Berita

Sya'roni. (Foto: Istimewa)

Publika

MBG: Solusi Menjadi Negara Maju

MINGGU, 15 FEBRUARI 2026 | 06:37 WIB | OLEH: SYA'RONI

HINGGA awal Februari 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto telah menjangkau 60 juta penerima manfaat, yaitu anak sekolah, balita, ibu hamil dan ibu menyusui, serta ditambah guru dan tenaga pendidikan. 

Program MBG bertujuan untuk membentuk generasi penerus yang handal, bergizi, dan berdaya saing di level global dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pada akhir 2026, MBG ditargetkan akan menjangkau 82 juta penerima manfaat. Namun di tengah upaya pemerintah mengoptimalkan MBG, banyak kritik dan tudingan negatif dari sejumlah pihak yang bertujuan ingin menghentikan program MBG. 


Belajar pada Jepang

Bangsa Indonesia perlu belajar dari proses kebangkitan Jepang yang hancur total akibat Perang Dunia II. Jepang hanya butuh waktu 20 tahun untuk menjadi raksasa ekonomi dunia. 

Kebangkitan Jepang dimulai dari sektor pendidikan. Setelah luluh-lantak akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, pertanyaan pertama Kaisar Hirohito adalah "berapa jumlah guru yang tersisa?"

Jepang meyakini dengan memiliki guru maka akan bisa mendidik generasi baru yang cerdas untuk membangun kembali teknologi, ekonomi, dan martabat bangsa.

Selain itu, Jepang juga mewajibkan adanya makan siang sekolah (Kyushoku) yang salah satu menu utamanya adalah telur dan susu.

Jepang percaya bahwa dengan memberikan telur kepada siswa merupakan investasi jangka panjang agar generasi penerus memiliki fisik yang kuat untuk bekerja keras membangun negara.

Ini adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara pendidikan (guru) dan gizi (telur/susu) adalah kunci utama kebangkitan sebuah bangsa dari keterpurukan.

MBG adalah Solusi

Sejak merdeka tahun 1945, Indonesia telah membangun sektor pendidikan, dengan menyasar tiga komponen sekaligus yaitu tenaga pendidik, siswa, serta sarana dan prasarana pendidikan. 

Namun hingga 2024, hasilnya belum optimal. Indonesia belum menjadi negara maju. Indonesia masih memiliki angka kemiskinan yang cukup besar. 

Bahkan skor siswa Indonesia pada penilaian pelajar internasional masih menduduki peringkat rendah. Skor PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, hanya mendudukkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara. 

Presiden Prabowo bermaksud meningkatkan kecerdasaan anak-anak Indonesia melalui MBG. Bahwa otak yang cerdas hanya bisa tumbuh dalam tubuh yang sehat.

Namun, niat baik tersebut masih menghadapi banyak kritik. Di antaranya mempertanyakan efektivitas MBG karena terdapat anak-anak yang tidak menghabiskan makanan yang disajikan, sehingga dianggap menghamburkan anggaran negara. 

Sejatinya kalau berpikir dengan jernih, hal tersebut juga terjadi dalam proses belajar mengajar. Bukankah selama ini terdapat anak-anak yang tidak menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru. 

Hal itu membuktikan bahwa daya serap setiap anak berbeda. Demikian juga pada MBG, banyak anak yang bisa menghabiskan makanan yang disajikan. Namun juga terdapat anak yang menyisakan makanannya. 

Fenomena tersebut tidak tepat dijadikan pembenaran untuk menghentikan MBG. Program MBG harus tetap jalan untuk mengiringi proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru di kelas. 

Seiring dengan berjalannya waktu, diharapkan para siswa bisa menyerap keduanya secara optimal, yaitu menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru, dan juga menghabiskan MBG yang disajikan. 

Program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk menjadikan generasi penerus menjadi manusia yang handal, cerdas, dan bersaing global, dalam rangka untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju.

*Ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) 

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya