Berita

Ketua Harian PSI, Ahmad Ali. (Foto: Dokumentasi PSI)

Publika

Ahmad Ali Tak Ada Benderol Galak ke Semua Orang, Bisakah PSI Menang?

SELASA, 25 NOVEMBER 2025 | 12:11 WIB

SEJAK ditunjuk sebagai Ketua Harian PSI, Ahmad Ali lebih banyak membuat dinding pembatas daripada membuat jembatan penghubung di antara kekuatan politik yang ada.

Pidato perdananya menyeret Presiden Prabowo Subianto agar segera menyelesaikan kasus ijazah Joko Widodo alias Jokowi dan ijazah Gibran Rakabuming Raka, yang diusik secara serius oleh Roy Suryo cs. Seolah-olah Presiden Prabowo lah penentu masalah ini. 

Menariknya, Presiden Prabowo tak terusik sedikitpun oleh pidato perdana Ahmad Ali itu. Tapi memang saat ini Roy Suryo cs berstatus tersangka. Apakah itu efek dari tekanan Ahmad Ali? Entahlah.


Ahmad Ali baru-baru ini juga menyerang Megawati Soekarnoputri dengan diksi nenek-nenek yang puluhan tahun jadi ketua umum partai. Memang tak menyebut nama, tapi arahnya sudah pasti ke Megawati.

Megawati memang sudah nenek-nenek, tapi menyebut itu di ruang publik dalam konteks persaingan politik, itu tidak saja tidak pantas, tapi juga bentuk pelecehan yang terang-benderang.

Jokowi saja mungkin tak akan berani memakai diksi yang seperti itu. Entah apa dosa Megawati terhadap Ahmad Ali, sehingga enteng saja mengunakan diksi yang seperti itu?

Tak ada cerita bagi Ahmad Ali partai koalisi atau non-koalisi. Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY pun diserang, meski tak sevulgar Megawati. Presiden Prabowo juga diseret-seret kasus ijazah Jokowi.

Bagi Ahmad Ali Jokowi adalah segalanya. Ia langsung saja tancap gas, tanpa melihat kiri-kanan. Mengatakan apa yang harus dikatakan. Tak ada banderol.

Sebetulnya, waktu di NasDem, Ahmad Ali juga begitu. Selalu ada kontroversi. Tapi setelah di PSI terlihat makin menjadi-jadi. Tak ada cerita, berbaik-baik atau bersopan-santun.

Wajar saja, Ahmad Ali tak terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, kendati didukung partai bejibun sekalipun. Tak terpilih pula kembali sebagai anggota DPR dari Partai NasDem. Dan gagal memenangkan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar pada Pilpres lalu.

Mestinya deretan kegagalan itu membuat Ahmad Ali sedikit merenung menemukan sebab dari kegagalan, untuk kemudian benar-benar keluar sebagai pemenang bersama PSI, misalnya.

Tapi dengan gaya yang sama dipakainya seperti dulu, hasilnya dengan mudah akan bisa ditebak.

Entah kenapa diksi dan gaya berpolitik yang berbeda jauh dengan Jokowi, justru Ahmad Ali yang dipakai Jokowi membimbing anaknya, Kaesang Pangarep di PSI?

Apakah Ahmad Ali memang sengaja digunakan Jokowi untuk melakukan perubahan gaya berpolitik? Ataukah, itu terjadi secara kebetulan saja?

Bisa jadi karena terlalu banyak pihak yang menyerang dirinya, makanya Jokowi butuh PSI yang lebih galak untuk melakukan serangan balik. Era bertahan sudah lama lewat. Kini eranya menyerang justru untuk bertahan.

Ahmad Ali menyatakan hendak menghabisi semua partai yang menghalangi PSI untuk menang Pemilu 2029. Pernyataan ini aneh, justru karena dinyatakannya.

Sebab, sudah pasti semua partai akan menghalangi PSI menang Pemilu 2029, karena semua partai juga ingin menang, tanpa harus dinyatakan seperti yang dinyatakan Ahmad Ali itu.

Dan terbukti, partai yang keluar sebagai pemenang itu ke itu saja dan tak ada PSI di situ. Bahkan PSI tak lolos ambang batas Parlemen, kendati sudah menampilkan Jokowi sebagai simbol.

Ahmad Ali juga heran, kenapa sudah menampilkan Jokowi sebagai simbol dua kali Pemilu belakangan, tapi perolehan suara PSI tak signifikan?

Sebetulnya, Ahmad Ali tak perlu heran. Sebab pilihan partai dan tokoh itu memang tak selalu sama. Meski PSI sudah  mengidentikkan diri dengan Jokowi, tapi pemilih tak melihat bahwa Jokowi adalah PSI, atau sebaliknya.

Pemilih memilih partai itu sudah lama, jauh sebelum adanya Jokowi. Jokowi bukan simbol partai. Makanya tak heran, PDIP tetap menang Pileg, meski kalah Pilpres.

Jangan sampai pula apa yang dimaksud Ahmad Ali bahwa perolehan suara PSI tak signifikan dua kali Pemilu belakangan, meski sudah menjual nama PSI, adalah karena dirinya belum bergabung dengan PSI.

Artinya, kali ini, karena sentuhan tangannya, PSI akan memperoleh hasil yang berbeda. Bahkan, Jokowi turun langsung mulai saat ini pun, hasilnya belum tentu akan jauh lebih baik.

Apalagi resistensi terhadap dugaan ijazah palsu tak akan pernah selesai, karena jalur yang ditempuhnya adalah hukum, bukan membukanya saja secara baik-baik. Kalau asli, kenapa tak dibuka saja? 

Ahmad Ali sudah mengatakan sejak awal agar kader PSI pasang badan terhadap Jokowi. Siapa pun yang menyerang Jokowi harus diserang balik. Termasuk, soal dugaan ijazah palsu.

Benny K Harman, Anggota DPR dari Partai Demokrat, yang mencoba menyentil kasus ijazah Jokowi dan Arsul Sani dibalas langsung oleh Ahmad Ali.

"Tak semudah itu diperlihatkan langsung selesai. Proses hukum itu jelas, yang menuduh dialah yang membuktikan. Jangan lempar batu sembunyi tangan," kata Ahmad Ali.

Membesarkan PSI dengan cara pasang badan terhadap Jokowi yang selalu diserang banyak pihak, apakah bisa dengan mudah PSI menjadi pemenang? Entahlah. 

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya