Berita

Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, dalam podcast Madilog, Senin, 9 Maret 2026. (Foto: Tangkapan layar Youtube)

Politik

Menakar Sikap Iran dan Inisiatif Presiden Prabowo jadi Mediator

SENIN, 09 MARET 2026 | 20:15 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Eskalasi yang kian memanas di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berupaya diredam pemerintahan Republik Indonesia (RI) lewat perundingan yang ditawarkan Presiden Prabowo Subianto dengan menjadi mediator.

Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi menakar upaya pemerintah kaitannya dengan sikap Iran pasca dibombardir oleh AS bersama-sama dengan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.

Dia memandang, itikad baik Presiden Prabowo untuk menjadi mediator sayangnya tidak selaras dengan kesan yang diperoleh Iran pasca penyerangan AS dan Israel.


"Iran itu sangat kecewa dengan Indonesia sebetulnya. Ada beberapa hal. Kalau yang terbaru tentu terkait dengan perang Iran melawan Amerika ditambah Israel. Indonesia itu tidak mengecam pembunuhan anak-anak sekolah yang masih kecil-kecil. Tidak ada," ujar Siswanto dalam podcast Madilog, Senin, 9 Maret 2026.

Di samping itu, pemerintah RI juga tidak menyampaikan ucapan bela sungkawa di hadapan publik ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei gugur akibat agresi militer AS dan Israel.

"Tidak seperti pemimpin lain itu mengecam. Kemudian walaupun terlambat, baru diucapkan bela sungkawa untuk pemimpin agung Iran. Sementara Iran itu merasa Indonesia teman baiknya. Tetapi teman baik kok seperti ini?" tuturnya.

Ditambah, ungkap Siswanto, Iran juga kecewa dengan Presiden Prabowo yang terpengaruh intervensi AS, terkait kegiatan The 5th Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2025.

"Tiba-tiba ketika sudah sedikit lagi masuk ke perairan kita (kapal Iran), enggak bisa. Ditolak sama sekali. Izinnya dicabut. Kenapa? Presiden Prabowo ditekan oleh Amerika untuk tidak membolehkan kapal Iran terlibat dalam Komodo Exercise," urai Siswanto.

"Kalau tetap dibiarkan ikut, Amerika akan angkat kaki bersama sekutunya dari latihan gabungan itu," sambungnya memperjelas tekanan AS ke pemerintah Indonesia.

Oleh karena kejadian-kejadian tersebut, Siswanto memperkirakan Iran sangat kecewa terhadap Indonesia, terutama terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo, apalagi mengingat Indonesia belakangan sudah berada di dalam Board of Peace (BoP) bentukan AS.

"Jadi agak sulit bagi Iran menawarkan kesempatan kepada Prabowo. Makanya banyak orang bilang, udahlah ngapain. Iran kan nggak mau sama kita. Cuman sepertinya Prabowo mengalami semacam ilusi bahwa dia dibutuhkan oleh Iran. Kehadirannya dibutuhkan oleh Iran," katanya.

"Saya kira ini tidak tepat. Iran tidak butuh siapa-siapa. Apalagi hari ini Iran kecewa terhadap Indonesia. Iran malah menolak bantuan misalnya dari Rusia, alat-alat perang Korea, bantuan uang dari China, Iran tolak. Kita datang mencoba menawarkan diri sebagai mediator. Kata orang, siapa lu? Jadi itu yang terjadi," demikian Siswanto menambahkan.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya