Berita

Arif Satria sesaat sebelum dilantik sebagai Kepala BRIN di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 10 November 2025. (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Publika

Pangan, Energi dan Air

RABU, 12 NOVEMBER 2025 | 07:10 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN suasana di gedung BRIN: tak sedikit moral para peneliti nyaris hancur lebur, seperti gelas kaca yang terjatuh dari rak tinggi. Mereka puluhan tahun nyaman di lembaga penelitian masing-masing, dengan jabatan dan ruang kerja, bangga dengan laboratorium, tim, dan tumpukan data yang rapi. 

Tapi, tapi kemudian semua itu diangkut, dipaksa bersatu dalam satu badan jumbo bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di lembaga baru ini, nama-nama mereka tak jarang hanya jadi pajangan di direktori, wajah-wajah di papan org chart yang lebih menyerupai stempel birokrat ketimbang ilmuwan. 

Anda tahulah, posisi pimpinan BRIN sekarang ini banyak diisi oleh figur yang lebih piawai bermain politik dari meramu hipotesis dan angka-angka statistik. Para penliti semakin terpojok di antara tuntutan rakyat yang mengharapkan uang pajak mereka tak dihambur-hamburkan untuk menggaji mereka. 


Frustasi berlapis-lapis mengendap di sudut-sudut laboratorium, tumpukan laporan menumpuk tanpa disentuh. Dan burung-burung hantu yang sejak lama menjadi lambang kecerdasan seolah hidup, menempati rak-rak tinggi, seakan mengangguk setuju: "Ya, ini tempatnya ilmuwan jadi dekorasi."

Masuklah Arif Satria ke sana, segera seusai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana (11/11/2025). Ia bukan peneliti kaleng-kaleng. Akademisi kelahiran Pekalongan (1971) ini kolektor hak cipta dan paten puluhan buah, pemenang Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (2009) dan Yamamoto Award (2008). 

Bukan sekadar akademisi yang duduk manis di laboratorium, ia maestro invensi yang kini ditantang mengubah BRIN dari markas burung hantu menjadi markas inovasi hidup. Ribuan peneliti, ilmuwan, dan innovator ada di bawah komandonya, menunggu untuk dihidupkan kembali semangatnya, dipandu dari rasa lesu menjadi energi produktif.

Dalam wawancara usai pelantikan, Arif menegaskan fokusnya yang jelas sesuai arahan Prabowo: pangan, energi, dan air. Ini tiga pilar vital yang sering kita abaikan sampai listrik padam, air habis, atau nasi di meja hanya impian. Ini tiga sasaran utama program-program besar Prabowo.

Arif menekankan konsolidasi horizontal antarkementerian dan perguruan tinggi, serta vertikal dari pemerintah pusat sampai daerah. Bayangkan, setiap provinsi punya Sains Technopak yang nyambung ke industri lokal. Pengalamannya membangun Sains Technopak di IPB siap direplikasi di seluruh Indonesia. 

Ia membayangkan masalah-masalah lokal bisa diatasi tanpa menunggu Presiden inspeksi sambil memegang kacamata hitam ala agen rahasia. Ia menekankan hilirisasi riset: dari invensi menjadi inovasi. Jangan sampai paten canggih hanya jadi wallpaper laboratorium, sementara rak-rak penuh burung hantu mengangguk pasrah. 

Jumlah peneliti kita diakuinya masih sedikit, sehingga manajemen talenta menjadi penting. Orang-orang dengan passion harus diberi ruang; jangan sampai ide cemerlang mati di meja kerja, terperangkap di antara tumpukan jurnal dan rak-rak berdebu yang selama ini dihuni burung hantu.

Anggaran? Memang baru tersedia 0,2% dari GDP -ya cukuplah untuk beli pena dan kertas, mungkin juga sepasang teropong untuk mengawasi burung hantu. Tapi Arif punya trik: bermitra dengan industri dan sektor swasta. Filosofinya: industri tanpa inovasi berat, riset tanpa implementasi sia-sia.

BRIN sudah seharusnya jadi jembatan antara sains dan kebijakan, laboratorium dan ladang, kampus dan desa. Kalau berhasil, indeks global tersenyum, GDP per kapita berkilau, dan rakyat bisa makan sambil tersenyum. Kalau gagal, lucu: akademisi jadi nakhoda negara, pidato panjang penuh jargon, dan rakyat pun menatap rak berdebu.

Visi Arif: memperkuat ekosistem riset, mempercepat invensi jadi inovasi, menjadikan sains tulang punggung pembangunan peradaban, bukan sekadar pajangan akademik. Peradaban besar sejatinya memang lahir dari hasil-hasil riset yang membumi dan dirasakan manfaatnya oleh warga dunia.

Bayangkan: para khalifah dulu membiayai astronomi, kedokteran, dan matematika demi peradaban besar. Sekarang, kita harus membiayai birokrasi riset agar burung hantu di rak BRIN berubah menjadi merpati inovasi, berterbangan menyebar solusi, dan rakyat bisa tersenyum sambil berkata, "Akhirnya ilmu itu bisa makan!"

Tapi jangan lupa, Arif memang harus menghadapi diplomasi ala sinetron ilmiah. Ia paham betul bagaimana kementerian saling tarik tambang anggaran, birokrat sibuk dengan rapat berantai, dan burung hantu menonton dari rak, seolah menilai setiap langkah dengan tatapan menghakimi. 

Di sinilah Arif harus bermain akrobat: mengayun riset dari laboratorium ke ladang, dari paten ke produksi, dari teori ke nasi di meja rakyat, sambil meyakinkan semua pihak bahwa inovasi bukan sekadar jargon, tapi senjata utama kemajuan bangsa. Negeri kita besar, selama ini hanya jadi pasar produk inovasi bangsa lain.

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya