Berita

Buku 'The Secret Life of Money: Kisah Abadi tentang Utang, Kekayaan, Kebahagiaan, Keserakahan, dan Amal'. (Foto: Dokumtasi Penulis)

Resensi

Uang: Tuhan Berwujud Benda

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 06:55 WIB

JUDUL Asli: The Secret Life of Money: Kisah Abadi tentang Utang, Kekayaan, Kebahagiaan, Keserakahan, dan Amal.
Penulis: Tad Crawford.
Genre: Keuangan.
Penerbit: Gemilang Tangerang.
Cetakan: Mei 2023.
Ukuran: 15x23 cm.

Ukuran: 15x23 cm.
Tebal: 296 hlm (2 cm).
Berat: 370 gr.
ISBN: 978-623-8036-06-6.
Harga: Rp. 95.000.

Orang terjenius sepanjang masa adalah penemu uang. Orang tercerdik di dunia adalah penemu kurs bebas. Orang terzalim se alam raya adalah oligarki serakah pengumpul uang. Orang miskin adalah mereka yang tak punya uang. Tetapi, semua punya persamaan riil: mereka menyembah tuhan uang. Lalu, kalian orang apa di semesta ini?

Aku menemukan buku ajib ini tak sengaja. Saat merancang mata kuliah uang, utang dan perang. Di pojok mall langgananku kongkow menyembul mencolok buku ini. Tanpa niat membeli buku pada awalnya, tetapi karya ini membetot mata dan menguras dompetku yang tinggal selembar merah seratus ribu. Aku terhipnotis dan berhasrat yang tidak tak tertahankan.

Buku keren ini lahir dengan menggunakan pendekatan sejarah dan bahkan mitologi. Dengan dua metoda riset itu, Crawford menelusuri sejarah, kisah, mitos, dan bahkan legenda untuk menunjukkan bagaimana pandangan terhadap uang terbentuk dan bertahan lama. Kisah purba yang tidak dipahami banyak orang.

Dunia sejak lama hanya dibagi dua: (1)Yang banyak uang/kaya; (2)Yang banyak utang/miskin. Dunia juga terpapar dua hal: fiskal dan moneter. Dunia juga pada akhirnya diperkosa oleh dua pikiran: valaster dan supremuster.

Rezim valas (juga devisa bebas) adalah ordo bermazhab perdagangan internasional dan kontrol negara via perang mata uang oleh kekuatan keuangan internasional. Rezim inilah pelaku utama "the colonialism did not end..."

Karena itu, valas digunakan sebagai alat tukar internasional juga untuk transaksi jual beli barang dan jasa antar negara sekaligus kontrol nilai uang yang signifikan. Di rezim ini, rukun imannya adalah pasar bebas, devisa bebas, kurs bebas, utang, gadai.

Sedangkan rezim supremuster berpikir sebaliknya bahwa kebijakan harus dilakukan dengan basis kedaulatan negara dan kedaulatan uang, menetapkan tingkat pertumbuhan uang untuk menjaga stabilitas perekonomian dan harga, sambil memproduksi industri dan iptek secara luas.

Karena itu rukun imannya adalah pasar terkelola, devisa berimbang, kurs tetap, printing money dan SWF (Sovereign Wealth Fund). Yang jadi soal, pasca orde lama dan orde baru, pikiran-pikiran supremuster dihilangkan dan diharamkan.

Mengapa itu terjadi? Sebab, reformasi di kita, salah satunya adalah menghadirkan rezim finansial ini sebagai pengganti rezim hibrida yang memberlakukan valas dan moneter dengan terukur. Satu rezim yang memastikan berlakunya sistem ekonomi perbudakan.

Di buku ini, penulis juga menelusuri legenda kata money. Menurutnya, money berasal dari kisah Dewi Moneta atau Juno Moneta (hlm. 13). Ia adalah dewi Romawi kuno yang disembah sebagai pelindung keuangan dan percetakan uang, dengan kuil utamanya di Bukit Capitoline, Roma, yang didirikan pada 344 SM.

Nama "moneta" berasal dari bahasa Latin monere (mengingatkan/menasihati) dan tempat kuil tersebut digunakan sebagai bengkel koin, yang akhirnya menjadi akar kata untuk uang (money) dalam berbagai bahasa.

Membaca buku ini adalah membaca psikologi manusia yang kini menyembah tuhan baru: angka pada benda (koin maupun kertas). Karenanya, buku ini membongkar asumsi tersembunyi manusia terhadap uang, dari zaman Raja Midas hingga kartu kredit, membantu kita memahami hubungan emosional dan makna terdalam uang dalam kehidupan.

Ya. Isi bukunya juga membahas sisi gelap manusia seperti keserakahan dan utang, perang dan penjajahan juga dari sisi positif seperti amal dan moral untuk mencapai keseimbangan.

Sebagai penulis, Tad Crawford berhasil membawa pembaca pada perjalanan yang menarik untuk mengungkap sumber keinginan kita terhadap uang.

Tujuannya jelas, "dengan memahami mengapa uang memiliki kekuatan untuk menguasai manusia, kita mendapatkan kekuatan untuk mengakhiri pola yang merusak dengan menemukan kekayaan jiwa." Penulis ini memang jos. Kita berhutang budi dan keseriusan padanya.


Yudhie Haryono 
CEO Nusantara Centre


Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya