Berita

Asap tebal di area tambang emas PT Antam, Bogor. (Foto: Tangkapan layar)

Publika

Asap di Tambang Antam adalah Alarm Bahaya

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 05:51 WIB

ASAP tebal yang mengepul dari kawasan tambang emas PT Aneka Tambang (Antam) di Pongkor, Kabupaten Bogor, bukan sekadar kejadian teknis yang bisa ditutup dengan kalimat "tidak ada korban". 

Peristiwa ini justru membuka kembali pertanyaan lama yang belum pernah dijawab tuntas. Seberapa serius negara dan BUMN tambang menjaga keselamatan manusia dan lingkungan di balik jargon pengelolaan tambang modern?

Reaksi cepat pemerintah daerah yang menenangkan masyarakat dengan memastikan nihil korban patut diapresiasi. Namun, narasi itu tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan penanganan.


Dalam industri pertambangan, ketiadaan korban jiwa bukanlah indikator bahwa sistem keselamatan telah berjalan dengan baik. Ia hanya menandakan bahwa kali ini bahaya belum sampai pada tahap paling fatal.

Asap di tambang bawah tanah bukanlah fenomena sepele. Ia bisa menandakan akumulasi gas beracun, kegagalan pengolahan, atau masalah serius dalam sistem operasional. 

Semua itu adalah risiko yang seharusnya sudah dipetakan, dimitigasi, dan dicegah jauh sebelum publik melihat kepulan asap dari permukaan. 

Ketika peristiwa seperti ini terus terjadi, publik bertanya-tanya. Apakah standar keselamatan benar-benar diterapkan, atau hanya ditulis rapi di dokumen audit?

Yang lebih mengecewakan, respon Antam cenderung defensif dan normatif. Klarifikasi lebih banyak diarahkan untuk membantah isu-isu yang viral dibandingkan membuka data teknis secara transparan.

Diperlukan penjelasan rinci mengenai sumber asap, parameter gas yang terdeteksi, durasi paparan, atau hasil evaluasi internal.

Dalam konteks BUMN yang mengelola sumber daya strategis, sikap semacam ini bukan sekadar kelemahan komunikasi, melainkan bentuk pengabaian terhadap hak publik atas informasi.

Antam sering mengusung citra sebagai perusahaan tambang yang taat regulasi dan berkelanjutan. Namun pemandangan ini menampilkan tirai antara citra dan praktik. 

Tambang emas Pongkor berada di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan sejarah panjang konflik tambang, baik terkait lingkungan maupun sosial. 

Setiap kejadian abnormal seharusnya diperlakukan sebagai alarm serius, bukan gangguan kecil yang bisa diredam dengan pernyataan pers singkat.

Lebih jauh lagi, kasus ini menekankan masalah struktural dalam tata kelola pertambangan nasional. Mulai dari lemahnya transparansi, lemahnya pengawasan, hingga kecenderungan menormalisasi risiko.

Selama tidak ada korban, kejadian berbahaya dianggap telah selesai. Padahal, dalam logika keselamatan modern, satu kejadian nyaris celaka justru menjadi dasar evaluasi paling penting.

Publik tidak sedang menuntut sensasi atau ketakutan. Yang dituntut adalah akuntabilitas. Antam sebagai BUMN tidak cukup hanya mengatakan "aman". Ia harus membuktikan keamanan itu dengan data, audit terbuka, dan evaluasi yang bisa diuji publik.

Tanpa itu, setiap kepulan asap bukan hanya ancaman bagi pekerja tambang, tetapi juga simbol dari transparansi yang terus menguap.

Jika kejadian ini berlalu tanpa evaluasi menyeluruh dan koreksi terbuka, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya reputasi Antam, melainkan kredibilitas negara dalam mengelola tambang secara bertanggung jawab.

Dan ketika negara gagal belajar dari kejadian hari ini, masyarakat hanya tinggal menunggu tragedi esok hari.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (Forsiber)

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

UPDATE

Tiba di Amman, Prabowo Disambut Putra Mahkota hingga Dikawal Jet Tempur

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:15

Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:14

KPK Bakal Panggil Dirjen Bea Cukai Terkait Kasus Suap Importasi

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:55

Duduk Bareng Bahas Ritel: Upaya Mendag Sinkronkan Aturan dengan Kebutuhan Desa

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:39

Mantan PM Norwegia Dirawat Serius Usai Dugaan Percobaan Bundir di Tengah Skandal Epstein

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:26

Indeks STOXX 600 Naik 0,23 Persen, Dekati Rekor Tertinggi di Tengah Dinamika Tarif AS

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:16

Kemenag Kejar Target: Dana BOP dan BOS Rp4,5 Triliun Harus Cair Sebelum Lebaran 2026

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:05

NasDem Berpeluang Mengusung Anies Lagi

Rabu, 25 Februari 2026 | 06:51

Roy Suryo Cs versus Penyidik Polda Metro Makin Seru

Rabu, 25 Februari 2026 | 06:34

Yuk Daftar Mudik Gratis 2026 Kota Bandung

Rabu, 25 Februari 2026 | 06:24

Selengkapnya