Berita

Ilustrasi: puluhan bangkai mobil milik salah satu show room mobil di Jakarta setelah dibakar massa pada Kamis malam 14 Mei 1998. Foto: ARSIP ANTARA FOTO/Hadiyanto/RF02/sk/Koz/asf/hp.

Publika

Heboh Perkosaan Massal Mei 1998: Realitas atau Ilusi?

JUMAT, 04 JULI 2025 | 20:24 WIB | OLEH: DARMAWAN SEPRIYOSSA*

PERNYATAAN Menteri Kebudayaan Fadli Zon tentang absennya bukti kuat terkait isu perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998, memicu perdebatan, baik di media massa maupun media sosial. Sebagian publik menilai isu itu sebagai luka sejarah yang tak boleh dilupakan. Tapi sebagian lainnya, paling tidak saya, melihatnya sebagai narasi yang sejak awal bermasalah secara metodologis, bahkan mungkin politis.

Isu ini bukan baru. Ia sudah mengemuka sejak awal kerusuhan 13-15 Mei 1998 mengguncang Jakarta dan sejumlah kota lain. Tapi saat Majalah Tempo akan kembali terbit pasca-bredel, tema itulah -penjarahan dan perkosaan massal- yang hendak kami angkat sebagai laporan utama. Saya ada di ruang redaksi itu. Bersama para reporter lain, selama lebih dari dua bulan kami mencari, menelusuri, menggali. Untuk "perkosaan massal", hasilnya nihil.

Fakta itu membuat waktu kami mencari ditambahkan sebulan lagi. Tetap nihil. Maka edisi perdana Tempo pasca-bredel, yang akhirnya terbit Oktober 1998 dengan cover bergambar mata sipit menangis, tidak memuat satu pun nama korban langsung peristiwa "perkosaan massal" tersebut. Kami jelas kecewa. Tapi fakta tidak bisa dipaksa lahir hanya karena suasana mendukung.


Begitu isu tersebut memanas lagi akhir-akhir ini, di sebuah grup WA, Wahyu Muryadi, redaktur pelaksana (managing editor) Majalah Tempo saat itu, memberi pengakuan yang terang. “Adakah yang bisa membuktikan atau setidaknya yang berani memberikan testimoni korban perkosaan saat itu? Saat saya menjadi Redpel Tempo yang memberitakan peristiwa tersebut, kami gagal mendapatkan info sahih pemerkosaan. Banyak katanya-katanya.”

Saya, Mas Wahyu, dan terutama Majalah TEMPO saat itu, bukan tidak percaya pada berita-berita yang merebak kuat. Tapi sebagai jurnalis, kami percaya bahwa keberanian menyampaikan kebenaran harus didampingi bukti dan verifikasi. Justru itulah yang tak kami temukan setelah tiga bulan (dua bulan plus satu bulan) pencarian.

Dalam forum Real Talk-IDN Times, Dr. Hermawan Sulistyo -peneliti senior LIPI dan Ketua Tim Asistensi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) yang menjadi tim investigasi TGPF- membuka kembali catatan lama yang masih relevan hingga kini. Hermawan, atau akrab disapa Kiki, bercerita bahwa timnya bahkan menggunakan pendekatan paling empatik: memilih polwan sebagai investigator lapangan, berharap korban akan lebih terbuka. Ia sendiri menyimpan semua data, tidak membagikannya bahkan kepada wakilnya.

Tim Kiki menyisir rumah sakit, bekerja sama dengan IDI, menerapkan Denver Protocol untuk menelusuri jejak medis kekerasan seksual. Ia bahkan dibimbing langsung oleh almarhumah dr. Rosita Noor, juga anggota TGPF. Salah satu korban, dengan nama samaran Vivian, sempat diperiksa secara medis, namun keburu dibawa keluarganya ke Taiwan sebelum bisa diwawancarai.

Ada pula kasus di Surabaya yang disebut-sebut jadi bukti kuat. Tapi setelah empat hari kunjungan halus dan pendekatan perlahan, sang korban mengaku: “Saya malah diberitakan diperkosa, padahal tidak.” Ketika Kiki bertanya kenapa tidak membantah, jawabnya sederhana, “Apa untungnya saya membantah? Saya malah akan didatangi wartawan lagi, diubek-ubek.”

Yang lebih dramatis, laporan yang menyebut 150 orang masuk berbarengan dan memperkosa di satu toko, dinyatakan tidak masuk akal. “Tokonya hanya 5x4 meter. Saya jamin seribu persen itu tidak mungkin,” kata Kiki.

Tentang angka “52 korban” yang akhirnya disebut dalam laporan resmi TGPF, Kiki secara jujur mengatakan “Saya mengikuti dari menit ke menit semua itu. Ketika data mentah saya sampaikan, tokoh-tokoh termasuk Saparinah Sadli cuma nanya, ‘Ki, ada nggak kasus? Satu saja. Setengah saja pun, sudah cukup buat saya.”  Tapi menurut Kiki, “Kami tidak nemuin. Mungkin ada tim lain yang menemukan?”

Di tengah minimnya data, narasi tetap menyebar luas?"dan sebagian dimanfaatkan dalam konteks yang sama sekali berbeda: pengajuan suaka.

Dalam “Journal of International Relations”-Undip, Volume 4, Nomor 2, 2018, Christian Silitonga menulis bahwa laporan Tempo, edisi 5 Desember 2004, mengungkap bahwa Kepolisian Federal AS,  FBI, menangkap 26 orang di Virginia, Amerika Serikat, 23 di antaranya adalah WNI. Mereka tergabung dalam sindikat pemalsuan dokumen suaka. Di antara modus yang digunakan adalah klaim palsu telah menjadi korban pemerkosaan massal dan kekerasan atas dasar etnis atau agama.

Kasus itu juga dicatat secara independen oleh surat kabar “The Washington Post”, yang menyebut bahwa penggeledahan itu terjadi pada 23 November 2004, menjerat 26 terdakwa -23 WNI- yang diduga menjual dokumen palsu untuk memperkuat aplikasi suaka mereka, termasuk modifikasi narasi kekerasan seksual. Washington Post juga menyebut delapan wanita yang menggunakan narasi sangat mirip tentang perkosaan oleh sopir taksi karena etnis mereka, hanya berbeda dalam tanggal/lokasi kejadian. The Post menyebut jaringan  itu “one-stop shopping for immigration fraud” dan secara resmi disebut “the largest known document fraud ring in Northern Virginia”. 

Departemen Kehakiman AS-c.q United States Citizenship and Immigration Services (USCIS) juga mencatat lebih dari 20.000 permohonan suaka dari Indonesia antara 1998?"2009. Banyak di antaranya diduga memakai pola kesaksian serupa. 

Yang menarik, Heru Susetyo (Universitas Indonesia) dalam beberapa kajian, termasuk tesis dan artikel, membahas fenomena “repetitive narrative” -yaitu penggunaan tema kekerasan berbasis etnis dan agama yang sangat mirip antarpemohon suaka asal Indonesia. Ia mencatat pola yang serupa pada cerita-cerita kesaksian, terutama saat membahas orang-orang etnis Tionghoa dan Kristen. 

Paul Marshall (Human Rights Watch/Hudson Institute) juga mengamati hal serupa dalam laporan-laporannya mengenai permohonan suaka dari Indonesia. Dia menyoroti klaim penganiayaan agama dan etnis yang sering kali diulang dengan format yang hampir sama. Tampaknya  untuk mempengaruhi keputusan permohonan suaka.

Saya jelas tidak menolak bahwa kekerasan bisa terjadi saat itu. Tapi “perkosaan massal” yang terorganisasi, dengan korban berjumlah puluhan hingga ratusan, adalah klaim luar biasa. Dan seperti kata Carl Sagan, “Extraordinary claims require extraordinary evidence.”

Dalam konteks sejarah yang kabur dan politik yang keruh, mitos sering kali menang. Tapi dalam dunia jurnalisme, keyakinan bukan bukti. Kesedihan bukan dokumen. Air mata bukan arsip. Kita boleh berempati, tapi tidak boleh gegabah.

Seperti diyakini dalam dunia keilmuan, "Truth does not fear investigation."  Di kalangan Muslim bahkan dikenal sebuah hadits yang amat masyhur. “Cukuplah seseorang disebut pendusta apabila ia menyampaikan semua yang ia dengar.” (HR Muslim). 

Karena itu saya, reporter Tempo di era itu dan hingga kini masih seorang wartawan, selalu skeptis akan isu perkosaan massal Mei 1998. Bukan karena tak berempati, tapi justru karena menghormati prinsip kebenaran yang harus diverifikasi. Kita tak bisa membangun masa depan dengan pondasi dusta, sebaik apa pun niatnya.

*Wartawan, penulis, dan host podcast hukum dan politik: Madilog-Forum Keadilan.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya