Berita

Publika

Satu Tarikan Nafas Lord Rangga, Trump, Putin, dan Xi Jinping

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 16:25 WIB

PERUBAHAN geopolitik global pada dua dekade terakhir tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material negara ekonomi, militer, atau teknologi melainkan juga oleh figur-figur yang mempersonifikasikan kekuasaan dengan gaya komunikasi dan simbolisme yang kuat. 

Fenomena ini tampak jelas ketika publik global memperbincangkan tokoh-tokoh yang, meski berasal dari konteks politik berbeda, sama-sama memanfaatkan narasi identitas, ketegasan personal, dan penciptaan musuh bersama. Dalam spektrum tersebut, dunia menyaksikan kemunculan figur seperti Lord Rangga, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping, empat nama yang sering dipertautkan dalam diskursus publik, meski bobot geopolitiknya sangat berbeda.

Lord Rangga, yang dikenal luas melalui klaim simbolik “Sunda Empire”, tidak memiliki kekuasaan negara. Namun, kemunculannya penting sebagai gejala sosial-politik bagaimana ketidakpastian global dan kekecewaan terhadap institusi formal dapat melahirkan figur pseudo-otoritatif yang memanfaatkan sejarah alternatif dan bahasa kebesaran. Ia merepresentasikan dimensi mikro dari fenomena global dimana politik sebagai pertunjukan (political spectacle), di mana simbol dan narasi sering kali lebih beresonansi dibandingkan fakta kebijakan. 


Sebaliknya, Donald Trump muncul dari pusat kekuatan dunia. Terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2016, Trump membawa gaya populisme nasionalis yang menantang tatanan liberal internasional. Slogan “America First” menandai pergeseran signifikan mulai penarikan dari perjanjian multilateral tertentu, skeptisisme terhadap aliansi tradisional, serta penggunaan retorika konfrontatif dalam diplomasi. Dalam konteks geopolitik, Trump menunjukkan bagaimana demokrasi mapan pun dapat menghasilkan kepemimpinan yang mengandalkan personalisasi kekuasaan dan komunikasi langsung terutama melalui media sosial untuk membentuk opini publik domestik dan internasional.

Vladimir Putin menawarkan model yang berbeda namun sama kuatnya. Sejak awal 2000-an, Putin membangun kembali negara Rusia dengan mengonsolidasikan kekuasaan, menata ulang elit politik, dan menempatkan stabilitas sebagai nilai utama. Di arena global, Rusia di bawah Putin menantang dominasi Barat melalui kebijakan luar negeri yang asertif, termasuk di Eropa Timur dan Timur Tengah. Putin mempersonifikasikan kebangkitan negara kuat (strong state) yang menolak intervensi nilai liberal universal dan menegaskan kedaulatan sebagai prinsip tertinggi. Dalam kerangka geopolitik, ia adalah simbol perlawanan terhadap tatanan unipolar pasca-Perang Dingin.

Sementara Xi Jinping, di sisi lain, merepresentasikan transformasi struktural jangka panjang. Kepemimpinannya menandai konsolidasi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok sekaligus ekspansi pengaruh global melalui ekonomi, teknologi, dan diplomasi. Inisiatif seperti Belt and Road Initiative memperlihatkan pendekatan sistemik, bukan sekadar retorika, melainkan pembangunan jejaring infrastruktur dan keuangan lintas benua. Xi menggabungkan legitimasi ideologis, kapasitas negara, dan visi strategis jangka panjang untuk menempatkan Tiongkok sebagai pusat baru gravitasi geopolitik dunia.

Mengapa keempat figur ini kerap dibicarakan dalam satu tarikan napas?Jawabannya terletak pada kesamaan metode simbolik, bukan kesetaraan kekuasaan. Mereka memanfaatkan narasi kejayaan masa lalu baik yang faktual maupun imajiner untuk menjawab kecemasan masa kini. 

Dalam situasi global yang ditandai krisis ekonomi, disrupsi teknologi, dan konflik identitas, publik cenderung merespons figur yang menawarkan kepastian, kesederhanaan pesan, dan personifikasi solusi.

Namun, konsekuensi geopolitiknya sangat berbeda. Lord Rangga berhenti pada level wacana dan hiburan politik, dengan dampak terbatas pada tatanan negara. Trump, meski beroperasi dalam sistem checks and balances, sempat mengguncang kepercayaan terhadap multilateralisme dan memperdalam polarisasi global. Putin dan Xi, dengan kontrol negara yang kuat, mampu mengubah peta kekuatan regional dan global secara nyata melalui kebijakan energi, militer, teknologi, dan ekonomi.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran dari geopolitik berbasis institusi menuju geopolitik berbasis figur. Ketika pemimpin menjadi simbol utama negara, stabilitas global menjadi sangat bergantung pada persepsi, gaya komunikasi, dan keputusan personal mereka. Risiko salah kalkulasi meningkat, tetapi di saat yang sama, kejelasan arah juga bisa muncul lebih cepat dibandingkan diplomasi birokratis yang lamban.

Bagi dunia, tantangannya adalah membedakan antara kekuatan simbolik dan kekuatan struktural. Tidak semua figur yang lantang memiliki kapasitas mengubah sistem, dan tidak semua pemimpin yang senyap kehilangan pengaruh. Analisis geopolitik yang matang menuntut pemahaman atas konteks institusional, sumber daya, dan legitimasi yang menopang setiap figur.

Pada akhirnya, Lord Rangga, Trump, Putin, dan Xi Jinping adalah cermin dari zaman yang sama yaitu era ketidakpastian global yang mendorong personalisasi kekuasaan. 

Dari Indonesia hingga Washington, dari Moskow hingga Beijing, politik tidak lagi semata-mata soal kebijakan, melainkan tentang cerita yang dipercaya publik. Di sinilah geopolitik abad ke-21 bergerak di persimpangan antara fakta kekuasaan dan kekuatan narasi.

Safriady
Pemerhati isu strategis.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

27 Ton Bantuan Korban Gempa NTT Diberangkatkan dari Lanud Halim

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:57

Merdeka dan Menderita

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:23

Legislator PDIP Dorong Penguatan SKK Migas Lewat Revisi UU 22/2001

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:59

TelkomGroup Tancap Gas Perbaiki Layanan Pascagempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:32

Malam Renungan Suci

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:17

DOB Bekasi Utara Sangat Penting, Ini Alasannya

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:45

Jebolan Akmil 2003 Ini Siap Komandani Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:23

Koperasi dan Cacat Epistemologis Pemahaman

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:47

Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler di Jakut

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20

Buku ‘Transformasi Tata Kelola Perikanan Indonesia’ Jawab Masalah Ekonomi Biru hingga PIT

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:55

Selengkapnya