Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOL/Adityo Nugroho)

Nusantara

Harga Pangan Mahal jadi Ironi Negara Maritim dan Agraris

JUMAT, 22 AGUSTUS 2025 | 05:58 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Ketua Advokasi Persaudaraan Tani-Nelayan Indonesia (PETANI) Tunjung Budi Utomo, menyoroti semakin mahalnya harga kebutuhan pokok seperti beras, sayur, buah, daging, bahkan ikan. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan agraris yang seharusnya mampu mencukupi pangan rakyatnya.

“Ironis, negara maritim dan agraris, tapi ikan susah didapat, beras, sayur, buah, dan daging harganya melambung tinggi,” ujar Tunjung dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis malam, 21 Agustus 2025.

Menurutnya, akar masalah ini bukan sekadar soal distribusi, melainkan dampak dari dominasi kelompok kapitalisme yang menggeser orientasi masyarakat produsen yakni petani, peternak, dan nelayan hanya sebagai konsumen.


“Kapitalisme mengubah tatanan sosial masyarakat. Yang dulunya kita kuat di sektor produksi pertanian, peternakan, dan perikanan, sekarang dipaksa hanya menjadi pasar konsumen,” tegasnya.

Lebih jauh, Tunjung mengkritik praktik penguasaan ruang hidup masyarakat pesisir yang semakin masif. Reklamasi pantai dan pembangunan hunian mewah, kata dia, menjadi cara kelompok kapital besar menguasai tanah daratan, pesisir, hingga laut.

“Cukup dengan menguasai tanah daratan, pesisir, pantai, dan laut melalui reklamasi lalu bangun hunian mewah, maka akses masyarakat terhadap sumber pangan tergerus habis. Nelayan kehilangan ruang tangkap, petani kehilangan lahan. Akibatnya, rakyat makin sulit menjangkau pangan murah dan sehat,” ungkapnya.

Ia mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah korektif dengan memperkuat kembali kedaulatan pangan berbasis produksi rakyat, bukan kepentingan kapital. 

“Jika tidak ada keberpihakan yang nyata, maka negara maritim dan agraris ini hanya tinggal slogan tanpa makna bagi rakyat kecil,” pungkas Tunjung.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya