Berita

Saudagar minyak, Riza Chalid dan anaknya, Muhamad Kerry Adrianto Riza. (Foto: Instagram RMOL)

Politik

Aparat Diminta Tindak Tegas Operasi Buzzer yang Lindungi Riza Chalid Cs

SABTU, 31 JANUARI 2026 | 00:28 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) mengaku memiliki data valid terkait dugaan operasi buzzer berbiaya fantastis untuk menggiring opini publik dalam perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah PT Pertamina (Persero) yang kini sudah masuk tahap persidangan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) KAKI, Anshor Mumin mendesak Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Polri untuk tidak tinggal diam, bahkan harus segera memburu para buzzer yang disebut sengaja digerakkan untuk mengaburkan proses hukum.

"Ini kan jelas-jelas merugikan negara. Tiba-tiba ada narasi yang seolah-olah resmi gitu-gitu, pokoknya banyak narasi-narasi yang bertabrakan. Itu kan jelas buzzer kalau begitu, dan data itu kita dapat," kata Anshor kepada RMOL di Jakarta, Jumat malam, 30 Januari 2026.


Ia menjelaskan, gerakan buzzer itu diduga berkaitan dengan pihak pengusaha Riza Chalid dan putranya, Muhammad Kerry Adrianto Riza, yang disebut sebagai Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa.

Menurut Anshor, pola narasi di media sosial bukan lagi sekadar pembelaan biasa, tetapi sudah mengarah pada upaya sistematis membentuk opini menyesatkan demi melindungi pihak tertentu dari jerat hukum.

Salah satu narasi yang disorot, kata dia, adalah upaya menggambarkan bahwa Riza Chalid dan Kerry tidak terlibat dalam perkara korupsi, serta dicitrakan sebagai pengusaha yang memiliki usaha di Pertamina secara legal dan bersih.

Padahal di sisi lain, ia menekankan fakta persidangan justru memunculkan angka kerugian negara yang sangat besar. Ia merujuk pada pernyataan jaksa penuntut umum di pengadilan.

"Berdasarkan keterangan ahli di persidangan, total keseluruhan kerugian dalam perkara ini mencapai angka Rp285 triliun," terang Anshor mengutip pernyataan JPU.

Nilai tersebut terdiri dari komponen kerugian keuangan negara yang dihitung oleh BPK sebesar 2,7 miliar dolar AS dan Rp25,4 triliun.

Atas dasar itu, KAKI menilai munculnya gelombang narasi pembelaan di ruang publik justru janggal dan patut dicurigai sebagai operasi terorganisir.

"Karena itu para buzzer yang diduga disewa oleh Kerry dan Riza Chalid diduga dengan bayaran puluhan miliar atau sekitar Rp88,4 miliar bisa dikenakan pasal perintangan proses hukum dalam perkara tindak pidana korupsi, karena pasal perintangan karena terlibat dalam pemufakatan jahat sejak dimulainya persidangan," ungkap Anshor.

Ia menilai, penyebaran opini melalui TikTok, Instagram, X alias Twitter, media online hingga siaran televisi yang menyerang kinerja penyidik dan penuntut umum, sudah masuk kategori mengganggu proses penegakan hukum.

"Para Buzzer dapat kenakan unsur sisi unsur bersama-sama di Pasal 55 KUHP tentang turut serta melakukan perbuatan, sesuai Pasal 21 tentang perintangan. Itu bahwa bermufakat jahat untuk melakukan perintangan terhadap proses penanganan perkara," ujarnya.

Bahkan, Anshor menyebut dugaan adanya peran langsung Riza Chalid dan putranya dalam pengondisian opini tersebut.

"Dan diduga Riza Chalid yang merupakan DPO kasus tersebut dan putranya merekrut dan mengerahkan para buzzer, dengan tujuan untuk menciptakan narasi negatif terhadap Kejaksaan Agung demi menghalangi bahkan menggagalkan proses penanganan perkara korupsi tersebut," terangnya.

Terkait angka Rp88,4 miliar yang disebut sebagai biaya buzzer, Anshor memastikan pihaknya memiliki data. KAKI juga membuka opsi membawa temuan tersebut ke ranah hukum.

"Iya ada datanya kita, valid. Ya kita akan ke situ (buat laporan resmi), kita lihat tanggapan dulu. Kalau ada kemungkinan kita serahkan, kita serahkan. Tapi kan data itu kita simpan baik-baik," pungkas Anshor.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya