Berita

Barang bukti uang tunai Rp301 miliar lebih yang disita Kejagung terkait kasus Duta Palma.(Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra)

Publika

Pemulihan Kerugian Negara oleh Kejagung Tidak Efektif

KAMIS, 01 JANUARI 2026 | 04:54 WIB

SELAMA tahun 2025, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap empat kasus korupsi terbesar dengan jumlah kerugian negara sekitar Rp288,9 triliun. Sedangkan yang berhasil diselamatkan adalah sebesar Rp24,72 triliun. 

Dengan demikian, rasio pemulihan kerugian negara dari kasus korupsi yang ditangani Kejagung berada di angka 8,5 persen.

Rasio tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi kualitas penegakan hukum, khususnya dalam kasus korupsi dan kejahatan ekonomi. 


Angka ini bukan sekadar statistik teknis, melainkan cermin telanjang dari ketidakefektifan Kejagung dalam mengembalikan hak publik yang dirampas melalui kejahatan.

Dalam konteks penegakan hukum modern, keberhasilan tidak lagi diukur hanya dari jumlah tersangka, jangka waktu dakwaan, atau beratnya vonis. Ukuran intinya adalah apakah proses hukum tersebut mampu memulihkan kerugian negara secara nyata. 

Ketika dari seluruh kerugian yang ditimbulkan hanya 8,5 persen yang berhasil diselamatkan, artinya lebih dari 90 persen dana publik hilang tanpa pemulihan. 

Di titik ini, Kejagung bisa saja memenangkan proses hukum di pengadilan, tapi kalah di hadapan kepentingan rakyat.

Rasio pemulihan di bawah 10 persen secara internasional dan akademik berada pada kategori sangat rendah. Ia menunjukkan kegagalan struktural dalam penelusuran aset. 

Penegakan hukum semacam ini cenderung berhenti pada pemidanaan individu, tetapi gagal menyentuh jantung kejahatan ekonomi. Aliran dan akumulasi uang hasil kejahatan.

Implikasinya serius. Pertama, efek jera menjadi lemah. Jika pelaku memang dipenjara, namun sebagian besar aset hasil kejahatan tetap aman dinikmati keluarga atau jejaringnya, maka secara rasional kejahatan masih "menguntungkan". 

Hukuman penjara tidak sebanding dengan keuntungan ekonomi yang tetap bertahan. Dalam kondisi ini, hukum tidak lagi menjadi pencegah, melainkan sekadar risiko yang diperhitungkan.

Kedua, rasio rendah ini memperkuat persepsi publik bahwa penegakan hukum hanya tegas di ruang sidang, namun lemah dalam memulihkan kerugian negara. 

Seremoni penyerahan uang sitaan, konferensi pers bernada kemenangan, dan narasi keberhasilan menjadi kontraproduktif ketika angkanya sendiri menunjukkan kegagalan.

Masyarakat tidak hidup dari narasi, tetapi dari uang negara yang seharusnya kembali untuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Ketiga, angka 8,5 persen mencerminkan penegakan hukum yang keliru. Fokus masih dominan pada penghukuman personal, bukan pada pemiskinan kejahatan. 

Padahal, dalam kejahatan korupsi dan ekonomi, aset adalah tujuan utama, dan pemulihannya adalah inti keadilan. 

Tanpa itu, penegakan hukum berubah menjadi administrasi perkara yang rapi, tetapi kosong secara substansi.

Sering kali pembelaan yang muncul adalah keterbatasan teknis. Aset sulit dilacak, telah dipindahkan, atau disamarkan. Namun keterbatasan teknis tidak dapat dijadikan alasan permanen untuk membenarkan kegagalan sistem.

Justru di situlah ukuran kapasitas institusi diuji. Apakah Kejagung mampu beradaptasi dengan kompleksitas kejahatan modern, atau terus terjebak di belakang pelaku.

Rasio pemulihan 8,5 persen juga berbahaya secara politik dan sosial. Ia menggerus kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. 

Ketika masyarakat melihat bahwa uang triliunan rupiah raib dan hanya sebagian kecil yang kembali, keadilan tidak lagi terasa sebagai nilai, melainkan sebagai prosedur formal yang tidak menyentuh kehidupan nyata.

Pada akhirnya, penegakan hukum yang efektif bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling nyata hasilnya. 

Selama pemulihan kerugian negara masih berada di angka satu digit, klaim efektivitas penegakan hukum perlu diperiksa secara serius. 

Kejagung mungkin hadir di ruang sidang, tapi selama uang rakyat tidak kembali, keadilan masih belum ada di kas publik.

R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI)/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya