Berita

Wakil Ketua Komisi II DPR Aria Bima. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Rumah Jokowi Jadi ‘Tembok Ratapan Solo’ di Google Maps, PDIP Singgung Pengkultusan

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 14:56 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Fenomena rumah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo yang berubah nama menjadi 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps mendapat sorotan dari Politikus Senior PDIP, Aria Bima.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi PDIP tersebut menilai ekspresi publik di ruang digital merupakan bagian dari praktik demokrasi.

“Apakah itu mendukung Pak Jokowi atau menjerumuskan Pak Jokowi, kan kita juga nggak ngerti. Tapi intinya, demokrasi itu selain terkait pemilu yang jujur dan adil, juga kebebasan berpendapat, termasuk lewat media sosial yang sudah diatur UU ITE,” ujar Aria Bima kepada wartawan, Jumat, 20 Februari 2026.


Namun demikian, Aria menyinggung bahwa dalam dinamika politik belakangan ini masih terlihat gejala pengkultusan individu. Ia mengingatkan pola semacam itu belum tentu berdampak positif bagi figur yang bersangkutan.

Menurutnya, terjadi pergeseran perilaku pemilih, terutama di kalangan generasi muda atau Gen Z. Model pengkultusan tokoh dinilai tidak lagi efektif menarik simpati.

“Model pengkultusan saya kira sudah tidak terlalu mendapatkan respons, terutama dari Gen Z. Sekarang kan tingkat ID partai saja menurun, sementara ID personal meningkat,” jelasnya.

Aria menegaskan bahwa ekspresi publik terhadap pemimpin, termasuk kepada Jokowi, kini lebih mengarah pada ukuran meritokrasi serta kejelasan visi dan misi untuk masa depan bangsa. Ia meyakini masyarakat semakin rasional dalam menilai kepemimpinan.

“Saya melihat bentuk-bentuk ekspresi kepada siapa pun, tidak hanya Pak Jokowi, mulai sekarang ke arah meritokrasi dan hal-hal yang menyangkut visi misi seorang pemimpin untuk bangsa ini ke depan seperti apa,” ujarnya.

Lebih jauh, Aria mewanti-wanti bahaya pengkultusan berlebihan di media sosial. Dalam istilah Jawa, ia menyebut praktik itu bisa menjadi upaya “menjolomprongke” atau justru menjerumuskan seseorang agar menjadi sasaran hujatan publik.

“Tiba-tiba ada orang yang memberikan kultus yang begitu besar, banyak menjolomprongke—orang Jawa bilang—biar jadi hujatan publik. Jadi saya tidak berkomentar mengenai informasi dari media sosial kecuali berita dari media mainstream,” pungkasnya.

Sebelumnya, kediaman mantan Presiden RI, Joko Widodo, di kawasan Sumber, Solo, memicu diskusi publik setelah titik koordinatnya di Google Maps mendadak berubah nama menjadi “Tembok Ratapan Solo.”

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya