Berita

Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono Pingsan di Tengah Upacara Pelepasan Korban Pesawat ATR. (Foto: Tangkapan Layar)

Publika

Menteri Sakti Ambruk

SENIN, 26 JANUARI 2026 | 02:12 WIB

TIGA jenazah ada di depan. Pihak keluarga sedang membacakan pesan. Saat itulah, tubuhnya ambruk ke lantai, pingsan. Itulah yang menimpa Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono.

Pukul 09.20 WIB, Minggu pagi, 25 Januari 2026. Jam di dinding Auditorium Madidihang, Akademi Usaha Perikanan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terus berdetak tanpa empati. 

Di depan ruangan, tiga peti jenazah terbaring sejajar. Rapi. Terlalu rapi untuk sebuah tragedi. Merah putih membungkus tubuh Ferry Irawan, Yoga Naufal, dan Kapten Andy Dahananto. 


Tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang berangkat bekerja dengan pesawat ATR 42-500, lalu pulang sebagai nama di nisan setelah pesawat itu menghantam Gunung Bulusaraung, Maros. 

Suasana khidmat bukan kata yang cukup. Ini adalah kesunyian yang berat, sunyi yang menekan pelipis, sunyi yang membuat orang takut bernapas terlalu keras. 

Keluarga korban duduk di barisan depan. Wajah-wajah yang semalam mungkin masih berharap keajaiban, pagi itu resmi kehilangan hak untuk berharap. Seorang ibu menatap peti anaknya tanpa berkedip, seolah takut jika ia menutup mata, kenyataan akan berubah jadi mimpi buruk yang tak bisa diakhiri.

Menteri KKP, Sakti, berdiri di podium. Jasnya rapi, sikapnya tegak, tapi wajahnya memikul beban yang tidak pernah tertulis di buku protokoler negara. Di hadapannya, tiga peti jenazah. Di belakangnya, negara. 

Di sekelilingnya, duka yang tak bisa dinegosiasikan. Kata-kata tentang pengabdian, tentang tugas, tentang kehilangan, meluncur dari podium seperti peluru yang pelan-pelan mengoyak hati semua yang mendengar.

Lalu tubuh manusia itu menyerah.

Tanpa aba-aba panjang, tanpa drama buatan, Menteri Sakti tiba-tiba ambruk di depan peti-peti jenazah. Bukan tersandung. Bukan salah langkah. Ia jatuh karena tubuhnya kalah menahan berat peristiwa. 

Detik itu, simbol negara runtuh di hadapan kematian. Seolah duka yang selama ini ditahan rapi akhirnya menuntut balas dengan cara paling sunyi, membuat tubuh berhenti berdiri.

Teriakan “Allahuakbar” pecah dari keluarga korban. Bukan pekikan iman yang gagah, tapi jeritan pasrah yang keluar dari dada-dada yang sudah robek. 

Suasana yang semula khidmat berubah jadi tegang. Panik berlari di antara kursi. Petugas medis bergerak cepat, mengevakuasi Menteri ke ambulans yang menunggu di luar. Negara kembali bergerak sesuai prosedur, karena bahkan ketika seseorang pingsan di tengah duka, jadwal tetap harus berjalan.

Upacara sempat terhenti beberapa menit. Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi keluarga korban. 

Lalu Wakil Menteri KKP, Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, mengambil alih. Upacara dilanjutkan. Tiga jenazah tetap dilepas. Negara tetap berbicara. Merah putih tetap berkibar. Semua tampak normal, kecuali hati orang-orang yang telah runtuh permanen.

Belum ada keterangan resmi tentang kondisi kesehatan Menteri setelah kejadian itu. Yang ada hanya kepastian, ia langsung dibawa ke ambulans untuk pemeriksaan medis. 

Tapi pagi itu, publik menyaksikan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar kabar kesehatan seorang pejabat. Kita menyaksikan bagaimana duka bisa merobohkan siapa pun, bahkan mereka yang berdiri paling depan membawa nama negara.

Ironinya, tiga peti jenazah tidak bergerak sedikit pun saat Menteri jatuh. Ferry, Yoga, dan Kapten Andy sudah selesai dengan urusan dunia. 

Yang masih harus menanggung semuanya adalah yang hidup, istri yang pulang dengan pelukan kosong, anak-anak yang tumbuh dengan foto di dinding, dan negara yang sekali lagi belajar, terlambat, bahwa pengabdian sering kali berakhir dengan kesunyian, air mata, dan upacara yang tetap harus selesai tepat waktu.

Pagi itu, Auditorium Madidihang bukan sekadar tempat pelepasan jenazah. Ia menjadi saksi, duka tidak mengenal jabatan. Kematian selalu datang dengan cara paling kejam, membuat kita menangis diam-diam, bahkan ketika protokol meminta kita tetap berdiri tegak.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

UPDATE

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58

Malaysia Lolos Selat Hormuz, Indonesia Masih Tahap Lobi

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:56

Pemerintah Harus Siapkan Langkah Terukur Antisipasi Krisis Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:26

Doa di KM 50, PUI Singgung Dugaan Pengaburan Fakta

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:24

Perintah Trump Lumpuhkan Listrik Iran adalah Kejahatan Perang

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:11

Pemulihan Pascabencana di Sumut Masih Tahap Perencanaan

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:43

Perbakin DKI-Jabar-Banten Gelar Kejuaraan Menembak Multi Event 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:23

Awalil Rizky Wanti-wanti Dampak Lonjakan Energi Global terhadap RI

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:14

Wali Kota Pendudukan Kiryat Shmona Murka ke Netanyahu Cs

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:11

Optimisme Purbaya Harus Dibarengi Kinerja Nyata

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:48

Selengkapnya