Berita

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Pasar Tanah Abang, Senin, 9 Maret 2026. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Bisnis

Menkeu Purbaya: Boro-boro Krisis, Resesi Saja Belum!

SENIN, 09 MARET 2026 | 14:40 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) disebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang sedang memburuk. 

Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dengan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Maret 2026 tercatat menembus level psikologis tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.017 per dolar AS atau melemah 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat, 6 Maret 2026 yang berada di level Rp16.992 per dolar AS.


Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia tercatat berada di level Rp16.919 per dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah tersebut tidak lepas dari persepsi sebagian pihak yang menilai ekonomi Indonesia tengah menuju resesi. Menurutnya, pandangan tersebut tidak sejalan dengan kondisi aktivitas ekonomi di dalam negeri.

“Rupiah 17 ribu karena sebagian teman-teman ekonomi bilang katanya kita sudah resesi mulai 1998 lagi. Yang itulah, daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian,” ujar Purbaya saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026. 

Ia menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini masih jauh dari krisis. Bahkan menurutnya, tanda-tanda perlambatan ekonomi pun belum terlihat dari aktivitas konsumsi masyarakat.

“Boro-boro krisis. Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” tegasnya.

Untuk melihat kondisi riil ekonomi, Purbaya mengaku mendatangi kawasan perdagangan Tanah Abang guna mengecek langsung aktivitas pasar.

Menurutnya, keramaian transaksi di pusat perdagangan tersebut menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat masih bertahan.

“Kalau data-data kita ekonomi lagi bagus, harusnya di Tanah Abang ada pembelinya. Saya mau cek itu saja betul atau enggak. Ternyata betul, orang masih belanja, pasar masih ramai,” jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan kondisi ekonomi dan berbagai faktor yang dapat memengaruhi stabilitas makro, termasuk pergerakan harga komoditas global. Ia memastikan langkah kebijakan akan diambil secara terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan,” pungkas Purbaya.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya