Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Bisnis

Konsesi Panas Bumi di Malut Bentuk Inkonsistensi Pemerintah

KAMIS, 19 FEBRUARI 2026 | 06:54 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Ekonom dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Dr. Muhammad Aras Prabowo menilai pemberian izin pengelolaan panas bumi di Telaga Ranu, Halmahera Barat, Maluku Utara kepada PT Ormat Geothermal Indonesia sebuah entitas yang memiliki afiliasi dengan Ormat Technologies Inc yang berakar pada jaringan ekonomi Israel sebagai kebijakan inkonsistensi. 
 
“Kebijakan diambil pemerintah dipersepsikan sebagai inkonsisten dengan komitmen moral dan aspirasi rakyat terutama di isu geopolitik besar seperti perjuangan untuk kemerdekaan Palestina,” kata Aras dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu malam, 18 Februari 2026.
 
Lanjut dia, hal tersebut bisa berujung pada gesekan politik domestik yang meluas. Terlebih ketika kelompok masyarakat sipil, akademisi, dan partai politik telah menyuarakan kekhawatiran terhadap keputusan ini sebagai tindakan yang inkonsisten.
 

 
“Masalah semacam ini bukan sekadar persoalan energi: ia memengaruhi ikon identitas nasional, kemampuan pemerintah untuk menjaga ruang dialog publik, serta stabilitas politik dalam jangka menengah dan panjang,” jelasnya.
 
Aras menilai ada tantangan strategis dalam menyelaraskan tindakan ekonomi dengan keberpihakan Indonesia terhadap Palestina, yang menjadi bagian dari narasi besar kebijakan luar negeri negeri ini. 

“Presiden Prabowo telah menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina dalam berbagai forum internasional. Namun, langkah praktis seperti menyetujui investasi dari pihak yang terhubung langsung atau tidak langsung dengan Israel bisa dipandang sebagai reduksi substansi dari kepemimpinan politik itu sendiri,” ungkap dia.
 
Bagi Aras, keberpihakan politik tidak bisa hanya menjadi slogan diplomatik. Keberpihakan itu harus tercermin dalam kebijakan ekonomi, investasi, dan hubungan bisnis internasional.
 
Secara diplomasi internasional, ia menilai Indonesia kini menghadapi tantangan kredibilitas. 

“Dalam hubungan internasional modern, konsistensi adalah aset strategis. Ketika sebuah negara berbicara tentang nilai kemanusiaan di satu sisi, namun terlihat membuka ruang ekonomi yang kontradiktif dengan nilai tersebut, maka kredibilitas diplomatik itu akan terkikis,” bebernya.
 
Menurutnya, Indonesia bisa menghadapi tekanan dari mitra global jika persepsi internasional semakin menguat bahwa kebijakan negara bergerak tidak konsisten. 

“Hal ini bisa berdampak pada kemampuan diplomatik Indonesia untuk mendapatkan dukungan dalam isu-isu internasional lain, seperti hak asasi manusia, perubahan iklim, dan forum multilateralisme,” tutupnya.
 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya