Berita

Ilustrasi/RMOL via AI

Bisnis

Trader Kecewa dengan Pernyataan Powel, Harga Emas Anjlok

KAMIS, 08 MEI 2025 | 09:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas terpukul oleh penguatan Dolar Amerika Serikat (AS).

Indeks Dolar AS (Indeks DXY) naik 0,6 persen terhadap sekeranjang rival utama, membuat harga emas batangan lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Jatuhnya harga emas juga dipengaruhi oleh kekecewaan trader dengan pernyataan Chairman Federal Reserve Jerome Powell bahwa ekonomi Amerika tidak pasti akibat risiko inflasi dan pengangguran yang meningkat.


Powell mengatakan hal itu setelah Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari dengan keputusan bulat untuk tidak mengubah suku bunga. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25-4,50 persen.

"Ketidakpastian mengenai prospek ekonomi meningkat lebih jauh," kata FOMC dalam pernyataan setelah pertemuan, dikutip dari Reuters.

Tidak hanya emas, logam lain juga anjlok. Berikut pergerakan harga logam pada penutupan perdagangan Rabu 7 Mei 2025 atau Kamis dini hari WIB.  

- Emas spot, anjlok 1,8 persen menjadi 3.368,42 Dolar AS per ons
- Emas berjangka AS ditutup turun 0,9 persen menjadi3.391,9 Dolar AS
- Perak spot merosot 2,9 persen menjadi 32,27 Dolar AS
- Platinum jatuh 0,9 persen menjadi 975,60 Dolar AS
- Paladium melorot 1,2persen menjadi 963,34 Dolar AS per ons

Logam kuning, yang dilihat sebagai aset safe haven di masa yang tidak pasti, meroket 28,6 persen sejauh tahun ini, di tengah risiko geopolitik dan pembelian bank sentral yang kuat. Sementara, Bank Sentral China menambah cadangan emasnya untuk bulan keenam berturut-turut pada April.

Analis mengatakan, sebagian besar jatuhnya harga emas juga dipengaruhi oleh meredanya ketegangan China dan AS. Keduanya Bersatu untuk melakukan pembicaraan tentang kesepakatan tarif.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan kepala negosiator perdagangan Jamieson Greer dijadwalkan bertemu dengan pemimpin ekonomi China, He Lifeng, di Swiss akhir pekan ini, sebuah langkah yang dipandang sebagai terobosan potensial dalam menyelesaikan ketegangan perdagangan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya