Berita

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Politik

Pengamat Komunikasi Politik:

Program MBG Harus Dilihat sebagai Investasi Pendidikan Jangka Panjang

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 00:01 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan menuai kritik terkait penerapan anggaran yang banyak menyedot pagu untuk bidang lainnya. Terutama bidang pendidikan.

Hal itu tertuang dalam video reels yang diunggah akun Instagram dimasrinjani dengan judul “MBG Sunat Anggaran Pendidikan Hingga 67%: Melanggar HAM”. Video berdurasi kurang dari satu menit itu menampilkan dua narasumber di antaranya ekonom Bhima Yudhistira dan akademisi Herlambang P. Wiratraman m

Bhima Yudhistira memaparkan bahwa dunia pendidikan di 2026 terancam karena adanya pemangkasan anggaran. Sementara Herlambang P. Wiratraman menyebut bahwa MBG telah melanggar HAM.


“Nah itu sebabnya dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, saya menyatakan MBG itu melanggar hak asasi manusia karena strateginya justru menggerus anggaran kebutuhan dasar warga negara yang lain,” kata Herlambang dikutip, Minggu malam, 4 Januari 2026. 
 
Terkait itu, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Indonesia, Syurya M. Nur menilai pembenturan program MBG dengan sektor pendidikan seolah keduanya berada dalam posisi saling meniadakan sangat tidak tepat. 

Menurut Syurya, pemenuhan gizi anak justru merupakan fondasi utama pendidikan itu sendiri.
 
“Bagaimana kita bicara kualitas pendidikan jika kebutuhan dasar anak, termasuk gizi, tidak terpenuhi? Program MBG harus dilihat sebagai investasi pendidikan jangka panjang, bukan ancaman,” tegas Syurya dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Minggu, 4 Januari 2026.
 
Ia menambahkan, kritik publik semestinya diarahkan pada pengawasan implementasi, bukan pada penolakan apriori terhadap kebijakan. 
 
“Yang perlu dikritisi adalah apakah program itu tepat sasaran, transparan, dan bebas dari penyimpangan. Bukan sekadar memelintir isu pemangkasan anggaran tanpa membandingkan kinerja anggaran di masa lalu,” ungkap dia.
 
Syurya mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan kritik, tetapi kritik yang sehat dengan berbasis data, logika kebijakan, dan kerangka hukum. 
 
“Jika setiap program nyata selalu dicibir tanpa evaluasi objektif, yang dirugikan bukan pemerintah, tetapi masa depan pembangunan SDM Indonesia,” pungkasnya.
 

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya