Berita

Peneliti SETARA Institute Achmad Fanani Rosyidi/Ist

Politik

Kasus Intoleransi di Sukabumi Bentuk Kegagalan Negara Lindungi Hak Konstitusional

KAMIS, 03 JULI 2025 | 12:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

SETARA Institute mengecam keras tindakan intoleransi berupa pembubaran paksa kegiatan ibadah pelajar Kristen yang tengah mengikuti retreat di sebuah vila di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, pada Jumat, 27 Juni 2025 lalu.

Peneliti Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) SETARA Institute Achmad Fanani Rosyidi menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan bentuk kekerasan yang melukai perasaan umat Kristen dan mencederai semangat kebhinekaan serta jaminan konstitusional kebebasan beragama di Indonesia.

Berdasarkan video yang beredar luas, ratusan warga mengepung lokasi retreat, melakukan intimidasi terhadap para pelajar yang sedang beribadah, serta merusak fasilitas dan simbol-simbol keagamaan seperti meja, kursi, dan kayu salib.


“Secara substantif, kasus tersebut menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi hak konstitusional warga negara,” tegas Fanani dalam keterangan resminya, Kamis 3 Juli 2025. 

Pembubaran tersebut, lanjut Fanani, dilakukan dengan dalih tidak adanya izin kegiatan keagamaan. Namun, ia menilai alasan tersebut hanya menjadi pembenaran bagi sikap intoleran dan konservatif sebagian masyarakat, yang sayangnya difasilitasi oleh pembiaran aparat negara.

SETARA Institute juga menyoroti dampak negatif dari Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 yang dinilai sangat restriktif. 

Menurut Fanani, dalam negara demokratis seperti Indonesia, kegiatan ibadah tidak seharusnya memerlukan izin, sebab UUD 1945 sudah menjamin kebebasan beragama dan beribadah bagi setiap warga negara.

“Kondisi intoleransi yang terjadi di Cidahu, Kabupaten Sukabumi merupakan bagian dari pola kekerasan yang terus berulang, khususnya di Provinsi Jawa Barat,” tambahnya.

Berdasarkan catatan SETARA Institute, sepanjang 2024 terdapat 260 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dengan 402 tindakan. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2023 yang mencatat 217 peristiwa dan 329 tindakan. 

Jawa Barat disebut sebagai zona merah dengan jumlah pelanggaran tertinggi, termasuk kasus-kasus sepanjang 2025 seperti pembubaran acara Jalsah Salanah Ahmadiyah di Kuningan, gangguan pendirian tempat ibadah di Majalengka, dan penyegelan Masjid Ahmadiyah di Kota Banjar.

Fanani juga mengkritik respons Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang memberikan bantuan sebesar Rp100 juta untuk memperbaiki kerusakan sebagai respons atas peristiwa di Cidahu. Bantuan tersebut dinilai sebagai tindakan karitatif semata dan tidak mencerminkan tanggung jawab seorang kepala daerah dalam menjamin perlindungan hak konstitusional warga negara.

Menurutnya, alih-alih bersikap tegas terhadap pelaku intoleransi, Gubernur justru tampil sebagai content creator yang menggunakan peristiwa intoleransi untuk konten media sosialnya.

“Tindakan tersebut justru menunjukkan kegagalan sebagai Gubernur untuk mencegah kasus-kasus intoleransi bahkan dengan penggunaan instrumen koersif dan kekerasan yang secara berulang terjadi di Jawa Barat. Dalam konteks itu, di tengah kegagalan Gubernur Jawa Barat dalam mencegah dan menangani kasus di Sukabumi serta kegagalan Gubernur mencegah keberulangan (principle of non-repetition),” jelasnya. 

Atas dasar itu, SETARA Institute mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan ketegasan dalam menjamin konstitusi, khususnya Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, serta melaksanakan Asta Cita sebagai visi politiknya. 

Kementerian Dalam Negeri juga didorong untuk memberikan teguran keras kepada Gubernur Jawa Barat atas kegagalannya dalam menangani dan mencegah kasus intoleransi yang terus berulang.

“Pemerintah Pusat hendaknya segera memiliki kesadaran bahwa intoleransi yang dibiarkan akan menjadi bom waktu yang melemahkan kebhinekaan dan merusak modal sosial dalam pembangunan bangsa dan negara,” demikian Fanani.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya