Berita

Mykhailo Viktorovych Polyakov/Net

Dunia

Turis Amerika Ditangkap saat Berusaha Menyusup ke Pulau Sentinel India yang Terlarang

JUMAT, 04 APRIL 2025 | 12:06 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Seorang turis asal Amerika Serikat, Mykhailo Viktorovych Polyakov (24), telah ditangkap oleh pihak berwenang India setelah secara ilegal mendarat di Pulau Sentinel Utara, sebuah wilayah terlarang yang dihuni oleh suku terasing dan dilindungi dari kontak luar.

Pulau Sentinel Utara, yang merupakan bagian dari Kepulauan Andaman dan Nicobar di Samudra Hindia, telah lama ditetapkan sebagai zona larangan masuk oleh pemerintah India untuk melindungi suku Sentinel yang sangat tertutup dan rawan terhadap penyakit luar. 

Pendekatan dalam radius 5 kilometer dari pulau ini dilarang keras baik bagi warga negara India maupun asing.


Menurut Kepala Polisi Kepulauan Andaman dan Nicobar, HGS Dhaliwal, Polyakov mendarat di pulau tersebut pada akhir Maret dengan menggunakan perahu karet bermotor setelah melakukan pelayaran sejauh sekitar 35 kilometer dari kepulauan utama.

Dikatakan bahwa Polyakov meniup peluit di lepas pantai selama sekitar satu jam untuk menarik perhatian suku tersebut sebelum akhirnya mendarat di pantai dan memberikan sesajen. 

"Ia berada di sana selama kurang lebih lima menit, meninggalkan sesaji berupa kelapa dan sekaleng Diet Coke, mengumpulkan sampel pasir, dan merekam video dengan kamera GoPro," ujar Dhaliwal, seperti dikutip dari AFP pada Jumat, 4 April 2025. 

Rekaman dari kamera GoPro yang disita menunjukkan jelas bahwa Polyakov menjejakkan kaki di pulau tersebut, yang dilindungi secara ketat oleh hukum India. Ia ditangkap pada 31 Maret, dua hari setelah melakukan pendaratan, dan kini ditahan selama tiga hari untuk keperluan interogasi lebih lanjut.

Suku Sentinel dikenal karena menolak semua bentuk kontak dengan dunia luar dan memiliki sejarah kekerasan terhadap penyusup. 

Insiden paling terkenal terjadi pada tahun 2018, ketika seorang misionaris asal AS, John Allen Chau (27), tewas setelah berusaha melakukan pendekatan serupa. 

Jenazahnya tidak pernah ditemukan, dan tidak ada penyelidikan resmi karena ketatnya peraturan tentang wilayah tersebut.

"Bahasa dan budaya suku Sentinel hampir sepenuhnya misterius bagi dunia luar. Mereka tidak ingin dijangkau, dan kami berkomitmen untuk menghormati hak-hak mereka," tambah Dhaliwal.

Pihak berwenang India juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya pihak lokal yang membantu Polyakov dalam usahanya tersebut. Pada kunjungan sebelumnya, Oktober 2024 dan Januari 2025, upayanya telah digagalkan oleh pihak hotel dan kondisi alam.

Wilayah Kepulauan Andaman dan Nicobar sendiri memegang posisi strategis di jalur pelayaran utama dan menjadi bagian dari rencana besar India untuk memperluas infrastruktur militer dan sipil di kawasan itu, dengan investasi sebesar US$9 miliar.

Selain suku Sentinel, kepulauan ini juga menjadi rumah bagi suku asli lainnya seperti suku Jarawa yang juga menghadapi ancaman dari turisme dan kontak luar. 

Aktivis mencatat kasus-kasus di mana turis menyuap pejabat lokal demi bisa "mengunjungi" suku-suku tersebut, menimbulkan kekhawatiran tentang pelestarian budaya dan hak asasi masyarakat adat.

Pemerintah India terus mengimbau masyarakat global untuk menghormati hukum dan kebijakan perlindungan terhadap komunitas adat yang hidup dalam isolasi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya