Berita

Proses evakuasi korban gempa Myanmar/ Net

Dunia

Peramal Ungkap Misteri Gempa Myanmar: Pertanda Awal Kejatuhan Rezim Militer

RABU, 02 APRIL 2025 | 11:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Myanmar dilanda gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang menghancurkan kota Mandalay dan Sagaing. Lebih dari 2.700 orang dilaporkan meninggal dalam bencana tersebut.

Di Myanmar, yang sangat percaya pada takhayul, banyak yang melihat gempa bumi besar yang terjadi pada Jumat, 28 Maret 2025, sebagai pertanda akan jatuhnya rezim militer yang dipimpin oleh Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

"Gempa ini ada maknanya," kata seorang astrolog di Mandalay, seperti dikutip dari Al-Jazeera Rabu, 2 April 2025.


"Karena terjadi pada hari Jumat dengan bulan baru, maka sumber daya seperti beras dan air akan semakin langka, dan harga barang-barang pokok akan terus naik," kata astrolog yang namanya dirahasiakan demi alasan keamanan.

"Ini juga menandakan akan ada perubahan besar dalam pemerintahan. Perang mungkin akan semakin memburuk. Perubahan ini berarti Min Aung Hlaing, dalam suatu cara, akan kehilangan kekuasaannya," ujarnya.

Dia melanjutkan, gempa bumi yang dianggap sebagai pertanda buruk ini sepertinya akan menjadi perhatian bagi Min Aung Hlaing.

"Min Aung Hlaing sangat percaya pada astrologi dan takhayul," ujarnya.

Gempa ini terjadi sehari setelah Min Aung Hlaing memimpin upacara tahunan Hari Angkatan Bersenjata, yang diselenggarakan saat perang saudara di Myanmar telah berlangsung lebih dari empat tahun, dengan lebih dari 6.000 warga sipil tewas akibat kekerasan rezim.

"Dia pada dasarnya memimpin negara berdasarkan ramalan astrologi. Bisa dibilang, dia memerintah negara dengan cara-cara yang terkait dengan astrologi," kata astrolog tersebut.

"Namun, berdasarkan tanda-tanda dari gempa ini, kejatuhannya sudah dekat," ujarnya.

Min Aung Hlaing bukanlah pemimpin militer pertama di Myanmar yang mempercayakan nasibnya pada hal-hal ghaib dalam sejarah negara yang penuh gejolak ini.

Jenderal Ne Win, yang merebut kekuasaan melalui kudeta militer pada 1962 dan berkuasa hingga 1988, dilaporkan pernah menghapus mata uang kyat pecahan 25, 35, dan 75, lalu menggantinya dengan pecahan 45 dan 90 atas saran para peramal.

Ne Win sangat percaya bahwa angka sembilan adalah angka keberuntungannya. Pecahan 45 dan 90 bisa dibagi sembilan, dan jika dijumlahkan, hasilnya juga sembilan.

Namun, keputusan ini justru membawa kesulitan ekonomi besar bagi rakyat Burma saat itu, yang kehilangan uang lama mereka yang didemonetisasi dan menjadi tidak bernilai.

Pada masa kekuasaan pemimpin militer Than Shwe, yang juga percaya takhayul, pada tahun 2007, pihak berwenang bahkan memerintahkan petani di wilayah utara Yangon untuk menanam bunga matahari. Langkah ini didasarkan pada kepercayaan bahwa bunga matahari dapat membantu panjang umur rezim. Kata Burma untuk bunga matahari adalah "Nay Kyar", yang berarti "tinggal lama".

Seorang mantan anggota militer Myanmar yang berbicara secara anonim kepada Al Jazeera menyatakan bahwa gempa bumi ini adalah pertanda kejatuhan Min Aung Hlaing. Menurutnya, gempa tersebut adalah tanda bahwa alam sedang menghukumnya.

"Gempa itu adalah tanda kejatuhannya," kata sumber tersebut.

Astrologi memang memainkan peran besar dalam masyarakat Myanmar, khususnya di kalangan militer, di mana tingkat pendidikan yang rendah menjadi hal biasa, terutama di kalangan prajurit.

"Para tentara yang dikirim ke garis depan diberi jimat pelindung dan gelang tangan suci. Mereka diajari untuk percaya bahwa perlindungan astrologi ini akan menjaga mereka dari kematian dalam pertempuran," ujarnya.

Ia juga menambahkan, sejak militer mengambil alih Myanmar, negara ini telah mengalami kerusakan dan penderitaan besar.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya