Berita

Presiden ke-20 Amerika Serikat James A. Garfield. (Foto: Artificial intelligence)

Publika

Mati Kesambar Ambisi

SENIN, 01 DESEMBER 2025 | 04:48 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN seorang presiden Amerika Serikat berjenggot lebat, bukan jenggot Instagramable ala hipster yang dipelihara demi gaya, tetapi jenggot yang menggambarkan keseriusan moral sekaligus misteri takdir sejarah.

Itulah James A. Garfield, presiden ke-20 Amerika, yang naik ke tampuk kuasa dengan janji progresif dan idealisme yang jarang ditemukan pada politisi zaman kapan pun. Ia tampil menjadi harapan reformasi yang mulai terbit di Amerika.

Namun, karakternya berakhir lebih cepat dari episode drama Netflix yang kini menghidupkan kembali kisah hidup dan kematiannya melalui serial Death by Lightning.


Judul serial yang terdengar seperti film bencana alam ini justru mengisahkan bencana yang jauh lebih manusiawi yakni bencana politik, birokrasi, dan kedokteran. Bukan petir yang menyambar, tetapi sistem yang menggeletar.

Judul itu bukan metafora kosong. Koran-koran Amerika pada 1881 menyebut sang pembunuh, Charles J. Guiteau, sebagai tindakan “a sudden flash of madness -- like lightning.” Tak ada Zeus, tak ada langit murka. Hanya seorang manusia dengan ambisi campur delusi, yang merasa Tuhan sendiri mengutusnya menyelamatkan republik.

Guiteau bukan pembunuh profesional, bukan pula bagian konspirasi besar. Ia seorang penganggur yang ingin jabatan, merasa dirinya protagonis dunia, dan menjadikan pistol sebagai tiket pendek menuju ketenaran. Serangannya seperti kilat: tiba-tiba, absurd, dan membingungkan semua orang.

Garfield bukan mati oleh konspirasi negara, tetapi oleh kegilaan kecil yang menyambar tanpa permisi. Bahkan ia tidak seketika tumbang. Peluru itu bukan penyebab langsung kematiannya. Yang membunuhnya justru malapraktik para dokter yang masih menolak teori kuman yang sedang berkembang waktu itu. Ego medis lebih mematikan dari tembakan.

Serial itu membawa kita mundur ke masa ketika Garfield lahir di kabin kayu pada 1831 -- bukan di hotel mewah. Ayahnya wafat saat ia masih bayi, dan ibunya, Eliza, membesarkan lima anak dengan ketabahan yang bahkan membuat pekerjaan rumah tangga tampak sebagai olahraga ekstrem.

Garfield bekerja di kanal sebagai awak kapal, membaca buku tanpa henti, mendidik dirinya sendiri hingga menjadi pengacara, pendeta, presiden Hiram College, mayor jenderal Union, anggota Kongres, dan akhirnya presiden.

Kalau Garfield punya LinkedIn hari ini, riwayatnya pasti sepanjang jalan tol Cikampek. Ia dikenal sebagai pemimpin yang justru tidak mendambakan jabatan. Di tengah politik patronase, ia menolak ikut pesta rakus kekuasaan.

Di Kongres, ia memukau lawan maupun lawannya dimana ia fasih Latin, hafal Aeneid bacaannya, bahkan menulis bukti teorema Pythagoras versinya sendiri. Ia mendukung hak pilih warga Afrika-Amerika dan menolak patronase korup yang menjadi wabah politik masa itu.

Di film itu pula ia digambarkan berani menantang tokoh besar seperti Conkling -- raja mesin politik Partai Republik -- yang kelimpungan karena Garfield tidak mau tunduk pada aturan gelap partai.

Namun serial ini bukan sekadar ode terhadap kejeniusannya. Ini juga komedi gelap sejarah manusia. Pada 2 Juli 1881, Garfield ditembak oleh Charles Guiteau: pengemis jabatan dengan delusi lebih tebal dari ego influencer zaman sekarang.

Ironisnya, peluru itu seharusnya tidak fatal. Tetapi dokter bernama Dr Doctor Willard Bliss (ya, namanya memang Doctor Doctor) memutuskan untuk menjadi lebih berbahaya daripada penyakit.

Ia merogoh luka dengan tangan kotor, mengabaikan pengobatan antiseptik, dan mengundang Alexander Graham Bell dengan detektor logam yang gagal mendeteksi lokasi peluru karena ranjang Garfield terbuat dari logam.

Selama 79 hari Garfield menahan derita, kehilangan hampir 100 pon berat badan, dan menulis catatan “strangulatus pro republica” -tercekik demi republic -- sebelum akhirnya meninggal akibat infeksi yang sepenuhnya bisa dicegah.

Maka judul Death by Lightning bukan sekadar sensasi visual. Ia menangkap absurditas tragedi Garfield: kilat yang bukan turun dari langit, tetapi dari sistem yang bobrok, ambisi yang tak terkendali, dan ilmu kedokteran yang belum siap menyelamatkan nyawa.

Sementara Guiteau menjerit menyebut dirinya pahlawan, Amerika kehilangan seorang pemimpin yang berpotensi menjadi ikon reformasi civil service dan kemajuan hak sipil. Inilah sejarah ketika negara besar pun luluh oleh kesombongan kecil.

Bagi kita di Indonesia, kisah ini bukan hanya tontonan Netflix. Kita yang pernah belajar bahasa Inggris dari BBC World Service atau mengikuti berita internasional bisa merasakan kejutannya: bahkan pemimpin terbaik sekalipun bisa jatuh bukan oleh peluru, tetapi oleh struktur yang gagal dan manusia yang tersesat.

Kisah Garfield mengajarkan bahwa integritas tidak selalu cukup untuk melawan dunia yang absurd. Namun karakter, visi, dan keteguhan hati meninggalkan jejak yang panjang.

Tragedi yang merenggut kariernya bukan sekadar kisah duka. Ia justru menjadi cahaya yang membongkar kecacatan sistem, dan mengajak kita bertanya ulang siapa sebenarnya yang memegang senjata,  pelaku atau zaman itu sendiri?

Maka tragedi ini bukan hanya tentang kematian seorang presiden. Ia adalah kilat sejarah yang menyinari pelajaran bagi masa depan bahwa potensi yang terhenti bukan berarti sia-sia. Ia justru memaksa kita merenungi bagaimana sejarah bekerja dalam keheningan.

Selamat menonton Death by Lightning, dan siapkan diri untuk tersenyum getir. Ternyata, kilat yang paling berbahaya tidak selalu datang dari langit, kadang ia lahir dari manusia itu sendiri.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya