Berita

Ilustrasi (Foto: 9News)

Dunia

Qantas Didenda Rp963 Miliar karena Pecat Karyawan

SENIN, 18 AGUSTUS 2025 | 09:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Maskapai penerbangan terbesar Australia, Qantas, diperintahkan membayar denda sebesar 90 juta Dolar Australia atau setara Rp963 miliar karena secara ilegal memecat lebih dari 1.800 pekerja saat pandemi Covid-19.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam sidang Pengadilan Federal yang digelar Senin, 18 Agustus 2025.

"Merampas hak kerja seseorang secara ilegal berarti merampas sebagian martabat kemanusiaannya, dan hal ini tidak dapat diredakan hanya dengan ungkapan penyesalan," kata Hakim Michael Lee, dikutip dari 9News, Senin 18 Agustus 2025.


Pada tahun 2020, Qantas mengalihdayakan pekerjaan petugas bagasi, kebersihan, dan staf darat. Pengadilan menilai langkah itu dilakukan untuk melemahkan posisi tawar serikat pekerja dalam negosiasi upah. Qantas sempat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, namun ditolak. Hal ini membuka jalan bagi pengenaan denda.

Serikat Pekerja Transportasi meminta denda maksimal 121 juta Dolar Australia. Namun, Qantas mendesak Hakim Michael Lee agar menjatuhkan denda lebih ringan, yaitu di kisaran 40–80 juta dolar Australia.

Selain denda, Qantas juga sudah membayar 120 juta dolar Australia sebagai kompensasi kepada staf darat atas kerugian ekonomi, rasa sakit, dan penderitaan sejak pekerjaan mereka dialihdayakan. Pihak Qantas beralasan, tindakan mereka merupakan kesalahan manajemen, bukan pelanggaran hukum yang disengaja.

Masalah Qantas tidak berhenti di sana. Maskapai ini juga terbukti menjual tiket penerbangan yang sudah dibatalkan selama bertahun-tahun. Akibatnya, mereka dikenai denda tambahan sebesar 100 juta dolar Australia setelah digugat Komisi Persaingan dan Konsumen Australia.

Pemecatan ilegal itu terjadi saat Qantas dipimpin Alan Joyce. Di bawah kepemimpinannya, maskapai sempat merugi miliaran dolar akibat pandemi yang memukul industri penerbangan. Namun, Joyce tidak menyinggung skandal tersebut saat berbicara di sebuah konferensi pekan lalu. Ia justru menekankan keberhasilan Qantas bertahan di masa sulit.

“Ketahanan bukanlah reaksi sesaat, melainkan keputusan yang diambil bertahun-tahun sebelumnya, meski sering kali tidak nyaman atau tidak populer,” kata Joyce.

Qantas menjadi satu-satunya maskapai besar Australia yang tidak bangkrut selama atau setelah pandemi.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Selesaikan Bentrok di Matraman dengan Kepala Dingin

Senin, 27 Juli 2026 | 20:25

Metode Backfill Tailing jadi Andalan Tambang Bawah Tanah Lebih Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:24

Putusan Majelis Syura PKS: Dukung Kebijakan Ekonomi Prabowo Hingga Soroti LGBTQ

Senin, 27 Juli 2026 | 20:23

Pramono Minta Warga Kepala Dingin Sikapi Bentrokan di Matraman

Senin, 27 Juli 2026 | 20:16

Sebagai Wakil Rakyat, DPR Punya Tiga Tugas yang Wajib Dijalankan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:14

KSSK Bakal Libatkan Danantara dalam Setiap Pengambilan Keputusan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:02

Kuasa Hukum Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masih Abu-Abu

Senin, 27 Juli 2026 | 19:59

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Komunitas Lintas Iman Satukan Tekad Hadapi Krisis Iklim

Senin, 27 Juli 2026 | 19:49

Kompetisi Debat Pemilu ke-VI Bawaslu Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Senin, 27 Juli 2026 | 19:48

Selengkapnya