Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Gunakan Ponsel sebagai Jembatan Makna

SABTU, 26 APRIL 2025 | 08:36 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MARI kita akui dengan jujur (dan sedikit tertawa getir): di era digital ini, handphone bukan lagi benda mati. Ia kini sah menjadi bagian keluarga. Bahkan, lebih sering digenggam daripada tangan ayah dan ibu sendiri. Tapi ia juga kini jadi bagian yang diburu di sekolah dan madrasah.

Kalau dulu orang tua sibuk bertanya “Anak saya sudah bisa baca belum?”, kini pertanyaannya berubah menjadi, “Anak saya pakai HP merek apa?” Makin mahal ponsel yang dibawa anak, makin naik gengsinya di kalangan sebaya.

Tapi tenang, ini bukan curhatan murahan dari generasi yang kesal karena anak-anak zaman sekarang lebih memilih TikTok daripada tanya-tanya PR ke orang tua. Ini juga bukan ceramah tentang “Kembalilah ke zaman batu!”. 


Ini adalah upaya serius - meskipun dengan gaya yang santai dan kadang geli - untuk merefleksikan hubungan tragis nan romantis antara anak-anak dan ponsel pintarnya. Boleh jadi, kita tak paham bahwa cinta pertama mereka adalah ponsel bernama Android.

Rata-rata anak Indonesia kini mendapatkan ponsel pertamanya bahkan sebelum mereka mendapatkan nilai 100 pertama dalam ulangan Matematika. Sebuah survei dari Kementerian Kominfo tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 60% anak usia 8–12 tahun di Indonesia telah memiliki atau mengakses smartphone pribadi. 

Anak zaman sekarang mungkin belum bisa mengikat tali sepatu sendiri, tapi sudah jago pakai filter Instagram dan menyalin tautan Google Classroom. Ini nyata dalam kehidupan sebagian besar anak-anak kita sekarang. Inilah generasi yang hidup tak lepas dari ponsel.

Tentu saja, alasan awalnya mulia. Misalnya, supaya bisa menghubungi orang tua. Tapi pelan-pelan, HP itu berevolusi. Dari alat komunikasi menjadi alat pelampiasan emosi. Dari tempat bertanya kabar menjadi tempat kabur dari realita.

Tak hanya rumah, pihak sekolah pun kalang kabut. “Kembalikan ponselmu ke rumah! Ini tempat belajar!” kata mereka. Di banyak sekolah, handphone dianggap setan digital yang merusak konsentrasi dan menurunkan skor ujian, hingga menyebabkan drop-out.

Tak sedikit sekolah yang melakukan sweeping, menyita, bahkan ada yang menginterogasi siswa layaknya polisi sedang mengejar gembong narkoba. Tapi apa hasilnya? Anak-anak jadi makin ahli menyembunyikan HP seperti menyembunyikan kunci rahasia masa depan. 

Mereka memasukkannya ke balik kaus kaki, dalam laci meja, atau modus minta izin ke toilet sambil live Mobile Legends. Di sekolah-sekolah berasrama, HP diselundupkan seperti narkoba kelas berat. Sungguh, jika keterampilan menyelundupkan HP ini diujikan di UNBK, mungkin tingkat kelulusan kita akan menyaingi Finlandia.

Masalahnya, HP bukan cuma hiburan. Bagi banyak anak, terutama di daerah dan keluarga dengan keterbatasan, HP adalah jendela dunia. Sebuah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak dari kalangan ekonomi bawah lebih banyak menggunakan ponsel untuk akses informasi dan hiburan dibanding anak-anak dari keluarga menengah atas. Mengapa? Karena HP adalah satu-satunya sarana untuk melihat dunia di luar pagar rumah.

Dalam kenyataannya, banyak anak merasa sekolah tidak menjawab kebutuhan jiwa dan pikirannya. Kurikulum masih kaku, fokus pada capaian akademik, dan belum tentu selaras dengan kenyataan hidup mereka. 

Ketika nilai rapor tak kunjung membanggakan dan guru hanya bicara tentang soal-soal ujian, maka dunia maya memberikan pelarian - atau bahkan makna alternatif. Ada yang belajar coding, ada yang berjualan online, ada pula yang hanya ingin sekadar merasa didengar lewat video call tengah malam dengan pacar virtualnya.

Lantas, apa solusinya? Apakah kita harus menyerah dan berkata: “Biarlah anak-anak kita menikah dengan ponselnya masing-masing”? Tidak. Tapi kita juga tak bisa terus menyalahkan mereka atas ketergantungan yang kita wariskan sendiri.

Yang kita butuhkan bukan larangan total, tapi integrasi. Bukan hukuman, tapi bimbingan. Sekolah dan orang tua seharusnya jadi co-pilot, bukan petugas imigrasi yang menyita paspor digital mereka. 

Edukasi literasi digital harus dimulai sejak dini, bukan hanya berupa poster larangan, tapi diskusi kritis tentang etika, waktu, dan tanggung jawab digital.

Sebelum kita menyalahkan anak, mari kita Bbercermin di kamera depan. Anak-anak tak lahir dengan HP di tangan. Kitalah yang menaruhnya di sana. Kadang karena alasan praktis, kadang karena kita juga tak tahan tergoda. 

Jadi sebelum kita mencabut ponsel mereka dengan dalih moral, mari kita lihat dulu screen time kita sendiri. Coba catat, berapa lama kita pegang ponsel dalam sehari untuk lihat TikTok dan Shorts. Bisa jadi, para orang tua dan guru lebih candu daripada muridnya.

Dan kalau memang HP telah menjadi bagian dari hidup mereka yang tak terhindarkan, maka bukankah sudah saatnya pendidikan masuk ke ruang itu juga? Kita tidak sedang melawan HP, kita sedang mencoba merebut kembali makna.

Karena itu, bukan handphone yang salah. Tapi kita yang belum cukup cerdas menggunakannya sebagai jembatan makna, bukan jurang.

Cak AT - Ahmadie Thaha 

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Quran.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya