Berita

Kolase Jokowi, Budi Arie Setiadi dan Prabowo Subianto. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Projo Pergi Jokowi Ditinggal Sendiri, Prabowo Jangan Sungkan Lagi

SENIN, 03 NOVEMBER 2025 | 19:49 WIB | OLEH: EDY MULYADI

KONGRES III Projo pada awal November 2025 jadi tonggak menarik dalam sejarah politik pascarezim Jokowi. Untuk pertama kalinya, organisasi relawan yang selama satu dekade dikenal sebagai “pasukan pemukul” Jokowi itu menanggalkan wajah sang junjungan dari logonya. Simbol lama diganti, arah politik berubah, dan Budi Arie Setiadi, tokoh utama sekaligus ketua umum Projo, resmi bergabung ke Partai Gerindra. Bukan PSI.

Publik membaca ini dengan cepat Jokowi ditinggal. Bukan hanya oleh rakyat, tapi oleh “penyembahnya” sendiri. Selama bertahun-tahun, Budi Arie dan Projo adalah benteng paling militan Jokowi. Mereka membela, menutup aib, dan mengaminkan semua kebijakan. Betapa pun ngawurnya. Kini mereka balik kanan. Meninggalkan Jokowi sendirian di penghujung karier politiknya.

Fenomena ini bukan sekadar perpindahan relawan. Ini deklarasi diam bahwa Jokowi tak lagi sakti. Aura kekuasaan yang dulu membuat siapa pun tunduk, kini sirna. Projo, yang lahir dari semangat “Jokowi adalah rakyat”, kini menjelma menjadi “Projo tanpa Jokowi”. Ironis.


Alasan resmi penghapusan wajah Jokowi dari logo Projo terdengar normatif. Katanya, agar tidak terkesan mengkultuskan individu dan lebih fokus pada perjuangan “pro-rakyat”. Tapi publik tentu tak mudah dikelabui. Kalau baru sekarang menolak kultus individu, berarti selama ini mereka sadar telah melakukannya. Artinya, perubahan ini bukan penyadaran ideologis, melainkan strategi bertahan. Projo sekadar berganti kulit untuk bisa hidup di bawah matahari baru bernama Prabowo-Gibran.

Lebih menarik lagi, Jokowi sendiri absen di kongres itu. Hanya video pendek dikirim sebagai “salam perpisahan”. Gestur dingin ini memunculkan tafsir berlapis. Sebagian menyebut Jokowi enggan hadir karena malu. Budi Arie, anak kesayangannya, justru memilih Gerindra ketimbang PSI yang notabene proyek politik keluarga Jokowi. Ada pula yang menilai Jokowi sadar, panggung sudah bukan miliknya. Tak ada lagi tempat bagi raja yang kehilangan mahkota.

Ketiadaan Jokowi di kongres itu adalah simbol paling telanjang dari isolasi politiknya. Dulu, Projo adalah mesin utama kemenangan Jokowi. Kini mesin itu resmi dimatikan dan diganti mesin dengan program baru: loyalitas kepada Prabowo. Bagi banyak orang dalam lingkaran kekuasaan, kesetiaan rupanya hanya berlaku selama listrik kekuasaan masih mengalir.

Tambahkan pula bayang-bayang kasus judi online (judol) yang menyeret nama Budi Arie. Setelah dicopot dari kursi Menkominfo pada September lalu, namanya disebut dalam persidangan kasus suap untuk melindungi jaringan situs judol. Mahfud MD bahkan menilai Budi “sangat layak jadi tersangka”. Dalam situasi seperti itu, berpindah ke Gerindra jelas bukan langkah ideologis, melainkan langkah pragmatis. Lebih tepat lagi, penyelamatan. Jokowi tak lagi bisa memberi perlindungan. Maka, berlindunglah di bawah sayap Prabowo.

Ketika anak-anak politik Jokowi satu per satu mencari selamat, jelas bahwa era Jokowi benar-benar usai. Projo melepas logo. Budi Arie pindah kapal. PSI terpinggir. Dan Jokowi hanya bisa menatap dari jauh, sendirian. Semua ini mengirimkan pesan yang jelas bagi Presiden Prabowo Subianto: tidak perlu lagi sungkan, tidak perlu lagi menoleh ke belakang.

Prabowo kini punya justifikasi moral dan politik untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Dia tak berutang pada Jokowi, apalagi pada lingkaran lama yang penuh skandal. Jika Projo saja berani menanggalkan wajah Jokowi, mengapa Prabowo masih harus terus berada di bawah bayangannya?

Politik memang kejam. Kesetiaan hanyalah anak waktu. Dan waktu Jokowi telah habis. Dulu disembah, kini dilupakan. Dulu dielu-elukan, kini ditinggalkan. Projo pergi, Jokowi sendiri.

Bagi Prabowo, inilah momentum untuk menegaskan arah. Tegakkan wibawa tanpa beban masa lalu. Bersihkan istana dari sisa patronase lama. Tunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tak lahir dari bayangan, melainkan dari keberanian memutus rantai lama.

Sebab, dalam politik, yang abadi hanyalah kepentingan. Dan kali ini, kepentingan sejarah memanggil Prabowo untuk berdiri tegak?"tanpa bayang-bayang Jokowi.

Penulis adalah Jurnalis Senior


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Pemerintah Siapkan Skenario Haji Jika Konflik Timur Tengah Memanas

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:14

KPK Hormati Putusan Hakim, Penyidikan Dugaan Korupsi Kuota Haji Tetap Berlanjut

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:12

Naik Transjakarta Kini Bisa Bayar Tiket Pakai QRIS Tap BRImo

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:06

Marak OTT Kepala Daerah, Kemendagri Harus Bertindak

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:01

RDF Plant Rorotan Diaktifkan Usai Longsor TPST Bantargebang

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:47

Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Dimulai Hari Ini

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:44

Lantik Pengurus DPW PPP Gorontalo, Mardiono Optimistis Menuju 2029

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:43

Harga Bitcoin Terkoreksi Tipis

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:34

Emas Logam Mulia Naik Rp40 Ribu, Dekati Harga Rp3,1 Juta per Gram

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:29

Viral Mobil Pickup Impor India untuk Koperasi Desa Tiba di Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya