ANDA pasti pernah suuzon saat ada politisi memberikan sumbangan. “Kok tiba-tiba baik ya, pasti karena mau minta dipilih lagi.”
Keikhlasan dalam memberikan sumbangan, belajarlah kepada Abu Thalhah. Harta bernilai tinggi, strategis lagi, ia sumbangan sepenuhnya.
Nama lengkapnya, Zaid bin Sahl bin al-Aswad bin Haram bin Amr bin Malik bin an-Najjar al-Anshari al-Khazraji.
Panjang, berat, dan penuh silsilah bangsawan Anshar dari Bani Khazraj. Namun yang membuat namanya abadi bukanlah panjang nasabnya, melainkan panjang daftar keberanian, kesetiaan, dan kedermawanannya.
Beliau lahir di Yathrib (Madinah) sekitar 585 M, kira-kira sepuluh tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul.
Zaman itu belum ada seminar motivasi, belum ada buku “Cara Cepat Jadi Miliarder Spiritual dalam 7 Hari”. Yang ada hanyalah kehidupan padang pasir yang keras.
Dalam lingkungan seperti itu, Abu Thalhah sudah dikenal sebagai ahli panah kelas elite bahkan sebelum Islam datang.
Jika ada lomba panahan saat itu, kemungkinan besar lawannya sudah gemetar duluan sebelum menarik busur. Ibunya bernama Ubadah binti Malik bin Adi bin Zaid, berasal dari keluarga terpandang di kalangan Anshar.
Masuk Islamnya tidak terjadi lewat debat panjang seperti diskusi panel televisi modern yang sering berakhir tanpa kesimpulan.
Kisahnya jauh lebih elegan sekaligus menampar ego. Semua bermula dari seorang perempuan luar biasa, Ummu Sulaim RA, atau Rumaisha binti Malhan, ibu dari sahabat besar Anas bin Malik RA.
Ketika Abu Thalhah datang melamar, Ummu Sulaim tidak langsung berkata “iya”. Ia berkata dengan tenang tetapi tajam seperti panah: “Aku tertarik padamu, tapi engkau masih musyrik sementara aku Muslimah. Jika engkau masuk Islam, itulah maharku.”
Nuan bayangkan betapa revolusionernya kalimat itu. Mahar bukan emas, bukan kebun kurma, bukan rumah mewah. Mahar berupa iman. Abu Thalhah pulang, menghancurkan berhalanya, lalu mengucapkan syahadat.
Para sahabat sampai berkomentar, mereka belum pernah mendengar mahar yang lebih mulia dari itu.
Jika standar pernikahan zaman sekarang sering dipenuhi daftar panjang seperti rumah, mobil, cincin berlian, paket katering lima ratus tamu, kisah ini seperti tamparan lembut tapi keras bagi peradaban yang kadang lebih sibuk menghitung dekorasi dari menghitung keberkahan.
Setelah masuk Islam, Abu Thalhah berubah menjadi sahabat yang cintanya kepada Rasulullah hampir seperti sistem keamanan pribadi level dewa.
Ia ikut Baiat Aqabah Kedua, lalu turut serta dalam Perang Badar, dan hampir semua pertempuran besar bersama Nabi seperti Uhud, Khandaq, Hunain, dan lainnya.
Adegan paling dramatis terjadi saat Perang Uhud. Ketika sebagian pasukan kacau dan medan perang berubah menjadi kekacauan yang lebih dramatis dari sidang parlemen yang memanas, Abu Thalhah berdiri di depan Rasulullah sebagai tameng hidup.
Ia memanah begitu intens hingga tiga busurnya patah. Dari riwayat Anas bin Malik RA, Abu Thalhah berkata kepada Nabi, “Diriku tebusan untukmu, wajahku tameng untuk wajahmu.” Bahkan ketika Rasulullah mencoba melihat posisi musuh, Abu Thalhah langsung berkata, “Leherku jadi tameng untuk lehermu.”
Rasulullah sampai memuji, suara Abu Thalhah di medan perang lebih baik dari seratus orang pasukan. Jika diterjemahkan ke bahasa modern, satu Abu Thalhah sama dengan satu batalion moral dan keberanian.
Namun puncak kisahnya justru terjadi bukan di medan perang, melainkan di kebun kurma yang sunyi.
Abu Thalhah memiliki banyak kebun di Madinah. Yang paling ia cintai bernama Bairuha’ kebun sangat subur, airnya jernih, buahnya melimpah, dan lokasinya tepat di depan Masjid Nabawi.
Rasulullah bahkan sering masuk ke kebun itu untuk minum airnya. Nilai ekonominya besar, nilai emosionalnya jauh lebih besar.
Lalu turun ayat yang mengguncang hati para sahabat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS Ali Imran: 92)
Banyak orang membaca ayat seperti ini lalu mengangguk khusyuk sambil tetap memeluk dompet. Abu Thalhah berbeda. Ia langsung datang kepada Rasulullah dan berkata bahwa kebun Bairuha’ harta paling ia cintai, ia sedekahkan seluruhnya karena Allah.
Rasulullah bersabda, “Bakh bakh! Itu harta yang menguntungkan.” Nabi kemudian menyarankan agar kebun itu dibagikan kepada kerabat dekat.
Abu Thalhah melaksanakan perintah itu tanpa drama, tanpa konferensi pers, tanpa baliho ucapan “Donasi Ini Dipersembahkan Oleh...”.
Kebun itu dibagikan kepada keluarga dan kerabat, termasuk Hasan bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit RA.
Riwayat ini tercatat sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, juga dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili.
Bandingkan dengan dunia modern. Banyak pejabat sibuk meresmikan bantuan sosial dengan spanduk besar seukuran lapangan sepak bola.
Sementara nilai bantuannya kadang lebih kecil dari biaya cetak spanduknya. Abu Thalhah justru menyedekahkan kebun terbaiknya tanpa slogan, tanpa kamera, tanpa tim pencitraan.
Pada masa Utsman bin Affan RA, meski usia sudah lanjut, Abu Thalhah masih ingin berjihad. Ia bahkan ikut ekspedisi laut sambil mengutip QS At-Taubah: 41, “Berangkatlah baik dalam keadaan ringan maupun berat.”
Beliau wafat pada tahun 34 H (sekitar 655 M) pada usia sekitar 70 tahun. Menurut riwayat Al-Waqidi dalam At-Tabaqat al-Kubra, jenazahnya disalatkan oleh Utsman bin Affan RA.
Sebagian riwayat menyebut ia wafat dalam ekspedisi laut. Sementara mayoritas sejarawan seperti Ibnu Sa’d dan Adz-Dzahabi menyebut tahun 34 H di Madinah dan kemungkinan dimakamkan di Jannatul Baqi’.
Kisah Abu Thalhah adalah pelajaran yang membuat banyak orang modern sedikit gelisah. Sebab ia membuktikan sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat berat, iman sejati sering kali diukur dari apa yang paling sulit kita lepaskan.
Ia tidak hanya berani di medan perang. Ia berani juga melawan cinta dunia. Keberanian jenis kedua itu, bagi sebagian orang, justru jauh lebih menakutkan.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar