Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Berdayakan Industri Kecil Lewat Koperasi

SENIN, 10 NOVEMBER 2025 | 03:18 WIB

AKHIR-akhir ini pemerintah menyerukan pelarangan terhadap impor pakaian bekas yang menurut hukum dinyatakan ilegal. Tapi upaya untuk memberikan solusi belum cukup komprehensif. Para pedagang kecil dan kuli panggul serta industri garmen dalam negeri yang sudah lama terlanjur mati belum diberikan langkah solutif. 

Pelarangan impor pakaian bekas memang langkah yang benar demi melindungi industri tekstil nasional, namun kebijakan itu akan kehilangan makna bila rakyat kecil justru menjadi korban. Pemerintah harus hadir bukan hanya sebagai penegak larangan, tetapi juga sebagai pemberi jalan keluar yang berkeadilan. Para pedagang kecil dan kuli panggul ini tidak bersalah. Mereka adalah korban sistem yang rusak, bukan pelakunya. 

Maraknya praktik thrifting barang impor ilegal adalah akibat dari gagalnya negara menciptakan sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil. Ketika barang ilegal lebih mudah masuk daripada produk dalam negeri dijual, maka yang menderita adalah produsen lokal dan pelaku usaha mikro.


Larangan thrifting barang ilegal jangan berhenti pada razia dan pemusnahan barang. Negara mestinya mengurus nasib orang-orang di belakang tumpukan baju itu.  Para pedagang kecil, buruh bongkar muat, dan kuli panggul di pasar yang kehilangan mata pencaharian.

Solusi bagi mereka tidak bisa sekadar bantuan tunai atau program karitatif ataupun pelatihan yang seringkali hanya bersifat seremonial.  Solusinya harus berupa sistem ekonomi baru yang mampu menampung tenaga kerja informal ke dalam kegiatan produktif dan legal dan disinilah lembaga penting milik rakyat seperti koperasi seharusnya dihadirkan. 

Koperasi dapat menjadi wadah transisi ekonomi rakyat untuk mengalihkan tenaga dan kreativitas pedagang thrifting ilegal ke sektor-sektor yang sah dan produktif.  Selain memperkuat koperasi, industri garmen lokal dan industri kreatif yang menyertainya. 

Pengalaman Jepang dan Amerika Serikat yang menggunakan koperasi untuk memperkuat pelaku usaha mikro dan kecil. Di Jepang, ada koperasi Usaha Mikro dan Kecil. Fungsinya adalah mengkonsolidasikan UMK baik di bidang industri kecil dan kreatif serta perdagangan. 

Untuk usaha di bidang industri kecil dan kreatif, mereka fungsikan koperasi untuk pembelian bersama bahan baku agar lebih efisien, kontrol kualitas, dan pemasaran baik lokal maupun internasional serta kegiatan pendukung lainya seperti pendidikan dan pelatihan dan bahkan hingga riset dan pemgembangan. Untuk usaha perdagangan, koperasi berfungsi sebagai grosir untuk pembelian bersama (joint buying), distributor dan grosir selain fungsi pendukungan yang sama seperti di sektor industri. 

Hal yang menarik lagi untuk khusus di Jepang misalnya, muncul juga koperasi pekerja (worker cooperatives) yang berfungsi mengkonsolidasikan pekerja pekerja di sektor UMK seperti pekerja industri terkait dari kuli panggul, pekerja eksebisi, hingga designer  dan lain sebagainya. 

Peranan pemerintah bukan hanya membentuk regulasi dan kebijakan yang mendukung. Pemerintah harus memberikan banyak insentif bagi UMK yang bergabung di koperasi seperti insentif keringanan dan pembebasan pajak, kebijakan trade off seperti subsidi logistik agar harganya terjangkau bagi konsumen, serta paket kebijakan pendukung lainnya seperti pendukungan pembiayaan bagi koperasi untuk selenggarakan pendidikan dan pelatihan dan lain sebagainya. 

Selain itu, pemerintah juga sungguh sungguh memberikan affirmative action policy untuk UMK dapat bersaing di industri. Misalnya seperti dimasukkannya pengecualian bagi koperasi untuk bertindak monopoli dalam banyak hal yang bertujuan melindungi keberlangsungan bisnis mereka. 

Kita bisa adopsi model serupa untuk konteks Indonesia. Misalnya, pemerintah memfasilitasi pembentukan Koperasi Tekstil dan Garmen Rakyat. Koperasi Pemasaran Tekstil yang mengorganisasi pedagang kecil. Kemudian Koperasi Pekerja penjahit rumahan, dan kuli panggul hingga pekerja kreatif lainya hingga seperti designer dan pekerja eksebisi , serta pelaku thrifting  produk lokal ke dalam ekosistem produksi dan distribusi legal.

Lebih penting dari itu semua. Koperasi yang dibentuk harus benar benar pelaku dan dikembangkan secara demokratis dan menjalankan prinsip koperasi. Bukan koperasi abal abal.  

Pemerintah melalui Lembaga Penyaluran Dana Bergulir (LPDB) yang merupakan lembaga taktis di bawah Kementerian Koperasi sebetulnya dapat diarahkan langsung untuk memberikan dukungan pembiayaan bagi mereka. Sehingga  perdagangan thrifting industri lokal yang  legal, Higienis, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat produksi lokal, dapat berkembang dan memberi nilai tambah ekonomi nasional. 

Namun demikian,  penegakan hukum terhadap penyelundupan pakaian bekas impor harus tegas dan menyeluruh. Ia menilai selama ini aparat hanya berani menindak pelaku kecil di lapangan, sementara pelaku besar di balik jaringan impor ilegal justru tidak tersentuh.

Selama ini yang disasar oleh aparat hanya kuli panggul dan pedagang kecil, tapi para bandar besar dan oknum Bea Cukai yang bermain di pelabuhan tidak pernah tersentuh. Padahal barang itu ada dalam bentuk kontainer dan beredar di pasaran secara luas jadi mustahil tidak dapat diusut oleh aparat siapa importirnya. 

Pemerintah dalam hal ini juga harus segera melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan impor, serta menetapkan indikator kinerja (KPI) yang terukur bagi Kementerian Perdagangan dan Perindustrian. Industri tekstil dalam negeri yang terus merosot dan pasar dibanjiri barang ilegal itu menunjukkan jika kementeriannya gagal. Evaluasi harus dilakukan secara terbuka. Pemerintah harus membangun kembali sistem industri rakyat yang berdaulat ?" dari bahan baku, produksi, hingga distribusi.

Negara harus wajibkan sistem penandaan produk nasional atau local content mark agar setiap produk menunjukkan berapa persen kandungan lokalnya. Dengan begitu, publik tahu mana produk yang benar-benar mendukung ekonomi nasional. 

Lebih dari semua itu, kedaulatan ekonomi bukan slogan, melainkan tindakan nyata. Presiden harusnya berani menegakkan hukum, mencopot pejabat yang gagal, dan membangun sistem ekonomi yang berpihak pada produksi rakyat.


Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) dan CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR Federation)


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya