Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

KAMIS, 12 MARET 2026 | 07:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Nilai tukar Dolar AS yang perkasa serta kekhawatiran atas inflasi yang memicu ekspektasi bertahannya suku bunga tinggi sukses menekan harga emas. 

Pada perdagangan Rabu 11 Maret 2026 atau Kamis dini hari WIB, harga emas meredup setelah sempat menguat pada sesi perdagangan sebelumnya. 

Meski tensi geopolitik di Timur Tengah masih menyokong permintaan aset safe haven, tekanan moneter ternyata lebih mendominasi pergerakan pasar.


Berdasarkan laporan Reuters, emas spot turun 0,4 persen ke level 5.169,02 Dolar AS per ons. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman April turun 1,2 persen atau 5.179,10 Dolar AS per ons.

Logam lainnya juga merosot. Perak spot merosot 3,5 persen menjadi 85,34 Dolar AS per ons. Platinum melemah 0,8 persen ke level 2.183,10 Dolar AS per ons, sementara paladium menyusut 1,4 persen menjadi 1.631,59 Dolar AS per ons.

Kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,4 persen turut andil dalam melemahkan daya tarik emas, karena membuat logam kuning ini menjadi lebih mahal bagi para investor yang menggunakan mata uang selain Dolar.

Secara fundamental, emas merupakan instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya cenderung memudar di tengah rezim suku bunga tinggi karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding).

Di sektor lain, pasar energi sedang bergejolak. Harga minyak dunia melambung sekitar 4 persen menyusul serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Meski Badan Energi Internasional berencana melepas cadangan minyak, pasar menilai langkah tersebut belum cukup membendung ancaman krisis pasokan.

Bahkan, Iran memberikan peringatan keras bahwa harga minyak bisa menyentuh angka 200 Dolar AS per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap Israel dan jalur perdagangan laut.

Data inflasi AS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,3% pada Februari, dengan angka tahunan mencapai 2,4 persen. Angka ini sesuai dengan ekspektasi pasar namun menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. 

Kini, fokus investor tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Jumat nanti sebagai kompas utama kebijakan Federal Reserve.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya