Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Kementerian Perdagangan menatap tahun 2026 dengan optimisme yang terukur melalui proyeksi pertumbuhan ekspor di kisaran 5,3 persen hingga 6,9 persen.
Angka ini mencerminkan target nilai ekspor barang yang diprediksi menyentuh angka 298,02 miliar Dolar AS hingga 302,55 miliar Dolar AS.
Jika ditambah dengan sektor jasa yang diperkirakan menyumbang 43,61 miliar Dolar AS, maka total kekuatan ekspor Indonesia berpotensi menembus 346,16 miliar Dolar AS, atau berkontribusi lebih dari 22 persen terhadap PDB nasional.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta Pusat, Jumat 6 Februari 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa meskipun angka outlook tersebut terlihat moderat, pemerintah tetap menyimpan ambisi besar di balik layar.
"Tahun depan ini outlook atau perkiraan kita bahwa ekspor kita akan tumbuh 5,3 persen sampai 6,9 persen. Namun, kita optimistis bahwa kita bisa melampaui itu,” ujar Budi.
Penetapan target yang lebih konservatif dibandingkan rencana awal sebesar 7,09 persen ini sengaja dilakukan sebagai langkah realistis dalam menghadapi dinamika pasar global yang sulit ditebak. Namun, pria yang akrab disapa Busan ini menegaskan bahwa tim internal Kemendag tetap memacu kinerja agar bisa melampaui angka-angka di atas kertas.
Strategi utamanya adalah dengan memaksimalkan perjanjian dagang internasional dan menggerakkan peran perwakilan perdagangan di luar negeri sebagai ujung tombak.
“Namun, kita harus optimistis bahwa capaian-capaian yang lebih tinggi dari outlook ini bisa kita lakukan. Tentu dengan segala macam cara, termasuk seperti perjanjian dagang dan juga instrumen teman-teman perwakilan kita yang ada di luar negeri,” tegasnya.
Jika menilik ke belakang, performa ekspor Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 282,91 miliar Dolar AS. Meski angka ini tumbuh 6,15 persen, realisasinya memang masih berada sedikit di bawah target awal 7,1 persen.
Menariknya, pertumbuhan tersebut banyak ditopang oleh sektor nonmigas yang melonjak kuat sebesar 7,66 persen, sementara sektor migas justru mengalami tekanan cukup dalam. Pengalaman tahun lalu inilah yang menjadi fondasi bagi Kemendag untuk meramu strategi ekspor yang lebih lincah dan berdaya saing di tahun ini.