Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence

Publika

Roy Suryo Cs Konsisten Ijazah Jokowi 99,9 Persen Palsu

RABU, 17 DESEMBER 2025 | 00:35 WIB

MOHON maaf yang bosan soal ijazah Joko Widodo alias Jokowi, ceritanya dilanjutkan lagi. Karena, ada cerita baru. Bukan perang urat leher Roy Suryo cs vs Termul. Simak narasinya sambil ngunyah pisgor dan seruput Koptagul, wak!

Indonesia kembali menggelar festival kuliner akal sehat. Lengkap dengan menu utama bernama “Ijazah Asli”. Pada 15 Desember 2025, di dapur besar bernama Polda Metro Jaya.

Penyidik mengangkat tudung saji hukum dan memperlihatkan hidangan premium itu, ijazah Jokowi dari SMA hingga S1 UGM. Lengkap dengan watermark, unsur pengaman, cap, tanda tangan, dan aroma kertas negara yang matang sempurna. 


Semua disajikan hangat di hadapan para tersangka dan kuasa hukum, seperti rendang 12 jam yang sudah diuji api, santan, dan kesabaran.

Kuasa hukum Jokowi, Yakub Hasibuan mencicipi duluan dan menyatakan, ini rendang asli, bukan abon oplosan. Ketua Umum Peradi Bersatu, Zevrijn Boy Kanu, mengangguk sambil mengelap keringat, akhirnya publik dapat porsi transparansi. 

Aktivis Palti Hutabarat tersenyum, katanya dari awal cuma minta satu sendok bukti autentik. Semua tampak rapi, seperti nasi tumpeng yang sudah didoakan dan siap dipotong. Data jelas, forum resmi, proses hampir 12 jam, dapur hukum menyala dari pagi sampai malam.

Tapi di meja seberang, Roy Suryo mengunyah pelan, menatap lauk itu lama sekali, lalu menyimpulkan dengan presisi ahli gizi rasa, 99,9 persen palsu. Bukan 100, karena 0,1 persen disisakan, mungkin sebagai sambal korek kosmik, pedasnya tak terdefinisi, tapi wajib ada. 

Dunia seketika terdiam. Seperti soto Lamongan yang sudah pakai koya asli, jeruk nipis diperas, ayam kampung direbus, tapi tetap disebut sup instan karena mangkuknya dianggap kurang putih.

Argumen pun keluar satu per satu, seperti gorengan di jam berbuka. Foto di ijazah dinilai tak sesuai usia, seolah wajah manusia wajib mengikuti kalender dapur. Format dan tanda tangan dipersoalkan, padahal tinta sudah dicecap mata forensik. 

Skripsi ikut diangkat ke meja, ditanya kenapa tak mencantumkan nama dosen penguji, seakan tempe mendoan gagal karena lupa diberi daun bawang. UGM dituding kurang transparan, padahal piringnya sudah diletakkan di tengah meja, tinggal dimakan.

Penyidik sudah menunjukkan, ahli administratif sudah mengangguk, tapi mantra pamungkas kembali diucap seperti doa penutup makan: pengadilan. 

Betul, dalam hukum Indonesia, putusan berkekuatan tetap adalah sendok terakhir. Jokowi pun sudah bilang, dalam wawancara 9 Desember 2025, ia siap membawa semua ijazah, dari SD sampai UGM, ke ruang sidang. Silakan diuji, diiris, ditimbang, difoto, bahkan disinar-X. 

Namun, seperti pempek Palembang yang tetap disebut kebanyakan sagu oleh mereka yang sejak awal alergi ikan, janji itu dianggap belum cukup gurih.

Di sinilah absurditas mencapai klimaks. Ijazah yang diperlihatkan secara resmi masih dianggap mentah. Hukum yang berjalan disebut kurang api. Bukti yang disajikan dianggap plating

Ini bukan lagi lomba masak, ini kontes keyakinan. Roy Suryo berdiri sebagai juri tunggal MasterChef Persepsi, memukul bel imajiner dan berkata, “Maaf, rasanya tidak sesuai memori lidah saya.”

Negeri ini pun ramai. Ada yang kenyang karena bukti, ada yang tetap lapar karena kecurigaan. Ada yang menikmati rawon hitam pekat bernama prosedur, ada yang mencari kuah bening bernama opini. 

Ijazah Jokowi berubah dari kertas kelulusan menjadi martabak spesial, bisa manis bagi yang percaya, asin bagi yang ragu, gosong bagi yang datang dengan niat membakar.

Akhirnya kita sadar, ini bukan soal ijazah, bukan pula soal Jokowi semata. Ini tentang selera. Di meja yang sama, dengan lauk yang sama, lidah bisa berdebat seumur hidup. 

Selamat menikmati hidangan hukum edisi Desember 2025. Bagi sebagian orang, rendang tetap rendang. Bagi yang lain, ia akan selalu 99,9 persen palsu, karena kebenaran, seperti nasi uduk, kadang kalah oleh aroma prasangka yang lebih menggoda.

Sementara di sudut warkot reot di Pontianak, tampak seorang lelaki, berkacamata, topi merah, menikmati segelas Koptagul, pisgor berbalut selai srikaya. Dia hanya tersenyum dari kejauhan. 

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya