Berita

Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD) Victor Irianto Napitupulu.(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

LP2AD:

Tata Kelola TPST Bantar Gebang Buruk!

SELASA, 09 SEPTEMBER 2025 | 23:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pengelolaan fasilitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat selama belasan tahun tidak transparan. 

Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD) Victor Irianto Napitupulu mengatakan, kompleks pengolahan sampah terbesar di Indonesia itu memiliki sederet fasilitas modern, namun hasilnya tidak jelas.

"Kawasan industri sampah ini sebenarnya sudah dilengkapi fasilitas kompos, daur ulang, pemilahan sampah, pembuatan gas metana dari sampah organik (pirolysis), hingga pembangkit listrik berkapasitas 26 MW. Tapi kenyataannya, tidak terjawab oleh pihak pengelola, baik PT Godang Tua Jaya maupun PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI)," kata Victor melalui keterangan elektronik, Selasa 9 September 2025.


Victor juga mengingatkan bahwa sejak tahun 2018-2019, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah masuk ke TPST Bantar Gebang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk membangun pilot project Pengolahan Sampah Proses Termal melalui PLTSa. Namun, hingga kini hasilnya tidak diketahui publik.

Lebih jauh, Victor menyinggung adanya rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di era Gubernur Pramono Anung untuk membangun dua lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tambahan di Bantar Gebang. 

"Rumornya memang begitu, tapi apakah benar-benar terealisasi, masyarakat berhak tahu," kata Victor.

Sorotan juga diarahkan pada fasilitas RDF (Refuse-Derived Fuel) di TPST Bantar Gebang. Menurut Victor, sampai saat ini operasional RDF belum pernah dievaluasi secara menyeluruh. 

"Kalau RDF Bantar Gebang maksimal, seharusnya produksi RDF bisa menghidupkan proyek RDF Rorotan. Tetapi, bila hasil evaluasi menunjukkan kinerja tidak maksimal, maka wajar bila RDF Rorotan pun akan gagal," kata Victor.

Yang paling menjadi tanda tanya besar.  lanjut Victor, terkait hasil pengolahan gas metana dari sampah organik (pirolysis). 

"Kemana hasilnya selama ini? Isu yang beredar, pengelolaan gas metana ini justru diberikan kepada mafia sampah. Benar atau tidaknya tentu harus ditelusuri," kata Victor.

Ia menyebut, persoalan tersebut bukan sekadar isu teknis, melainkan masuk ranah pengawasan internal pemerintah daerah. 

"Itu domainnya Inspektorat DKI, BPKP DKI, BPK RI Perwakilan DKI Jakarta, dan DPRD DKI Jakarta. Mereka harus segera memanggil Kadis LH DKI, Asep Kuswanto untuk menjelaskan ke publik kepada siapa hak pengelolaan pirolysis diberikan selama ini," kata Victor.

Victor meminta Pemprov DKI Jakarta tidak menutup mata. Transparansi pengelolaan sampah di Bantar Gebang sangat penting, bukan hanya untuk menjaga tata kelola lingkungan, tapi juga agar tidak terjadi praktik mafia di balik proyek energi sampah.

"Kuat dugaan saya PLTSa rencana Pramono sulit terealisasi, baik dua unit PLTSa di TPST Bantar Gebang dan dua lainnya di dalam kota," pungkas Victor.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya