Berita

Diskusi bertajuk “Akuntabilitas Pemberantasan Korupsi: Mungkinkah Membersihkan dengan Sapu Kotor?” di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Januari 2026. (Foto: Dokumentasi JAMKI)

Hukum

Penegakan Hukum Alami Kekacauan: Tidak Viral, Tidak Ada Keadilan

SELASA, 27 JANUARI 2026 | 19:59 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Praktisi hukum Firman Tendry menilai penegakan hukum di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. 

Ia menyebut praktik hukum nasional mengalami judicial disarray atau kekacauan, ditandai dengan hukum yang fleksibel, transaksional, dan sangat bergantung pada tekanan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Firman dalam diskusi publik bertajuk “Akuntabilitas Pemberantasan Korupsi: Mungkinkah Membersihkan dengan Sapu Kotor?” yang digelar Jaringan Aktivis dan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (JAMKI) yang dimoderatori Carlos Wawo di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Januari 2026.


Ia menyoroti fenomena aparat penegak hukum yang baru bergerak ketika suatu perkara menjadi viral.

"Kalau tidak viral, tidak ada keadilan. No viral, no justice," kata Firman.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hukum tidak berjalan karena sistem, melainkan karena tekanan publik.

Ia juga menyinggung banyaknya nama tokoh nasional yang disebut dalam berbagai perkara, namun tidak pernah benar-benar diproses secara hukum. Firman menilai, selama suatu negara tidak mampu mengadili presidennya, maka penegakan hukum tidak akan pernah berjalan secara setara.

"Jangan berharap lah dari aparat penegak hukum dan institusi penegakan hukum, jangan berharap. Yang patut kita harapkan adalah terjadinya perubahan secara mendasar dan radikal untuk memberikan republik ini dari republik kekuasaan yang berdasarkan pada hukum," tegas Firman.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santosa menilai penegakan hukum oleh tiga institusi utama, KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian belum berjalan maksimal dan konsisten. 

Ia menyebut penegakan hukum yang selektif dan sarat kepentingan berpotensi menjadikan hukum sebagai alat politik.

"Kalau penegakan hukum dijalankan dengan sapu yang kotor, yang terjadi bukan pembersihan, tapi pemindahan kotoran ke tempat lain," kata Sugeng.

Sugeng juga menyoroti pola kerja Kejaksaan Agung yang dinilainya tidak transparan dan sulit dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan pemantauan IPW, ia menyebut terdapat dugaan pola penyalahgunaan kewenangan yang sistematis di lingkungan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), termasuk praktik penyortiran perkara dan keterlibatan jaringan perantara.

Salah satu kasus yang disorot Sugeng adalah perkara Zarof Ricar, di mana penggeledahan menemukan uang sekitar Rp915 miliar dan emas 51 kilogram. Zarof Ricar yang merupakan pejabat non-yudisial Mahkamah Agung diduga berperan sebagai perantara dalam praktik percaloan perkara. 

Ia juga mengkritik penggunaan pasal gratifikasi dalam perkara Sugar Group yang dinilainya berpotensi melindungi pihak-pihak tertentu.

Sementara itu dari kalangan mahasiswa, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Salma Mawavi menekankan pentingnya perubahan strategi gerakan antikorupsi mahasiswa.

Salma menilai aksi massa tanpa pengawalan data dan bukti hukum hanya akan berhenti pada simbolisme.

"Ketika mahasiswa aksi seringkali terjadi adanya dokumen yang tidak jelas. Kemudian tidak disertai dengan kronologi kasus yang jelas. Kemudian tidak melihat secara jelas atau melihat target advokasi secara spesifik. Maka akibatnya tuntutan mahasiswa itu menjadi persoalan hanya lupa emosi sesaat saja," pungkas Salma.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya