Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Masa Depan Industri Minyak Venezuela di Tengah Krisis Politik

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Venezuela menyandang status sebagai pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Namun, sektor migas Venezuela saat ini berada dalam titik nadir. 

Tata kelola yang buruk, sanksi ekonomi yang mencekik, serta kerusakan infrastruktur, telah melumpuhkan kekuatan utama ekonomi negara tersebut, terutama di tengah memanasnya hubungan dengan Amerika Serikat.


Potensi Melimpah, Produksi Terhambat

Potensi Melimpah, Produksi Terhambat

Berdasarkan data dari Energy Institute, Venezuela menguasai sekitar 17 persen cadangan minyak global atau setara dengan 303 miliar barel.

Dikutip dari Reuters, Senin 5 Januari 2026, angka ini melampaui cadangan milik Arab Saudi. Sebagian besar harta karun hitam ini tersimpan di wilayah Sabuk Orinoco dalam bentuk minyak berat. Meski proses produksinya memerlukan biaya tinggi, secara teknis pengerjaannya dianggap cukup sederhana oleh Departemen Energi AS.

Namun, kejayaan masa lalu kini tinggal sejarah. Sebagai salah satu pendiri OPEC, Venezuela pernah memproduksi 3,5 juta barel per hari (bph) pada era 1970-an. Kontras dengan kondisi sekarang, produksi merosot tajam di bawah 2 juta bph pada dekade 2010-an, dan hanya menyentuh rata-rata 1,1 juta bph pada tahun lalu, dan hanya menyumbang 1 persen dari total produksi dunia.


Tantangan Perubahan Rezim dan Stabilitas Pasar


Para pakar energi memberikan pandangan yang beragam terkait potensi perubahan kekuasaan di Venezuela terhadap pasar global. 

Arne Lohmann Rasmussen (Global Risk Management), menilai bahwa pergantian rezim dapat menambah pasokan pasar secara bertahap, meski pemulihan total akan memakan waktu lama. Sedangkan Saul Kavonic (MST Marquee) berpendapat bahwa kembalinya investasi asing dan pelonggaran sanksi pasca-perubahan rezim akan menjadi motor penggerak ekspor.

Jorge Leon (Rystad Energy) telah memperingatan bahwa sejarah di Libya dan Irak menunjukkan bahwa transisi kekuasaan yang dipaksakan jarang bisa menstabilkan pasokan minyak dalam waktu singkat.


Jejak Nasionalisasi dan Kemitraan Internasional

Industri minyak negara ini dikelola oleh perusahaan plat merah, Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA), sejak nasionalisasi tahun 1970-an. Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez sejak 1999, aturan diperketat dengan mewajibkan PDVSA memegang saham mayoritas dalam setiap proyek. Meski demikian, mereka tetap menjalin kemitraan dengan raksasa global seperti Chevron (AS), CNPC (Tiongkok), ENI (Italia), hingga Rosneft (Rusia).


Diplomasi Utang dan Blokade AS

Perubahan peta ekspor terjadi drastis dalam sepuluh tahun terakhir. Amerika Serikat yang dulunya konsumen utama, kini digantikan oleh Tiongkok akibat sanksi ekonomi. Venezuela tercatat memiliki utang sekitar 10 miliar Dolar AS kepada Beijing, yang dicicil melalui pengiriman minyak mentah.

Situasi semakin genting menyusul kebijakan blokade total terhadap kapal tanker yang diterapkan oleh Donald Trump. Saat ini, ekspor minyak Venezuela praktis terhenti; kapal-kapal tanker raksasa dilaporkan tertahan di perairan tanpa instruksi jelas untuk bongkar muat. Di sisi lain, Rusia juga masih menjadi kreditur besar bagi Venezuela melalui pinjaman miliaran dolar yang rinciannya tetap dirahasiakan.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya