Ladang minyak Sumatra dan Kalimantan menjadi sumber devisa utama negara.

Namun hari ini situasinya berubah drastis. Indonesia justru menjadi salah satu importir energi besar di Asia. Ironinya, bukan karena kita tidak memiliki sumber daya. Kita masih memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar. Tetapi kita tidak lagi menguasai dua hal yang sangat menentukan dalam ekonomi energi modern: kapasitas pengolahan dan strategi hilirisasi.

Sebagian besar minyak yang kita produksi masih dijual sebagai minyak mentah. Sementara bensin, diesel, dan avtur yang kita gunakan sehari-hari justru banyak diimpor dari luar negeri. Ini seperti menjual kelapa mentah ke luar negeri, lalu membeli santan kalengan dengan harga tiga kali lipat.

Pertanyaannya sederhana tetapi menyakitkan: mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa sebab struktural yang menjelaskan posisi Indonesia sebagai pembeli energi.

Sebab pertama adalah penurunan produksi minyak domestik. Produksi minyak Indonesia pernah mencapai lebih dari 1,6 juta barel per hari pada tahun 1990-an. Tetapi sekarang angka itu turun drastis menjadi sekitar 600 ribu barel per hari. Banyak ladang minyak tua mengalami penurunan produksi alami, sementara eksplorasi ladang baru berjalan lambat.

Sementara itu konsumsi energi domestik terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah kendaraan. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi inilah yang membuat impor menjadi semakin besar.

Sebab kedua adalah kapasitas kilang yang relatif stagnan. Sebagian besar kilang minyak Indonesia dibangun puluhan tahun lalu seperti Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Kapasitasnya relatif kecil dibanding kilang modern di India atau Timur Tengah.

Banyak jenis minyak mentah global tidak bisa diolah secara optimal di kilang lama tanpa modernisasi besar. Akibatnya Indonesia sering memilih mengimpor produk bahan bakar yang sudah jadi daripada mengolah minyak mentah sendiri.

Sebab ketiga adalah keterlambatan hilirisasi energi. Negara seperti India, Korea Selatan, dan Singapura secara agresif membangun industri pengolahan energi sejak dekade 1980-an dan 1990-an.

Indonesia sebenarnya juga memiliki rencana pembangunan kilang baru selama bertahun-tahun. Tetapi banyak proyek tersebut berjalan sangat lambat karena persoalan investasi, regulasi, dan koordinasi kebijakan. Dalam ekonomi energi, keterlambatan beberapa dekade bisa berarti kehilangan posisi strategis.

Sebab keempat adalah perubahan struktur ekonomi domestik. Indonesia berkembang pesat sebagai negara dengan konsumsi energi yang tinggi terutama karena sektor transportasi. Jumlah kendaraan bermotor meningkat tajam setiap tahun.

Artinya kebutuhan bahan bakar tumbuh jauh lebih cepat daripada kapasitas produksi energi nasional. Dalam kondisi seperti ini, impor menjadi pilihan praktis untuk menjaga stabilitas pasokan.

Sebab kelima adalah posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Dalam ekonomi global modern, negara yang paling diuntungkan biasanya adalah negara yang berada pada tahap pengolahan dan distribusi.

Negara yang hanya mengekspor bahan mentah sering kali mendapatkan nilai tambah yang lebih kecil. Inilah sebabnya negara yang hampir tidak memiliki minyak seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura justru bisa menjadi pusat pengolahan energi regional. Singapura bahkan menjadi salah satu hub refining minyak terbesar di dunia meskipun tidak memiliki ladang minyak sama sekali.

-000-

Pelajaran dari analisis Kiyosaki sebenarnya sangat sederhana. Dalam ekonomi energi global, yang menentukan bukan siapa yang memiliki minyak. Yang menentukan adalah siapa yang menguasai tiga hal sekaligus: energi, logistik, dan diplomasi. Rusia menguasai energi. India menguasai kilang. Amerika menguasai perusahaan energi global.

Sementara Indonesia masih berada di tengah perjalanan panjang untuk menemukan kembali strategi energinya.

Dan jika sejarah ekonomi dunia memberi satu pelajaran penting, pelajaran itu barangkali ini: negara yang terlalu lama menunda hilirisasi biasanya bukan hanya kehilangan keuntungan ekonomi.

Mereka juga kehilangan kedaulatan energi. Dan, semua teori geopolitik yang rumit itu akan bermuara pada sesuatu yang sangat sederhana dan sangat nyata bagi masyarakat. Harga bensin di pompa.

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Obituari Dudi Sudibyo

Senin, 16 Maret 2026 | 21:36

Sekda Jateng Diperiksa Kejati

Senin, 16 Maret 2026 | 21:12

Mendes Optimistis Ekonomi Desa Bergerak Bersama Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 21:06

Kopra by Mandiri Pertahankan Gelar Best Trade Finance Provider in Indonesia 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Lebih dari 32 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis Presisi 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Kunjungi Kantor Agrinas, Menkop Godok Operasional Kopdes

Senin, 16 Maret 2026 | 20:49

Media Berperan Penting sebagai Pilar Demokrasi

Senin, 16 Maret 2026 | 19:48

PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di Empat Kota

Senin, 16 Maret 2026 | 19:28

Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

Senin, 16 Maret 2026 | 19:14

Untung dari Perang

Senin, 16 Maret 2026 | 19:05

Selengkapnya