Berita

Kim Il Sung/Net

Dunia

Gagasan Juche Kim Il Sung, Warisan Keabadian yang Terukir di Hati Dunia

SENIN, 14 APRIL 2025 | 21:15 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Kim Il Sung (1912-1994), pendiri Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara), namanya tetap hidup karena warisan ideologis dan revolusionernya yang luar biasa.

Sebagai seorang pemimpin yang tak tergantikan, Kim Il Sung dikenal karena menciptakan gagasan Juche, sebuah paham kemerdekaan yang tidak hanya mempengaruhi negaranya tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak bangsa di seluruh dunia.

Mengutip sumber yang diterima redaksi pada Senin, 14 April 2025, gagasan Juche yang diajukan oleh Kim Il Sung pertama kali dalam sejarah pemikiran manusia menekankan bahwa massa rakyat adalah penguasa revolusi dan pembangunan, serta kekuatan pendorong di balik perubahan sosial.


"Gagasan Juche adalah gagasan bahwa massa rakyat adalah penguasa revolusi dan pembangunan dan mereka juga merupakan kekuatan pendorongnya. Dengan kata lain, mereka adalah penguasa takdir mereka sendiri dan mereka memiliki kekuatan untuk membentuk takdir mereka sendiri," ungkap sumber tersebut.

Dengan gagasan ini, Kim Il Sung memimpin perjuangan revolusioner anti-Jepang selama 20 tahun yang penuh dengan pengorbanan, menuju pembebasan Korea dari pendudukan militer Jepang pada tahun 1945.

Setelah pembebasan tersebut, ia berhasil mendirikan sistem sosialis di Korea yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan sejati.

Sebagai pemimpin yang memandang dunia dengan perspektif internasionalisme, Kim Il Sung tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan bangsanya tetapi juga memberikan dukungan tanpa henti kepada negara-negara yang bercita-cita merdeka dari cengkeraman imperialisme.

Kaum progresif di seluruh dunia memujinya sebagai teladan internasionalisme sejati. Hal ini terbukti dengan berbagai penghargaan dan pengakuan yang diterimanya, baik dalam bentuk lembaga, jalan, maupun organisasi yang dinamai dengan namanya.

Kim Il Sung menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan dan imperialisme, serta contoh kepemimpinan yang mengutamakan rakyat sebagai kekuatan utama dalam perjuangan.

Segera setelah pembebasan Korea, penghormatan terhadap Kim Il Sung mulai terlihat di berbagai penjuru dunia.

Di Kosta Rika, misalnya, para pekerja yang tergabung dalam sebuah partai politik mendirikan kelompok yang diberi nama "Kim Il Sung" untuk menghormati kepemimpinan luar biasa beliau dalam membangun masyarakat baru di mana rakyat menjadi pemimpin sejati.

Pada tahun 1950-an, ketika Tiongkok merayakan persahabatan dengan Korea, partai dan pemerintah Tiongkok mendirikan kelas Kim Il Sung di Sekolah Menengah No. 5 di Beijing.

Seiring berjalannya waktu, organisasi dan lembaga yang mengadopsi nama Kim Il Sung semakin banyak muncul, termasuk komite yang mempelajari karya-karya beliau dan gagasan Juche.

Pada tahun 1993, tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai bidang berkumpul di New Delhi, India, untuk membentuk Dewan Penghargaan Kim Il Sung Internasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya yang abadi.

Meski Kim Il Sung telah meninggal pada 1994, keinginan untuk mewariskan jasa-jasanya terus hidup. Upacara pemberian nama jalan dan pendirian lembaga seperti Perpustakaan Kim Il Sung serta Kelas Kim Il Sung di berbagai negara menjadi bukti bahwa semangat perjuangan beliau tetap hidup.

Lebih dari 480 jalan, lembaga, dan organisasi di lebih dari 100 negara di seluruh dunia telah dinamai dengan nama Kim Il Sung sejak pembebasan Korea hingga akhir 1990-an.

Ini mencerminkan penghargaan mendalam dunia terhadap beliau sebagai pemimpin revolusioner yang tak hanya berjuang untuk kebebasan negaranya, tetapi juga berkomitmen pada perjuangan global melawan imperialisme.

Sebagai sebuah simbol perjuangan yang tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan keadilan sosial, nama Kim Il Sung tetap dikenang oleh generasi-generasi yang akan datang.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya