Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Miskonsepsi 'Air Pegunungan' dan Ilmu Hidrologi BRIN

KAMIS, 30 OKTOBER 2025 | 11:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Video sidak yang memperlihatkan pabrik Aqua mengambil air dari sumur bor dalam, sempat membuat banyak orang bertanya-tanya: kalau dari sumur bor, apakah air itu masih pantas disebut air pegunungan?

Menurut para ahli di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), cara pengambilan itu justru benar dan ilmiah.

Peneliti hidrologi dari BRIN, Rachmat Fajar Lubis, menjelaskan bahwa penanaman pipa ke bawah tanah (sumur bor vertikal) adalah cara yang wajib dilakukan dalam industri air minum kemasan (AMDK). 


“Hampir semua perusahaan AMDK mengambil air melalui pemasangan pipa vertikal di sekitar mata air,” kata Fajar dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis 30 Oktober 2025.

Mengapa tidak ambil langsung dari mata air? Fajar menjelaskan, air yang keluar langsung di permukaan tetap berisiko terpapar bakteri dan mikroorganisme dari sekitar sumber. Tanah, katanya, menyimpan banyak mikroba. Di sekitar mata air biasanya juga terdapat aktivitas manusia atau hewan yang berpotensi mencemari. Jika air diambil langsung dari permukaan, kualitasnya bisa berubah-ubah dan tidak terjamin higienis. 

Oleh karena itu, menurut Fajar, pemasangan pipa vertikal dilakukan untuk mengambil air dari akuifer dalam. Akuifer adalah lapisan batuan di bawah tanah yang menyimpan air. 

Air yang diambil dari akuifer dalam inilah yang disebut air pegunungan yang terlindungi. Air ini berasal dari hujan di daerah pegunungan yang meresap melalui lapisan-lapisan tanah dan batuan. Selama perjalanannya, air tersebut tersaring secara alami. Lapisan batuan kedap air di atas akuifer bertindak seperti penutup alami yang melindungi air di dalamnya dari cemaran di permukaan.

Pemasangan pipa secara vertikal itu bukan upaya menyembunyikan sumber air, melainkan sebuah metode ilmiah untuk memastikan air yang diminum benar-benar murni dan higienis.

“Airnya tetap berasal dari ekosistem pegunungan. Penanaman pipa secara vertikal hanya untuk memastikan air yang diambil terlindungi dari potensi cemaran air dari tanah dangkal,” tegas Fajar lagi. 

BRIN menyimpulkan bahwa istilah "air pegunungan" tetap berlaku. Sebutan itu merujuk pada asal-usul air yang memang dari ekosistem pegunungan, meskipun cara pengambilannya dilakukan secara modern dan tertutup (dari akuifer dalam) demi menjamin kemurnian dan keamanan konsumen.

Danone Indonesia telah menegaskan bahwa air Aqua tetap berasal dari sumber air pegunungan. Bedanya, air diambil dari akuifer dalam yang terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air.

“Air Aqua bersumber dari 19 titik di pegunungan yang tersebar di Indonesia, dipilih melalui proses seleksi ilmiah yang ketat,” tulis Aqua dalam pernyataan resminya. Perusahaan menyebut kedalaman akuifer bervariasi, dan sebagian bersifat self-flowing atau mengalir  alami.

Lapisan akuifer tersebut, menurut Aqua, tidak bersinggungan dengan air dangkal yang digunakan masyarakat, sehingga tidak mengganggu ketersediaan air di sekitar wilayah pabrik.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya