Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Menimbang Tanggung Jawab dan Konsekuensi Diam

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
SELASA, 05 AGUSTUS 2025 | 04:41 WIB

DALAM masyarakat yang hiruk-pikuk oleh opini, komentar, dan ujaran dari segala penjuru, kita sering keliru memahami esensi dari berbicara. Kita menyangka bahwa tujuan utama berbicara adalah agar didengar. Padahal, berbicara seharusnya dipahami sebagai bentuk tanggung jawab. Dan lebih dari itu, baik berbicara maupun diam, keduanya mengandung konsekuensi.

Dalam filsafat komunikasi, kata-kata bukan sekadar alat untuk menyampaikan isi pikiran, melainkan tindakan etis. Søren Kierkegaard, filsuf asal Denmark, pernah berkata, “Orang dapat menggoda dengan kata-kata, tetapi orang juga bisa menyelamatkan hidup dengan kata-kata.” Artinya, setiap ucapan membawa dampak, baik membangun atau merusak, menyembuhkan atau melukai.

Namun kita juga perlu mencermati sisi lainnya: diam bukanlah netralitas. Dalam banyak situasi genting, diam adalah posisi politik. Desmond Tutu, tokoh perjuangan anti-apartheid Afrika Selatan, dengan lantang menyatakan, “Jika kamu netral dalam situasi ketidakadilan, maka kamu telah memilih pihak penindas.” Ungkapan ini menyentak, karena ia membongkar ilusi bahwa diam berarti aman dan bebas nilai.


Kita bisa menengok ke belakang pada sejarah kelam abad ke-20: kebangkitan Nazi Jerman. Ketika Hitler mulai membangun kekuasaan absolut dan melakukan penindasan terhadap kelompok-kelompok minoritas, banyak warga Jerman yang memilih diam. Sebagian karena takut, sebagian karena merasa bukan urusan mereka. Namun diam mereka memungkinkan kekuasaan tiran tumbuh subur.

Martin Niemöller, seorang pendeta Jerman yang awalnya mendukung Hitler namun kemudian menyesal, menuliskan puisi reflektif yang terkenal: “Mula-mula mereka datang untuk orang Yahudi, dan saya diam saja karena saya bukan orang Yahudi.

Lalu mereka datang untuk kaum sosialis, dan saya diam saja, karena saya bukan sosialis. Lalu mereka datang untuk serikat buruh, dan saya diam saja karena saya bukan anggota serikat buruh. Lalu mereka datang untuk saya dan tak ada seorang pun yang tersisa untuk membela saya”.

Puisi ini menjadi simbol bahwa diam dalam menghadapi ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa tanggung jawab moral tidak bisa digantikan oleh kenyamanan pribadi.

Sekarang, kebebasan berbicara telah menjadi hak yang relatif mudah diakses. Tidak ada lagi tirani yang secara langsung melarang orang berpendapat di ruang publik, apalagi dengan hadirnya media sosial, kanal pribadi, dan berbagai platform digital yang memberi setiap orang panggung terbuka. Namun ironisnya, justru di tengah kelimpahan kebebasan itu, banyak orang memilih diam. Bukan karena takut ditangkap, tetapi karena takut kehilangan posisi, takut tak disukai, takut dianggap kontroversial dan pastinya, takut menjadi tidak didengar. 

Tekanan bukan lagi datang dari luar, melainkan dari dalam: rasa enggan untuk merugi secara sosial, ekonomi, atau psikologis. Inilah bentuk sensor paling halus namun paling mematikan, sensor diri sendiri demi rasa aman. Padahal, suara yang tak pernah keluar tak akan pernah membawa perubahan.

Begitu pula, kita menyaksikan bagaimana ujaran sering dikomodifikasi. Banyak berbicara, tapi tak ada tanggung jawab. Opini dilontarkan sembarangan, tanpa dasar, tanpa rasa hormat pada fakta atau dampak sosialnya. Sementara itu, mereka yang justru seharusnya bersuara akademisi, tokoh agama, pemuka masyarakat, kadang memilih diam, entah karena ketakutan, pragmatisme, atau kehilangan idealisme.

Kita harus mengembalikan nilai luhur dalam berbicara: bukan demi popularitas, tapi karena kewajiban moral. Dan dalam diam pun, kita perlu bertanya: apakah ini bentuk kebijaksanaan atau bentuk ketakutan? Karena berbicara maupun diam bukan soal nyaman atau tidak nyaman.

Akhirnya, seperti yang pernah dikatakan Elie Wiesel, penyintas Holocaust dan peraih Nobel Perdamaian: “Selalu berpihaklah kepada korban. Diam memperkuat algojo, bukan yang tertindas.”

Maka, marilah kita berbicara saat dibutuhkan, dan diam dengan penuh kesadaran. Karena keduanya adalah pilihan etis yang akan kita pertanggungjawabkan, jika bukan hari ini, maka di hadapan sejarah, dan di hadapan nurani kita sendiri.

*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya