Berita

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer dan Presiden Donald Trump/NYTimes

Bisnis

AS-Inggris Capai Kesepakatan Perdagangan Pertama sejak Tarif Trump Diberlakukan

JUMAT, 09 MEI 2025 | 15:07 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Amerika Serikat (AS) dan Inggris akhirnya menyepakati langkah awal dalam meredakan ketegangan dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Kesepakatan ini menjadi terobosan pertama sejak Trump mengumumkan kebijakan baru tersebut.

Dalam pengumuman bersama yang dirilis pada Kamis 8 Mei 2025 waktu setempat, Washington menyetujui pengurangan tarif impor atas mobil asal Inggris serta membuka kembali akses baja dan aluminium Inggris ke pasar AS tanpa bea masuk. Meski demikian, sebagian besar produk Inggris masih akan dikenai tarif sebesar 10 persen.


Langkah ini disebut sebagai angin segar bagi sektor-sektor industri utama Inggris yang selama ini terhimpit kebijakan tarif proteksionis Trump, termasuk manufaktur otomotif dan baja. 

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menyebut kesepakatan ini sebagai platform yang akan memperkuat hubungan dagang kedua negara.

"Kesepakatan bersejarah ini menguntungkan bisnis dan pekerja Inggris dengan melindungi ribuan pekerjaan di sektor otomotif dan baja. Tidak ada sekutu yang lebih besar bagi Inggris selain Amerika Serikat," katanya, dikutip dari BBC pada Jumat 9 Mei 2025.

Sementara dari Gedung Putih, Presiden Trump memuji perjanjian itu sebagai “kesepakatan hebat” dan menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan terus diperluas.

Meski demikian, kesepakatan yang diumumkan ini belum dituangkan dalam bentuk perjanjian resmi. Namun menurut rincian awal, AS akan menurunkan tarif impor mobil dari Inggris yang sebelumnya melonjak ke 25 persen bulan lalu menjadi 10 persen untuk kuota maksimal 100.000 unit per tahun. Kebijakan ini diharapkan menguntungkan produsen mobil mewah seperti Jaguar Land Rover dan Rolls Royce.

Selain itu, tarif baja dan aluminium yang sempat dinaikkan Trump menjadi 25 persen akan kembali dilonggarkan dengan pengaturan kuota seperti sebelumnya. 

"Kedua negara juga sepakat untuk mengizinkan impor hingga 13.000 metrik ton daging sapi dari negara lain tanpa tarif," tulis dokumen yang dirilis Perwakilan Dagang AS.

AS mengatakan perubahan itu akan secara signifikan memperluas penjualan daging sapinya ke Inggris, yang sebelumnya menghadapi bea masuk 20 persen dan dibatasi pada 1.000 metrik ton.

Menurut pernyataan dari Kantor Perwakilan Dagang AS, nilai peluang ekspor yang diciptakan dari kesepakatan ini diperkirakan mencapai 5 miliar dolar AS (sekitar Rp82 triliun), termasuk ekspansi untuk etanol dan produk pertanian lainnya.

Kesepakatan ini disambut baik oleh sektor industri Inggris. Direktur Jenderal UK Steel Gareth Stace menyebut perjanjian itu sebagai “kelegaan besar” bagi industri baja, sembari memuji pendekatan pemerintah Inggris dalam perundingan.

Namun, tidak semua pihak bersikap antusias. Kritik datang dari pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, yang menilai kesepakatan itu berat sebelah.

"Ini bukan kesepakatan bersejarah. Inggris menurunkan tarif, sementara AS menaikkan tarif. Kita telah ditipu,” tegasnya.

Partai Demokrat Liberal bahkan menuntut agar kesepakatan ini diajukan ke parlemen untuk mendapatkan pengawasan yang memadai. 

“Membiarkan kesepakatan ini berjalan tanpa pemungutan suara adalah bentuk ketidakadilan terhadap publik,” kata pemimpinnya, Sir Ed Davey.

Sementara itu, pemimpin Reform UK Nigel Farage menganggap kesepakatan ini sebagai langkah awal yang positif. Ia menyebutnya sebagai “manfaat nyata dari Brexit” karena Inggris kini dapat membuat kesepakatan dagang sendiri dengan AS.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya