Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Bilal bin Rabah, dari Budak Jadi Muazin Pertama

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 05:15 WIB

KALIAN dengar ndak ada suara azan bergaya dangdut yang sedang viral. Suatu saat nanti akan ada azan bergaya musik cadas (metal). 

Ada baiknya, kita mengenal sosok Bilal bin Rabah, beliaulah muazin pertama dalam Islam. 

Kalau sejarah punya pengeras suara raksasa, namanya adalah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Bukan influencer. Bukan pejabat. Bukan anak sultan. Tapi mantan budak yang suaranya menembus langit.


Ia lahir sekitar tahun 580 M di Mekah, 43 tahun sebelum Hijrah. Ayahnya Rabah, budak. Ibunya Hamamah, perempuan Habasyah (Etiopia sekarang). 

Bahkan, disebut pernah dari keluarga bangsawan Aksum sebelum roda nasib melemparkannya ke pasar perbudakan. 

Karena garis ibu, Bilal lahir sebagai budak. Sistem sosial waktu itu sederhana tapi kejam. Kalau ibumu budak, ya sudah, masa depanmu sudah ditentukan. Tak ada jalur afirmasi. Tak ada undang-undang anti-diskriminasi. Yang ada hanya cambuk.

Bilal tumbuh di lingkungan Bani Jumah dan diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, elite Quraisy yang alergi terhadap kalimat tauhid. 

Kerja Bilal? Menggembala unta, upah segenggam kurma. Fisiknya tinggi, kulit sangat gelap, mata tajam, suara lantang. Tapi di mata sistem, ia hanya “aset berjalan”.

Lalu datang Islam, membawa konsep paling radikal di Jazirah, semua manusia setara di hadapan Allah. Bukan berdasarkan warna kulit, bukan berdasarkan marga, bukan berdasarkan saldo.

Bilal masuk Islam sekitar usia 30 tahun. Termasuk As-Sabiqun al-Awwalun, urutan ke-5 sampai ke-7 yang beriman. 

Saat itu pengikut Nabi bisa dihitung tanpa perlu spreadsheet. Begitu ketahuan, Umayyah naik pitam. 

Bilal dibaringkan telanjang di pasir Mekah yang panasnya bisa memanggang roti tanpa oven. Dadanya ditindih batu besar yang dipanaskan. Dicambuk. Diseret keliling kota dengan tali di leher oleh anak-anak Quraisy. Dipaksa mencaci Nabi dan memuji Lata-Uzza.

Yang keluar dari mulutnya hanya satu kata, “Ahad… Ahad…”

Satu kata itu lebih berat dari batu di dadanya. Lebih panas dari pasir di punggungnya. Itu bukan slogan kampanye. Itu akidah yang dibayar dengan luka.

Siksaan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tapi iman Bilal tidak retak. Yang retak justru kesombongan sistem lama.

Masuklah Abu Bakr ash-Shiddiq. Ia menawar Bilal. Harga dinaikkan jadi 9 uqiyah emas, kalau dikonversi ke nilai modern, kira-kira setara 200 juta rupiah. 

Umayyah menyindir, “Kalau satu uqiyah pun kau tawar, aku jual.” Abu Bakr menjawab, “Kalau 100 uqiyah pun, tetap kubeli.” 

Setelah dibeli, langsung dimerdekakan karena Allah. Bukan untuk dijadikan buzzer. Bukan untuk kepentingan citra. Dimerdekakan.

Hijrah ke Madinah. Masjid Nabawi berdiri. Lafaz azan diajarkan melalui mimpi Abdullah bin Zaid. 

Nabi memilih Bilal sebagai muazin pertama. Kenapa? Karena suaranya paling keras dan paling menggetarkan. Dari budak yang diseret, menjadi suara resmi peradaban baru. Lima kali sehari, namanya menggema bersama kalimat tauhid.

Ia juga dipercaya sebagai pengurus Baitul Mal, bendahara negara. Ente bayangkan, mantan budak dipercaya mengelola distribusi harta untuk fakir miskin, janda, yatim, musafir. 

Di zaman itu. Ketika dunia luar masih sibuk mengukur manusia dari darah bangsawan.

Lalu klimaksnya, Fathul Makkah, tahun 8 H. Ka’bah dibersihkan dari berhala. Nabi menunjuk Bilal naik ke atasnya dan mengumandangkan azan. 

Suaranya menggema di atas kota yang dulu menyiksanya. Sebagian musyrik menggerutu, “Budak Bani Jumah naik ke Ka’bah!” Tapi sejarah sudah membalik panggung. Yang dulu diinjak kini berdiri di puncak.

Bilal ikut semua peperangan besar. Perang Badar, bahkan turut menjatuhkan Umayyah, mantan tuannya. Uhud, Khandaq, Hunain, Tabuk. 

Ia selalu di sisi Nabi, membawa tombak hadiah dari Najasyi. Dalam hadits sahih Bukhari-Muslim, Nabi bersabda, beliau mendengar suara terompah Bilal di surga. Itu bukan metafora motivasi. Itu jaminan.

Ketika Nabi wafat tahun 11 H, Bilal mencoba azan. Sampai kalimat “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, suaranya tercekat oleh tangis. Ia hanya mampu tiga hari, lalu berhenti. Ia meminta izin kepada Abu Bakr untuk berjihad ke Syam. Di sana ia tinggal di Darayya, dekat Damaskus.

Pada masa Umar bin Khattab, kaum Muslimin memohon agar Bilal azan sekali lagi. Ia pun mengumandangkannya. Para sahabat menangis tersedu, termasuk Umar. 

Azan itu bukan sekadar panggilan salat, tapi mesin waktu yang mengembalikan mereka ke masa Nabi.

Bilal wafat sekitar 17–21 H (638-642 M), sebagian riwayat menyebut 2 Maret 640 M, usia 60-63 tahun. Dimakamkan di Bab ash-Shaghir, Damaskus. Menjelang wafat, ia berkata kepada istrinya, kematian adalah kebahagiaan karena akan bertemu Rasulullah lagi.

Dari budak menjadi Sayyid al-Mu’azzinin. Dari dihina karena warna kulit menjadi simbol anti-rasisme paling otentik dalam sejarah.

Jika hari ini masih ada yang merasa lebih mulia karena jabatan, partai, atau garis keturunan, mungkin mereka perlu belajar dari seorang lelaki yang pernah ditindih batu, tapi tak pernah menindih orang lain. Namanya Bilal. Satu kata warisannya, Ahad.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya