Berita

Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI) Rasminto. (Foto: Dokumentasi HSI)

Politik

Krisis Geopolitik Global Alarm Keras Ketahanan Nasional Indonesia

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 23:00 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pengamat geopolitik dan akademisi Rasminto menilai dinamika krisis geopolitik global yang ditandai dengan penangkapan Presiden Venezuela harus dibaca sebagai peringatan serius bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Hal itu untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.

Menurut Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI) ini, peristiwa tersebut mencerminkan adanya pergeseran tata hubungan internasional, dari tatanan berbasis hukum internasional menuju praktik politik kekuatan yang semakin terbuka.


“Perubahan geopolitik global saat ini menuntut bangsa ini untuk lebih waspada dan mawas diri. Prinsip kedaulatan negara semakin rentan ketika berhadapan dengan kepentingan strategis kekuatan besar, sementara norma hukum internasional tidak lagi sepenuhnya menjadi rujukan utama,” ujar Rasminto dalam paparannya pada Kuliah Umum Universitas Quality Medan bertajuk Dampak Krisis Geopolitik Global terhadap Ketahanan Nasional yang digelar secara daring, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menjelaskan, dalam perspektif geopolitik, tindakan unilateral terhadap suatu negara bertentangan dengan semangat Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang selama ini menjadi fondasi tata dunia internasional.

“Tindakan unilateral dalam kasus Venezuela jelas bertentangan dengan Piagam PBB, khususnya Pasal 2 ayat (4), yang menegaskan larangan penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara lain,” jelasnya.

Rasminto menambahkan, krisis geopolitik global tidak hanya berdampak pada stabilitas politik internasional, tetapi juga membawa implikasi luas terhadap kondisi ekonomi dan sosial dunia. Ketegangan politik antarnegara, menurut dia, berpotensi memicu krisis energi yang kemudian berdampak langsung pada sektor pangan.

“Produksi pangan modern sangat bergantung pada energi, mulai dari pupuk berbasis gas alam, mekanisasi pertanian, hingga distribusi dan logistik. Ketika energi terganggu akibat konflik geopolitik, biaya produksi pangan ikut meningkat dan pada akhirnya membebani masyarakat,” urai dia.

Rasminto mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada sistem global yang rapuh dapat memperbesar kerentanan nasional ketika krisis geopolitik terjadi secara tiba-tiba.

“Indonesia harus membangun kemandirian energi dan pangan nasional. Diversifikasi energi perlu dipercepat, karena jika tidak, kita akan terus bergantung pada impor dan sangat rentan terhadap guncangan global,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Rasminto menyebut krisis Venezuela dapat menjadi refleksi penting bagi Indonesia dan dunia bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik global, isu energi dan pangan telah bergeser menjadi persoalan strategis yang menyangkut keamanan, kedaulatan, dan keberlangsungan hidup bangsa.

"Selain peran negara, masyarakat juga perlu memiliki literasi geopolitik yang lebih baik agar tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi dan gejolak global", jelasnya. 

Ia pun mengingatkan penguatan multilateralisme dan penghormatan terhadap kedaulatan negara agar tidak jatuh dalam krisis berkepanjangan. 

“Penguatan multilateralisme, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta kesadaran kolektif masyarakat menjadi prasyarat penting untuk mencegah dunia, termasuk Indonesia, jatuh ke dalam krisis berkepanjangan,” pungkasnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya