Berita

Ilustrasi kepala daerah. (Foto: Istimewa)

Publika

Pemimpin Sejati dan Arah Pengabdian

RABU, 31 DESEMBER 2025 | 06:31 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

SURVEI Indikator Politik Indonesia (Oktober 2025) menunjukkan hanya 47 persen publik menilai pemimpin daerah benar-benar hadir menyelesaikan persoalan masyarakat. 

Angka ini menandakan jurang antara mandat dan kenyataan. Dalam banyak kasus, pemimpin lebih terlihat pada baliho dan kegiatan seremonial ketimbang pada perubahan layanan dasar.

Max Weber menyebut bahwa kekuasaan hanya sah ketika memperoleh legitimasi dari rakyat. Legitimasi itu lahir jika pemimpin menggunakan mandatnya sebagai alat pelayanan, bukan alat kuasa. 


Ketika mandat berubah menjadi panggung citra, kekuasaan menjadi kosong secara moral dan rapuh secara sosial.

Pemimpin yang menempatkan rakyat sebagai tujuan akan hadir di ruang yang sering tak tersentuh kamera: antrean panjang Puskesmas, sekolah negeri yang meminjam bangku untuk murid baru, perkampungan yang menunggu air bersih bertahun-tahun. 

Di ruang-ruang sunyi itu, kualitas kepemimpinan terukur: apakah ia mendengar, mencatat, dan menyusun solusi, atau hanya mencatat untuk janji politik berikutnya.

Sebaliknya, rakyat masih sering dijadikan alat: dikerahkan saat kampanye, diundang ketika peresmian program, lalu dilupakan ketika kesulitan menimpa. 

Antonio Gramsci menyebut kondisi ini sebagai bentuk hegemoni, ketika rakyat dibuat terbiasa menjadi objek sehingga lupa bahwa mereka berhak menjadi subjek perubahan.

Ukuran keberhasilan pemimpin seharusnya tidak diambil dari viralitas unggahan atau panjangnya sambutan. 

Ukuran yang lebih jujur lahir dari indikator dampak: apakah warga rentan kini lebih mudah berobat? Berapa sekolah yang akhirnya memiliki fasilitas layak? Berapa keluarga miskin yang keluar dari lingkar kemiskinan karena intervensi kebijakan?

Studi Kasus sebagai Cermin

Beberapa contoh nyata menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis pengabdian bukan utopia:

Porto Alegre, Brasil, pada 1989–2000 mencatat penurunan signifikan angka kesenjangan wilayah berkat participatory budgeting. Warga ikut menentukan alokasi anggaran kota melalui forum tahunan. Model ini kemudian direplikasi di lebih dari 200 kota di dunia.

Surabaya (2000–2015, era Tri Rismaharini) menjadi contoh domestik tentang pemimpin yang menjadikan dirinya alat, bukan pusat panggung. 

Intervensi langsung terhadap lingkungan kumuh, pembangunan taman kota berbasis ruang publik rakyat, hingga aksi langsung menertibkan kantor pemerintah yang menghambat layanan, tercatat mampu menurunkan titik kumuh dan menaikkan indeks kualitas lingkungan. 

Surabaya juga mendapat Sustainable City Award (2012) dan ASEAN Environmentally Sustainable City Award (2014), yang keduanya mengakui dampak kebijakan, bukan sekadar citra politik.

Studi-studi ini memperlihatkan: ketika rakyat didudukkan sebagai subjek, kebijakan menjadi bernyawa, dan kota berubah bukan karena jargon, melainkan tindakan.

Arah Perbaikan ke Depan

Jika Indonesia ingin memperbaiki kualitas kepemimpinan, perlu ada langkah sistemik: akuntabilitas berbasis dampak harus diwajibkan bagi kepala daerah, layanan publik harus dibuka melalui dashboard transparansi digital yang dapat diakses warga, dan kanal keluhan warga harus menjadi instrumen kebijakan, bukan formalitas.

Selain itu, musyawarah perencanaan pembangunan perlu dipulihkan sebagai ruang deliberasi yang sesungguhnya, di mana keputusan diambil dengan rakyat, bukan sekadar dilaporkan kepada rakyat. Demokrasi hanya bermakna ketika warga tidak hanya memilih, tetapi ikut menentukan arah.

Jika prinsip ini dihidupkan, pemimpin tidak lagi perlu menagih pengakuan. Masyarakat sendiri yang akan menyebut namanya, bukan karena ia berkuasa, tetapi karena ia mengabdi.

Direktur Jakarta Institute

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya