Berita

Raymond Westerling. (Foto: grid.id)

Histoire

Psikopat yang Mengaku Ratu Adil

JUMAT, 23 JANUARI 2026 | 07:18 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

TEPAT 76 tahun yang lalu, pada 23 Januari 1950, percobaan kudeta bergulir setelah adanya pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling melaksanakan aksinya di Bandung.

Usai melakukan pembunuhan dan teror kepada rakyat di Bandung, APRA mencoba menggulingkan Kabinet RIS. Mereka merencanakan untuk membunuh beberapa tokoh republik terkemuka, termasuk Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwana IX dan Sekretaris-Jenderal Ali Budiardjo. Namun, upaya tersebut gagal dan banyak pasukan Westerling tewas dan diamankan TNI.

Bertopeng Mitos Ratu Adil


Mitos Ratu Adil sesuai ramalan Raja Kediri, Jayabaya di abad-11 sangat melekat bagi rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Ratu Adil diyakini sebagai penjelmaan seorang pimpinan yang bisa membawa keadilan bagi rakyat.

Entah dapat inspirasi dari mana, istilah ini dipakai Raymond Westerling buat menamakan organisasi yang dibentuknya pada 1949. Westerling merupakan mantan komandan Depot Speciale Troepen, sebuah Pasukan Khusus Baret Hijau KNIL. Dilihat dari kapasitasnya, Westerlin tentu bukan tentara kaleng-kaleng. Pria kelahiran 31 Agustus 1919 yang memiliki darah Turki ini memiliki ketajaman naluri tempur serta tingkat intelegensi tinggi.

Ketika pecah Perang Dunia II, Westerling mendaftar sebagai Anggota Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Ia pun sempat mengalami bertempur dengan Pasukan Nazi-Jerman, sebelum akhirnya tanah air yang dicintainya jatuh ke tangan Hitler.

Psikopat Pembantai Rakyat

Usai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda yang tidak mau kehilangan negeri subur ini mengirim bala tentaranya untuk melancarkan ekspansi. Berawal dengan membonceng Sekutu, akhirnya ribuan tentara NICA masuk ke Indonesia.

Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST. Dia mendirikan markasnya di Mattoangin. Di sini dia menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) sebagai aksi polisionil dengan caranya sendiri. 

Sorot matanya yang tajam tidak pernah mengindahkan kaidah hukum perang internasional. Kurun waktu 1947-1948, terjadilah pembantaian ribuan rakyat Indonesia di Sulawesi Selatan. Otaknya, tidak lain ialah Si Belanda-Turki.
Di kalangan Tentara Belanda, nama Westerling makin tersohor. Ia disebut-sebut sebagai anak kesayangan Jenderal Spoor

Tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen - KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit terjun payung. Westerling kini memegang komando pasukan yang lebih besar dan hebat. 

Setelah Persetujuan Renville, anggota pasukan KST ditugaskan juga untuk melakukan patroli dan pembersihan, antara lain di Jawa Barat. Namun sama seperti di Sulawesi Selatan, banyak anak buah Westerling melakukan pembunuhan sewenang-wenang terhadap penduduk di Jawa Barat. Perbuatan ini telah menimbulkan protes di kalangan tentara KL (Koninklijke Leger) dari Belanda, yang semuanya terdiri dari pemuda wajib militer dan sukarelawan Belanda.

Jawa Barat sendiri kala itu sedang terjadi kekosongan tentara usai Divisi Siliwangi dipaksa Hijrah ke Ibukota RI Yogyakarta. Di Tanah Pasundan, hanya ada laskar-laskar yang tersisa untuk mempertahankan wilayah, di antaranya pasukan SM Kartosuwiryo yang berpusat di Tasikmalaya-Garut dan pasukan KH Noor Ali dengan Karawang-Bekasi sebagai basis pertahanannya.

Pada 13-16 April 1948, berdasarkan laporan Tentara Belanda, pasukan KST pimpinan Westerling telah membantai 10 orang penduduk tanpa alasan yang jelas. Dan kemudian mayatnya dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Westerling pun sempat diperiksa namun lolos dari jeratan hukum militer. Ia kembali bertugas di Bandung hingga penandatanganan Konferensi Meja Bundar pada 1949.

Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA).

Kudeta 23 Januari

Secara diam-diam, APRA menjadi basis kekuatan bersenjata yang akan digunakan untuk memukul Republik Indonesia. Hal itu terealisasi pada 23 Januari 1950, dalam usaha yang dikenal sebagai "Kudeta 23 Januari". Bahkan rencana itu turut dirancang bersama Sultan Hamid II yang sering ditemuinya di Jakarta. 

Secara membabi buta, Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI dari Divisi Siliwangi tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong.

Atas tindakan itu, Angkatan Perang RI di pusat bertindak cepat untuk memukul pasukan APRA. Pada 24 Januari 1950, Westerling bertemu kembali dengan Sultan Hamid II untuk membicarakan kelanjutan kudeta, namun tidak mendapat respons yang baik. Westerling akhirnya menjadi buron hingga mampu bertolak ke Singapura dengan menumpang pesawat Catalina.

Westerling lantas kembali ke tanah airnya dan mendapat suaka dari pemerintah Belanda. Ia wafat pada 1987. Beberapa kali Pemerintah RI meminta Belanda untuk menyerahkan Westerling namun tak pernah terlaksana. Nama Westerling tetap melegenda dengan catatan kelam sebagai perwira haus darah yang telah memakan banyak korban dari rakyat Indonesia.     


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya