Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Diplomasi atau Perang? Dunia Menunggu Keputusan Trump dalam Krisis Iran

OLEH: KHAIRUL A. EL MALIKY
MINGGU, 22 JUNI 2025 | 00:14 WIB

KETIKA dunia menahan napas menyaksikan ketegangan memuncak antara Amerika Serikat dan Iran, satu pernyataan dari Donald Trump memunculkan harapan sekaligus kegelisahan: “Kami akan menunggu dua minggu. Ini adalah peluang terakhir diplomasi.” 

Sebuah kalimat singkat, tapi sarat muatan geopolitik yang bisa menentukan masa depan Timur Tengah, bahkan mungkin masa depan dunia.

Pernyataan ini muncul setelah Iran membalas serangan Israel atas fasilitas konsulatnya di Damaskus. Balasan itu memicu ketegangan regional yang melibatkan proksi, misil, dan kemungkinan eskalasi militer penuh. Namun, alih-alih langsung membalas secara militer, Amerika Serikat justru menunjukkan sinyal menahan diri. Tak lain karena Trump tahu: serangan balasan bisa menjadi titik tak kembali bagi stabilitas kawasan.


Dua Pekan yang Menentukan

Trump bukan tokoh yang dikenal sabar atau bijak dalam konflik internasional. Tapi kali ini, langkahnya mencengangkan banyak analis. Ketika tekanan dari Kongres, sekutu Israel, bahkan kelompok hawkish di Partai Republik meningkat, Trump justru melempar bola ke arah diplomasi. Mengapa?

Jawabannya sederhana: dunia berubah. Amerika sudah lelah perang. Perang Irak, Afghanistan, dan ketegangan dengan Korea Utara sudah cukup menguras anggaran, nyawa, dan kredibilitas. Kini, dengan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan harga energi dunia melambung akibat konflik di Laut Merah, membuka front baru melawan Iran akan menjadi bunuh diri strategis.

Dalam situasi ini, dua minggu menjadi simbol dari pilihan: perang atau perdamaian. Tapi waktu itu bukan jaminan. Dua minggu hanyalah ilusi stabilitas jika tak digunakan dengan cerdas.

Diplomasi yang Dipertaruhkan

Langkah Trump memberi waktu kepada PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk untuk mendorong Iran dan Israel ke meja perundingan. Namun pertanyaannya: apakah cukup waktu dan cukup kehendak?

Iran tentu tak sudi tunduk begitu saja. Negeri para Ayatullah itu telah membangun jaringan proksi dan pengaruh dari Lebanon hingga Yaman. Serangan balasannya ke Israel, meskipun terbatas, adalah bentuk penegasan eksistensi. Di sisi lain, Israel di bawah Benjamin Netanyahu tak mungkin diam, apalagi setelah sebelumnya konsulatnya dihantam rudal.

Namun, diplomasi tetap jalan terbaik. Bahkan pragmatisme Trump yang dikenal keras sekalipun tak menutup pintu perundingan. Langkah ini disambut hangat oleh negara-negara seperti Qatar, Oman, dan bahkan Turki yang ingin memainkan peran sebagai mediator regional.

Peran Indonesia dan Dunia Islam

Dalam kondisi seperti ini, dunia Islam, terutama Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, punya peluang memainkan peran lebih nyata. Indonesia bisa mendorong pembentukan contact group internasional untuk krisis Iran-Israel, dengan fokus pada pencegahan perang dan perlindungan warga sipil.

Indonesia juga bisa menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, penghentian agresi Israel terhadap warga Palestina, serta pengakuan terhadap kedaulatan negara. Krisis Iran tak bisa dilepaskan dari konteks penjajahan Palestina yang belum selesai.

Jika Diplomasi Gagal…

Namun, mari bicara realistis. Jika dalam dua minggu ini tak ada kemajuan berarti, skenario terburuk sangat mungkin terjadi: Amerika ikut terjun ke dalam konflik militer besar. Ini bukan hanya soal rudal dan pesawat tempur. Ini soal dampak global. Harga minyak melambung, ekonomi Eropa tertekan, dan ancaman terhadap stabilitas di Laut Cina Selatan ikut meningkat karena perhatian dunia teralihkan.

Lebih dari itu, serangan militer terhadap Iran bisa memicu respons dari kelompok proksi seperti Hizbullah, Houthi, bahkan kelompok bersenjata di Irak dan Suriah. Kawasan bisa meledak menjadi perang multidimensi yang melibatkan banyak aktor negara dan non-negara.

Dan siapa yang paling dirugikan? Rakyat sipil. Selalu.

Dunia Menunggu, Trump Memilih

Inilah dilema yang kini dihadapi Trump: memilih jalan yang paling menguntungkan secara politik, menyerang dan tampil “tegas” atau memilih jalan damai yang tak populer tapi menyelamatkan dunia.

Sejauh ini, tampaknya Trump memilih untuk tidak gegabah. Tapi diplomasi bukan hanya soal menahan diri. Diplomasi adalah seni membangun solusi konkret sebelum waktu habis. Dan dalam konflik ini, waktu benar-benar terbatas.

Dunia menunggu, berharap bahwa dalam dua pekan ini, akal sehat akan menang. Bahwa ego kekuasaan dan dendam sejarah akan ditundukkan oleh kebijaksanaan dan rasa kemanusiaan.

Jika tidak, dunia akan kembali menyaksikan babak baru perang yang tak diinginkan siapa pun, kecuali mereka yang menjual senjata dan menari di atas puing-puing kemanusiaan.

Penutup

Diplomasi bukan tanda kelemahan. Ia adalah keberanian tertinggi untuk menyelamatkan umat manusia dari kuburan yang digali oleh ambisi dan kebencian. 

Dan jika Trump benar-benar ingin dikenang sebagai pembuat perdamaian, maka inilah waktunya. Karena dalam sejarah, kadang yang dibutuhkan hanya dua minggu untuk menyelamatkan satu abad dari bencana.

Penulis adalah pengarang novel, pemerhati sosial dan budaya, dan esais

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

UPDATE

PJJ dan WFH Didorong Jadi Standar Baru di Jakarta

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:02

Prajurit di Perbatasan Wajib Junjung Profesionalisme dan Disiplin

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:00

Airlangga Bidik Investasi Nvidia hingga Amazon

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:42

Indonesia Jadi Magnet Event Internasional

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:26

Macron Cemas, Prabowo Tawarkan Jalan Tengah

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:23

Rismon Sianipar Putus Asa Hadapi Kasus Ijazah Jokowi

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:11

Polda Metro Terima Lima LP terkait Materi Mens Rea Pandji

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:09

Prabowo Jawab Telak Opini Sesat Lewat Pencabutan Izin 28 Perusahaan

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:26

Polisi Bongkar 'Pabrik' Tembakau Sintetis di Kebon Jeruk

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:16

Pesan Prabowo di WEF Davos: Ekonomi Pro Rakyat Harus Dorong Produktivitas

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:04

Selengkapnya