Berita

Cover buku “Potensi Maritim untuk Swasembada Pangan”/RMOL

Resensi

Menjawab Swasembada Pangan Lewat Potensi Maritim

KAMIS, 20 MARET 2025 | 14:45 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

PROGRAM swasembada pangan menjadi prioritas di bawah pemerintahan Prabowo Subianto. Seluruh elemen bangsa dalam bidangnya masing-masing pun berorientasi bagaimana mencapai tujuan tersebut.

TNI Angkatan Laut sebagai penjaga laut Indonesia turut berjibaku mewujudkan program mulia itu. Hal ini yang memantik Perwira Tinggi TNI AL Laksda Edwin Rajo Mangkuto menulis sebuah buku berjudul “Potensi Maritim untuk Swasembada Pangan”.

Buku yang dilaunching pada Sabtu, 22 Februari 2025 ini seakan menjadi jawaban dari tantangan kebutuhan untuk memenuhi gizi anak bangsa yang berasal dari laut.


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas lautan sekitar 5,9 juta km persegi memiliki makna penting bagi suatu kesejahteraan.

Buku setebal 168 halaman yang diterbitkan IPB Press ini menjadi solusi bagaimana potensi kelautan yang besar itu bisa menjadi alat kesejahteraan sekaligus sumber pangan dan protein hewani yang diperlukan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku yang kaya akan khazanah ini menyiratkan bahwa penulis memiliki kompetensi yang mumpuni di bidangnya serta pengalaman yang bukan isapan jempol belaka.

Sebagai sosok yang kental dengan budaya bahari serta nuansa Minangkabau dengan filosofi ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, penulis mengawali karyanya dengan mengutip ayat Al Quran An Nahl ayat 14: “Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan) dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.          

Jika dilihat dalam riwayat penulis, jebolan AAL 1991 ini telah malang melintang dalam penugasan baik di TNI AL maupun Mabes TNI. Penulis kini baru saja dilantik menjadi Wakil Gubernur Lemhannas yang akan mengemban pangkat Bintang Tiga di pundaknya.

Dalam buku ini pun diurai, pencapaian swasembada pangan dari laut tidak semudah membalikan telapak tangan. Kendati lautan Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah dan ditaksir mampu menghasilkan ekonomi maritim sebesar USD 1.339 miliar per tahun, namun tantangan dan ancaman juga semakin besar seiring berjalannya waktu.

Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada 2022, tercatat produksi perikanan kita mencapai volume 6,41 juta ton. Hal itu terdiri dari perikanan tangkap sebesar 2,02 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 4,39 juta ton.

Tetapi dengan jumlah yang sedemikian besar itu belum mampu mensejahterakan kehidupan nelayan, terutama nelayan kecil. Mereka masih hidup dalam lembah kemiskinan. Hal itu menjadi bukti bahwa potensi maritim Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal untuk mewujudkan swasembada pangan.

Dengan melandaskan pada aspek geopolitik, geostrategis dan geoekonomi, penulis memahami betul bahwa solusi itu harus berangkat dari strategi yang matang. Melalui misi Asta Cita sebagai pintu masuk yang menghasilkan kebijakan turunan ekonomi biru, penulis turut mengupas pemanfaatan kekayaan laut hingga aspek pertahanan dan keamanannya.

Keterbaruan data hingga aspek teknis dalam menjawab swasembada pangan dari laut menjadi keunggulan buku ini. Data dan analisi di buku ini cocok menjadi referensi para pemangku kebijakan, mahasiswa di bidang kemaritiman serta masyarakat yang concern terhadap isu-isu kelautan. Tentunya bagi personel TNI AL yang memiliki peran dan fungsi di aspek pertahanan-keamanan laut serta pemanfaatan potensi maritim bangsa, buku ini harus menjadi sarapan sehari-hari.

Setidaknya buku ini menjadi bacaan wajib bagi anak bangsa yang memiliki visi untuk mengembalikan kejayaan maritim Nusantara. Tertuang lima rekomendasi penting yang bisa dipetik untuk mewujudkan swasembada pangan dari laut. Di antaranya:

Pertama, pemerintah perlu memperkuat implementasi konsep ekonomi biru dalam pengelolaan sumber daya maritim. Fokus utama harus diberikan pada pengembangan 12 klaster ekonomi maritim secara optimal, peningkatan produktivitas perikanan dan pengelolaan kawasan konservasi perairan secara efektif. Hal ini dapat dicapai melalui peningkatan investasi di sektor maritim, penyederhanaan regulasi dan penguatan koordinasi antarlembaga terkait.

Kedua, modernisasi dan penguatan armada perikanan nasional harus menjadi prioritas. Pengembangan armada perikanan untuk melayani zona ekonomi eksklusif (ZEE) dengan skema kemitraan publik-swasta-masyarakat (PPPP) perlu dipercepat. Selain itu peningkatan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan efisien harus didorong untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Ketiga, pemberdayaan masyarakat pesisir dan nelayan harus menjadi fokus utama dalam upaya mencapai swasembada pangan berbasis maritim. Program-program pelatihan, akses terhadap teknologi modern dan lingkungan finansial seperti kredit usaha rakyat (KUR) untuk sektor perikanan perlu diperluas. Pengembangan industri pengolahan hasil laut di wilayah pesisir juga penting untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan.

Keempat, penguatan infrastruktur maritim harus dilakukan secara komprehensif. Pembangunan dan modernisasi pelabuhan perikanan, fasilitas cold storage, dan sistem logistik yang terintegrasi sangat penting untuk mendukung distribusi hasil laut ke seluruh wilayah Indonesia. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi maritim berbasis pulau-pulau kecil dan kawasan pesisir juga perlu diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kelima, penguatan kerja sama internasional dan diplomasi maritim harus terus ditingkatkan. Percepatan penyelesaian perjanjian batas maritim dengan negara tetangga, peningkatan kerja sama dalam penanganan illegal fishing, serta promosi produk perikanan Indonesia di pasar global perlu menjadi agenda utama. Selain itu, investasi dalam riset dan pengembangan teknologi maritim, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kemaritiman harus terus didorong untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.         

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya