Berita

Ilustrasi/Net

Global

Diduga Berperan Sebarkan Ujaran Kebencian di Kenya, Meta Terancam Denda Rp38,4 Triliun

SABTU, 05 APRIL 2025 | 10:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Meta platforms, pemilik Facebook, terancam denda sebesar 2,4 miliar Dolar AS (sekitar Rp38,4 triliun) karena diduga ikut menyebarkan ujaran kebencian yang memicu konflik etnis di Kenya.

Putusan ini diumumkan oleh Pengadilan Tinggi Kenya pekan lalu, lebih dari dua tahun setelah sekelompok peneliti dari Ethiopia dan aktivis HAM dari Kenya menggugat Meta.

Para penggugat menilai algoritma Facebook justru memperkuat unggahan yang mengandung kekerasan, dan hal ini turut memperburuk konflik bersenjata selama dua tahun di wilayah Tigray, Ethiopia Utara, yang berakhir pada November 2022.


Dikutip dari RT, Sabtu 5 April 2025, salah satu penggugat bernama Abraham Meareg mengatakan bahwa ayahnya, Profesor Kimia Maereg Amare, dibunuh setelah alamat rumahnya dan unggahan yang mengajak untuk membunuhnya tersebar di Facebook.

Fisseha Tekle, mantan peneliti Amnesty International dan juga penggugat, juga dilaporkan menerima ancaman pembunuhan di platform Meta. Selain mereka, ada juga Katiba Institute (KI), lembaga hukum nirlaba di Kenya, yang turut menggugat.

Para penggugat dalam tuntutannya meminta Meta untuk menambah jumlah moderator konten di Afrika, dengan gaji dan kondisi kerja yang layak, juga membayar dana kompensasi senilai 2,4 miliar Dolar AS bagi para korban kekerasan dan ujaran kebencian di platformnya.

Mereka juga meminta agar  Meta mengubah algoritma agar tidak lagi menyebarkan konten kebencian. Selanjutnya menuntut perusahaan meminta maaf secara resmi atas pembunuhan Profesor Maereg.

Namun, Meta berdalih bahwa pengadilan Kenya tidak punya wewenang mengadili mereka karena Meta bukan perusahaan yang terdaftar di negara tersebut.

Kasus serupa pernah menimpa Meta pada tahun 2021, ketika mereka digugat sebesar 150 miliar Dolar AS karena dianggap turut berperan dalam kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar.

Konflik di Tigray disebut sebagai konflik paling mematikan di dunia tahun 2022 oleh Peace Research Institute Oslo, dengan korban jiwa lebih dari 100.000 orang.

Belakangan, muncul kekhawatiran konflik ini bisa kembali pecah setelah salah satu kelompok politik menyerang pemerintahan sementara yang dibentuk pada 2023 berdasarkan Perjanjian Pretoria, yang sebelumnya berhasil menghentikan perang selama dua tahun.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya