Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Harapan dan Saksi Bisu di Tengah Krisis

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 01:24 WIB

AKU teronggok pilu di kastil tua yang hampir roboh. Lereng Gunung Salak, Bogor. Membawa 2 novel untuk menemani, tetapi bahkan jendela pun tak lagi bisa dibuka, atap rumbianya terkelupas diterjang tua bin renta.

Ya, mirip tubuh ringkihku. Jiwa yang mati karena tak berharap lagi apapun dari dunia. Jika bertemu kawan, aku berseru: selamat tinggal. Doaku ini hari terakhir bertemu.

Bagaimana tidak putus asa dan jijik? Di sekitar kita banjir sinetron meliuk-liuk yang membentuk rakyat miskin perlahan ambruk. Negeri ini dikutuk oleh banjirnya tokoh kemaruk yang kerja ngeruk tak puas semilyar truk. Bikin orkestra dengan kabinet berkualitas sangat-sangat buruk. 


Bikin masa depan ambruk terpuruk. Kisah elite-silite di republik itu dibikin makin ramai, sensasional, jahil dan melelahkan. 

Akhirnya, di kuburan itu, aku membaca novel "Bedebah Di Ujung Tanduk" serta novel "Tanah Para Bandit." Tidak seperti peziarah pada umumnya yang membaca kitab-kitab purba yang mereka sucikan tanpa argumentasi jelas dan masuk akal. 

Tetapi, kekasihku memang telah lama mati. Ditelan bencana tak terperi. Ngungun aku menyusulnya, tapi belum sampai juga. Entah bagaimana biar cepat bertemu.

Kata Tere Liye (2023), penulis 2 novel ini, "Di negeri para bedebah, pencuri dan perampok bagai musang berbulu domba. Di depan, wajah mereka tersenyum penuh pencitraan, tetapi di belakang penuh tipu-tipu. Di Negeri Ujung Tanduk, pencuri dan perampok berkeliaran menjadi penegak hukum. Di depan, di belakang, mereka tidak malu-malu lagi: gotong nyolong.

Di Tanah Para Bandit, walau semuanya amoral tetap ada yang bisa dipelajari, yaitu perkawanan sejati dan kehormatan. Ada saja, setidaknya dalam situasi apa pun, petarung sejati (saat perang dan bertempur) akan terus memilih kehormatan hidupnya, bahkan ketika nasib di ujung tanduk. Dia akan terus bertarung habis-habisan bersama sahabat sejati. Sehidup semati. Berkalang tanah.

Mungkin karena esok, matahari akan terbit sekali lagi bersama harapan. Sebab, tak ada lagi yang bisa mengikat kesetiaan mereka kecuali harapan. Dari harapan itulah, timbul dorongan, usaha, kerja plus doa.

Kalian tahu? Doa, harapan dan kerja itulah trisula maut milik manusia yang tersisa, walau mereka para penjahat sekalipun. Tetapi, doa siapakah yang akan dikabul semesta? Entah. Sulit dicari kepastiannya.

Tentu karena republik ini masuk terlalu dalam pada obrolan ecek-ecek dan tak hirau masa depan. Tak ada lagi pembicaraan kapan menaklukan Amerika, kapan bikin peradaban di planet Mars, kapan tak menemukan kaum miskin dan bodoh di Nusantara.

Ribut milyaran jam hanya kertas dan dolar. Kita habis waktu dan tenaga dalam putaran tak progresif. Mengira maju, tetapi mundur. Mengira bahagia, padahal fatamorgana. Mengira kaya, tapi dalam tempurung.

Maka, kisah-kisah berikut tak membuat bangkit. Lemuria sudah hilang, Atlantis sudah lenyap, Nusantara sudah runtuh, Indonesia (raksasa) sedang rapuh secara perlahan–terjerat utang, kehilangan arah, dan hidup di bawah bayang-bayang masa lalu yang gemilang. Jakarta dan Sundaland bukan lagi simbol kejayaan, melainkan saksi bisu dari krisis yang menjijikkan.

Kebon kini gundul. Tanah makin berlubang. Tumbuhan mengerdil. Ternak tak sudi beranak. Hujan tak bersahabat. Musim makin tak beraturan. KKN menjadi agama. Moral tinggal cerita. Parpol jadi sumber penjahat. Serdadu menyembah dolar. Ormas berebut nasi bungkus. Sekolahan hanya mencetak babu.

Aku semedi di kastil. Aku menangis di kuburan. Di ujung waktu, di sisa umur aku rindu dentuman. Kangen percakapan besar. Mimpi mencipta arus. Agar tak ajek pada nista ketidakwarasan.

Yudhie Haryono 
Presidium Forum Negarawan


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Sidang 6 Agustus Bukan Kemenangan yang Dianulir

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:05

Jakarta Libatkan Kawasan Aglomerasi dalam Lestarikan Budaya Betawi

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:01

Pengurangan Timbulan Sampah Plastik Bisa Dimulai dari Pasar Tradisional

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:44

Timnas Garuda Bidik Tiga Poin dari Timor Leste

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:17

Hariman hingga Bursah Zarnubi Ramaikan Peluncuran Enam Buku Isti Nugroho

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:00

Wakapolri-Wamenhut Konsolidasi Hadapi El Nino dan Karhutla

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:23

Pembunuh Perempuan di Kamar Kos di Grogol Petamburan Dibekuk

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:13

Fahira Idris Sodorkan Tujuh Rekomendasi Bangun Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:02

Kawasan Transmigrasi Harus Punya Daya Tarik Investasi

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:39

Peluncuran Enam Buku

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:28

Selengkapnya