Berita

Yudhi Hertanto. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Ilmu Pengetahuan dan Kisah Prometheus Modern

JUMAT, 28 NOVEMBER 2025 | 11:09 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

FILM klasik Frankenstein dirilis ulang dengan genre drama, meski karya aslinya merupakan novel gothik yang ditulis Mary Shelley pada tahun 1831. Sutradara Guilermo del Toro memberi tafsir yang kelam tentang kemanusiaan, justru tanpa horror (Netflix, 2025).

Kisah singkatnya dimulai dari seorang ilmuwan Victor Frankenstein, yang terobsesi pada upaya melawan kematian, sebagai cara mengobati lara atas kehilangan ibunda tercinta.

Berbekal kekuatan pengetahuan, segala cara dipergunakan untuk menghadirkan keabadian. Lalu tercipta makhluk hidup dari substansi mati, menjelma sebagai monster yang dipenuhi amarah, akibat kesepian dan ditinggalkan.


Dalam fiksi ilmiah, apa yang ditampikan film Frankenstein lambat laun mulai mewujud pada kehidupan nyata. Penyuntingan genetika, dengan maksud membentuk generasi unggul selayaknya manusia super kini bukan hal yang tidak mungkin. Data genom dapat disalin dan diedit, memperbaiki kelemahan dan membentuk kesempurnaan.

Keturunan manusia, di masa mendatang dengan ilmu modern, bisa diseting sesuai kehendak orang tua. Hal tersebut, seolah membuka kotak pandora akan keinginan terdalam manusia untuk menjadi superhuman yang tak tertandingi.

Dunia terhenyak ketika kelahiran bayi kembar Lulu dan Nana, dengan gen yang telah disunting He Jiankui di Tiongkok, 2018, dunia menuju era evolusi terencana -directed evolution.

Lantas pertanyaan fundamental kembali diperbincangkan, tentang bagaimana lompatan teknologi mampu melampaui dinding filosofis? Selama ini manusia bersifat sebagai pencipta untuk berbagai alat bantu bukan untuk membentuk serupa makhluk. Timbangan etisnya bukan lagi soal "bisakah kita melakukannya?", tetapi "apakah kita boleh melakukannya?".

Pada buku Homo Deus, 2017, Yuval Noah Harari mulai membincangkan tentang pergeseran manusia berubah dari Homo Sapiens yang pintar dengan kemampuan berpikir didukung kapasitas otaknya, mulai bertindak menjadi pencipta kehidupan -playing as god, berpegang pada bioteknologi dan revolusi genetika.

Terjadi perubahan ontologis, tentang hakikat keberadaan manusia. Pada era sebelumnya, manusia adalah makhluk yang dilahirkan -begotten serta menerima kehidupan sebagai anugerah, kini menjadi objek yang dibuat -made.

Filsuf Jerman, Jürgen Habermas, menyebut ketika orang tua mulai mendesain gen anak, maka tercipta relasi yang tidak setara. Posisi atas eksistensi anak tersebut bukan lagi individu otonom, melainkan produk program aspirasi orang tua. Situasi ini menjadi ancaman atas etika spesies, ungkap Habermas, ketika intervensi teknis pada tubuh manusia merusak dasar kesetaraan moral.

Risiko yang lebih luas jelas bukan pada tingkat individu melainkan pada level sosial. Bagaimana jika teknologi penyuntingan gen ini dilepas ke mekanisme pasar bebas, dengan basis pendekatan supply-demand, maka siapa yang akan membelinya? Jelas tidak semua pihak mampu mengakses, kesenjangan semakin terbuka.

Ketimpangan akan semakin melembaga, ketika sekelompok pihak mampu membeli gen pintar, sehat dan memiliki dimensi kekuatan fisik sempurna. Francis Fukuyama (2002) mengkhawatirkan kerusakan fondasi demokrasi liberal yang berpijak pada kesetaraan martabat manusia. Membangun kasta biologis baru, semacam “aristokrasi genetik", ketidaksetaraan tertulis permanen dalam kode DNA (Lindsay, 2005).

Lantas teknologi dan pengetahuan bertransformasi dari euphoria menjelma sebagai distopia. Michael Sandel memberi argumen dari sisi humanis, tentang hilangnya etika keterberian -ethics of giftedness. Bahwa menjadi manusia adalah tentang kemampuan menerima hidup sebagai anugerah yang tidak sepenuhnya bisa kita kontrol, baik ataupun buruk.

Ambisi serupa Victor Frankenstein untuk menyunting gen, mewakili nafsu kuasa yang dominan. Ketika anak terlihat sebagai produk yang perlu disempurnakan, kita kehilangan kerendahan hati, serta kasih tanpa syarat bisa berubah menjadi cinta bersyarat, "selalu mencintaimu, selama modifikasi genetikmu berfungsi sesuai pesanan" (Sandel, 2007).

Revolusi genetika bagian dari kemajuan modern, menjadi keniscayaan, tidak bisa dihentikan, tetapi harus diarahkan. Pembedanya terletak pada tujuan selaras moralitas, rekayasa genetika untuk terapi pengobatan masih dapat diterima secara rasional, tetapi penggunaannya untuk mengkreasi suprahuman harus dilarang keras.

Bagi Nietzsche, Übermensch -manusia super adalah sebuah konsep filosofis tentang individu yang telah melampaui moralitas konvensional dan kelemahan manusia biasa untuk menciptakan serta mencapai potensi tertinggi kemanusiaannya, bukan indikasi kesempurnaan fisik.

Kisah Prometheus menjadi mitos Yunani paling kuat menjelaskan asal usul pengetahuan dan penderitaan. Prometheus mencuri api -ilmu pengetahuan dari Gunung Olympus, Zeus si Raja Dewa mengutuknya dengan dirantai di gunung Kaukasus. Tersiksa, karena setiap hari, seekor elang besar datang dan memakan hatinya, yang kemudian tumbuh kembali.

Kemajuan sains yang tidak diimbangi dengan adopsi moralitas akan membawa kita pada kehancuran kompleks. Hanya dalam batas-batas moralitas dan hati yang teguh bak Promotheus, memungkinkan pengetahuan mendapatkan imbangan setaranya yakni nurani kemanusiaan.

Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Indraprasta PGRI

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya