Berita

Bupati Pekalongan Fadia Arafiq. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Publika

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

RABU, 11 MARET 2026 | 00:25 WIB

ADA counter narasi dari kubu Fadia Arafiq. “Kok OTT sih, saat kejadian tidak ditemukan uang dekat Bu Fadia?” 

KPK menyebut ini gaya korupsi model baru. Memang tidak ditemukan uang saat Bupati Pekalongan itu ditangkap, namun ada cerita menarik di balik itu. 

Kisah terbaru datang dari anak mendiang A Rafiq mungkin terasa unik. Ia tersangka dugaan korupsi perkaranya pengadaan jasa outsourcing serta berbagai pengadaan barang pada tahun anggaran 2023 sampai 2026. 


Di atas kertas, semuanya tampak administratif. Namun begitu lapisan cerita dibuka, muncul plot yang membuat banyak orang ternganga sambil berkata, “Ini serius?”

Bagian paling spektakuler dari cerita ini adalah kemunculan seorang direktur perusahaan yang latar belakangnya tidak biasa. 

Namanya Rul Bayatun. Ia diketahui bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Fadia. Akan tetapi dalam dokumen perusahaan, ia justru tercatat sebagai Direktur di PT Raja Nusantara Berjaya.

Nuan bayangkan transformasinya. Dari rutinitas rumah tangga langsung naik kelas menjadi pucuk pimpinan perusahaan. 

Kalau ini seminar motivasi, mungkin judulnya “Karier Kilat: Dari Dapur ke Direksi dalam Sekejap.” Namun penyidik menduga cerita sebenarnya tidak sesederhana itu.

Menurut keterangan yang disampaikan Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, Rul memang bekerja sebagai ART di rumah Fadia. 

Dalam pemeriksaan, ia mengaku sering mendapat perintah untuk menarik uang tunai dari rekening perusahaan.

Modusnya terdengar sederhana, tetapi efeknya seperti trik sulap. Rul diminta menarik uang dari bank dalam jumlah tertentu. 

Setelah uang keluar dari rekening perusahaan, ia menyerahkannya sesuai arahan. Kadang kepada Fadia langsung, kadang kepada orang kepercayaan seperti ajudan. 

Bahkan ada foto-foto yang menunjukkan Rul setelah melakukan penarikan tunai tersebut.

Bagi penyidik korupsi, pola ini dikenal sebagai layering. Uang tidak langsung mengalir ke tujuan akhir. Ia diputar dulu lewat berbagai tangan dan rekening agar jejaknya semakin jauh. 

Ibarat menyembunyikan durian di dalam tujuh lapis tas plastik. Aromanya tetap tercium, tetapi mencari sumbernya bisa bikin pusing satu kantor.

Menariknya, ketika operasi tangkap tangan dilakukan terhadap Fadia Arafiq, tidak ditemukan uang tunai seperti yang sering terjadi dalam banyak OTT sebelumnya. 

Tidak ada koper penuh rupiah. Tidak ada tas yang ketika dibuka langsung membuat kamera wartawan berkilat seperti lampu diskotek.

Situasinya tampak relatif bersih. Seolah-olah uangnya menghilang seperti trik pesulap panggung.

Namun setelah penyidik menelusuri transaksi perbankan, cerita mulai terang. 

KPK berkoordinasi dengan pihak bank untuk melihat kapan penarikan tunai dilakukan dari rekening perusahaan. 

Data tersebut kemudian dikonfirmasi kepada saksi, termasuk Rul yang tercatat sebagai direktur.

Ketika ditanya kepada siapa uang itu diberikan, Rul mengaku, dana yang ia tarik dari rekening perusahaan tersebut diserahkan kepada Fadia.

Di titik ini, publik mungkin hanya bisa tertawa getir. Bukan karena lucu, melainkan karena liciknya strategi tersebut. 

Saat OTT terjadi, uang tidak ada di tangan. Namun uang itu sebenarnya sudah berkeliling lebih dulu melalui perantara.

Muncul pertanyaan, kenapa koruptor susah ditangkap?

Melihat cerita ini, jawabannya terasa jelas. Korupsi kadang bukan sekadar soal mengambil uang negara. 

Ia juga tentang strategi, lapisan transaksi, dan kreativitas administrasi yang luar biasa. 

Bahkan sampai mampu menjadikan asisten rumah tangga sebagai direktur perusahaan.

Di negeri ini, rupanya tangga karier bisa sangat cepat, terutama kalau tujuannya bukan menuju sukses, melainkan menyamarkan aliran uang. 

Di situlah drama antikorupsi kembali dimainkan, seperti pertandingan catur panjang antara akal licik dan penyidik yang berusaha membongkarnya.

“Sepertinya cara cerdas Fadia itu terinspirasi dari koruptor-koruptor sebelumnya. Praktiknya hampir semua begitu. Dia lagi apes aja, Bang.”

“Benar lagi apes. KPK semakin canggih, tapi para koruptor tentu terus meng-upgrade kemampuannya, wak.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya