Berita

Ilustrasi indeks pembangunan manusia. (Foto: Harian Disway/Maulana Pamuji Gusti)

Publika

Menautkan Kemajuan Manusia ke Transformasi Produktif

KAMIS, 04 DESEMBER 2025 | 21:30 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

KENAIKAN Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional ke angka 75,90 tentunya kabar baik karena menegaskan keberhasilan Indonesia dalam memperkuat kapasitas dasar masyarakat -umur harapan hidup meningkat, akses pendidikan meluas, dan daya beli membaik. Namun, capaian ini belum otomatis mengubah struktur pasar kerja yang masih terbelah antara sektor modern dan sektor tradisional.

Menurut BPS, rata-rata IPM nasional menyembunyikan kesenjangan spasial yang nyata: 85,05 di DKI Jakarta berbanding 54,91 di Papua Pegunungan. Kesenjangan ini bukan sekadar angka geografis, tetapi juga mencerminkan ketimpangan produktivitas dan kualitas pekerjaan. Konsepnya, provinsi dengan IPM tinggi cenderung memiliki porsi pekerja formal lebih besar, sedangkan provinsi ber-IPM rendah masih bergantung pada sektor informal.

Dalam konsep labour economics, kenaikan IPM seharusnya meningkatkan produktivitas dan upah riil. Namun, di lapangan sering terjadi decoupling: pendidikan meningkat, tetapi struktur kesempatan kerja belum ikut naik kelas. Penyebabnya ada di sisi permintaan tenaga kerja-ekspansi sektor formal belum cukup cepat, terutama di luar Jawa.


Kebijakan pemerintah saat ini tampaknya memahami dilema ini. Program hilirisasi industri, pembangunan IKN, dan agro-maritim corridor yang digerakkan pemerintahan Prabowo Subianto diarahkan bukan sekadar untuk menambah PDB, melainkan memperbanyak titik serap tenaga kerja modern di luar pusat ekonomi lama. Ini adalah bentuk koreksi struktural terhadap dualisme Lewis yang selama puluhan tahun membelah dunia kerja Indonesia.

Produktivitas dan Kualitas Pembelajaran

Kenaikan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sering dianggap bukti konkret kemajuan pendidikan. Tetapi ditinjau dari perspektif ketenagakerjaan akan mengingatkan: tahun sekolah tidak selalu berarti tahun belajar. Jika mutu pembelajaran stagnan, lama sekolah menjadi sinyal yang lemah bagi produktivitas.

Data PISA menunjukkan skor literasi Indonesia relatif datar selama satu dekade, padahal HLS naik lebih dari satu tahun. Artinya, human capital meningkat dalam kuantitas, belum dalam kualitas. Di pasar kerja, hal ini kerap muncul sebagai skills mismatch: banyak lulusan tidak terserap pada pekerjaan yang sesuai. 


Grafik 1. Jalur Konseptual: Dari IPM ke Perbaikan Struktur Pasar Kerja

Grafik 1 di atas memperlihatkan rantai sebab akibat yang berelasi kuat di mana kenaikan IPM meningkatkan kapasitas dasar (kesehatan, pendidikan, daya beli), yang seharusnya memicu kenaikan produktivitas dan upah. Namun rantai ini sering “putus” di tengah karena tiga faktor: mutu belajar stagnan -kapasitas tidak bertransformasi menjadi keterampilan; biaya logistik dan energi tinggi -menghambat ekspansi industri padat kerja; lemahnya aglomerasi -produktivitas sulit melonjak di luar Jawa.

Pemerintah saat ini telah mencoba menautkan kembali rantai yang putus itu. Strategi industrial upgrading, vokasi berbasis industri, serta kemitraan rantai pasok UMKM menjadi pengungkit agar kenaikan IPM berujung pada transformasi kerja nyata. Program apprenticeship nasional dan sertifikasi keterampilan yang mulai dirancang lintas kementerian dapat mempercepat perpindahan pekerja dari informal ke formal tanpa harus menunggu pertumbuhan PDB dua digit.

Inilah pendekatan labour-centric development: menjadikan pembangunan manusia bukan tujuan akhir, melainkan sebagai modal untuk membangun pasar kerja yang lebih produktif dan terlindungi.

Penutup

Kenaikan IPM hanyalah fondasi awal. Tanpa jembatan menuju sektor modern, peningkatan kapasitas manusia belum tentu berujung pada kesejahteraan. Pemerintah kini bergerak di jalur yang relatif tepat: memperluas basis industri, membangun pusat pertumbuhan baru, memperkuat pendidikan vokasi, serta menautkan UMKM dengan rantai nilai global.

Langkah-langkah itu, bila dijaga konsistensinya, akan membuat kenaikan IPM benar-benar menetes ke pasar kerja -menciptakan pekerjaan layak, menaikkan produktivitas, dan memperkuat kelas menengah pekerja Indonesia.

“IPM adalah ukuran seberapa siap rakyat untuk maju, tetapi pasar kerja adalah ukuran apakah negara benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh.” Dalam konteks pemerintahan sekarang, ruang itu terindikasi mulai terbuka lebih luas dari sebelumnya.

*Penulis adalah Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya