Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Membangun Generasi Cerdas Digital

Oleh: Lanny Ilyas Wijayanti*
MINGGU, 22 JUNI 2025 | 09:36 WIB

REVOLUSI teknologi telah mengubah wajah dunia dengan kecepatan luar biasa. Kita hidup di era di mana kecerdasan buatan (AI) dan kemampuan pemrograman (coding) bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan prasyarat untuk berdaya saing di tingkat global.

Menyadari hal itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan program prioritas 2025 yang mengintegrasikan pengenalan coding, AI, serta penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pilar transformasi pendidikan nasional.

Upaya ini bukan sekadar respons terhadap tren global, melainkan langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan literasi digital di Tanah Air. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Finlandia, dan Singapura sudah memasukkan coding sejak jenjang dasar.


Indonesia, dengan potensi demografi yang luar biasa, perlu mengejar ketertinggalan agar anak-anak kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi.

Pengenalan coding dan AI sejak pendidikan dasar bertujuan membangun kecakapan abad ke-21: berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, serta kolaborasi. Tidak hanya mengajarkan teknis pemrograman, proses ini juga membentuk cara berpikir sistematis dan adaptif. AI, yang sebelumnya terdengar abstrak, dapat diperkenalkan melalui media yang kontekstual dan menyenangkan, seperti permainan edukatif atau simulasi interaktif. Ini selaras dengan prinsip project-based learning yang mendorong keaktifan siswa dan pembelajaran bermakna.

Untuk mewujudkan program ini, peran guru sangat krusial. Guru tidak harus menjadi pakar teknologi, tetapi difasilitasi melalui pelatihan berkelanjutan, akses ke modul yang aplikatif, dan dukungan komunitas belajar. Pemerintah juga perlu memastikan pemerataan infrastruktur digital agar anak-anak dari pelosok desa hingga kota metropolitan mendapat kesempatan belajar yang setara.

Komplementer terhadap pengenalan teknologi adalah penerapan TKA sebagai sistem evaluasi pembelajaran yang lebih humanis dan relevan. TKA menggeser paradigma penilaian yang selama ini terfokus pada hafalan, menuju asesmen yang mengukur pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata.

Dengan TKA, capaian belajar siswa tidak lagi dinilai sebatas angka di rapor, melainkan melalui instrumen yang lebih objektif, terstandar, dan adil di seluruh Indonesia.

Selain menjadi alat evaluasi, TKA juga memberikan umpan balik penting bagi guru dan sekolah untuk merancang intervensi pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Hasil TKA dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan capaian belajar antarwilayah dan kelompok sosial, sekaligus membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang berbasis data.

Namun, keberhasilan TKA sangat bergantung pada komunikasi publik yang jernih. Penting ditegaskan bahwa TKA bukan reinkarnasi Ujian Nasional yang bersifat menentukan kelulusan, melainkan instrumen penguatan mutu. Perlu disosialisasikan bahwa TKA bersifat opsional dan melengkapi penilaian guru, tidak menggantikannya.

Tantangan tentu ada, mulai dari kesiapan infrastruktur hingga potensi kesenjangan antarsekolah. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, guru, komunitas pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci.

Terlebih, kolaborasi dalam pengembangan soal TKA di jenjang SD dan SMP yang melibatkan pemerintah daerah merupakan langkah penting dalam membangun rasa kepemilikan bersama terhadap kebijakan ini.

Dengan semangat gotong royong dan visi jangka panjang, pengenalan coding, AI, serta TKA diharapkan tidak hanya mengubah wajah kurikulum, tetapi juga mendorong transformasi budaya belajar di sekolah. Siswa tidak lagi belajar sekadar untuk lulus ujian, melainkan untuk menjadi pembelajar sejati, pencipta solusi, dan pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan dunia digital yang dinamis.

Transformasi pendidikan melalui pengenalan coding, AI, dan penerapan TKA merupakan langkah strategis yang akan memperkuat daya saing bangsa di era digital. Dengan kolaborasi lintas sektor dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan adaptif, yang mampu menjawab tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.
 

*Penulis adalah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya