Berita

Band Sukatani/Ist

Nusantara

Lagu "Bayar Bayar Bayar" Dilarang Semakin Terkenal

SELASA, 25 FEBRUARI 2025 | 03:05 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sejarah mencatat bahwa Band Sukatani dengan lagu "Bayar Bayar Bayar" bukanlah musisi pertama yang mengalami pembredelan karya musik di Tanah Air.

"Namun alhamdulillah setelah Kapolri turun tangan, lagu yang berisi kritikan sosial tersebut kini bebas dinyanyikan," kata mantan Menpora Roy Suryo melalui keterangan tertulisnya, Selasa 25 Februari 2025.

Sebelumnya, duo personel Band Sukatani, Novi Citra Indriyati alias Ovi (nama panggung Twister Angel) dan Muhammad Syifa Al Lutfi alias Ai (nama panggung Alectroguy) mendadak meminta maaf dan menarik lagunya setelah didatangi Tim Siber Polda Jawa Tengah yang diduga gerah.


"Kasus pembredelan lagu sebenarnya sangat buruk bagi demokrasi Indonesia, karena ini mengingatkan kita pada tindakan yang pernah dilakukan Orde Baru, bahkan Orde Lama," kata Roy. 

Saat itu memang terjadi beberapa peristiwa dimana rezim yang berkuasa bersikap anti kritik dan membungkam semua aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui seni budaya, termasuk lagu. 

Apalagi saat itu sarana ekspresi dan media belum sebebas dan sevariatif sekarang. Jadi ketika media konvensional ditutup, maka tertutuplah pula akses masyarakat untuk dapat menyalurkan aspirasi dan ekspresinya.

Zaman Orla, lagu yang sangat terkenal dan dilarang adalah "Genjer-Genjer" oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet (1960-an). Alasannya Lagu ini diidentikkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dianggap sebagai lagu 'komunis'. 

Setelah peristiwa G30S, lagu ini dilarang diputar oleh pemerintah Orde Baru. Dikuti dengan lagu  "Paduka yang Mulia" Lilis Suryani (1960-an). 

Selain itu sempat terdengar kabar juga bahkan lagu-lagu Koes Plus juga tidak disarankan pemutarannya, karena dianggap musik "ngak ngik ngok ngek" atau  kebarat-baratan dan kurang mencerminkan budaya Indonesia.

Zaman Orba, lagu "Mimpi di Siang Bolong" Doel Sumbang (1970-an) sempat dilarang karena Lirik lagu ini dianggap mengandung kritik terhadap pemerintahan Soeharto, menyinggung praktik korupsi, serta menggambarkan manipulasi politik yang terjadi pada masa itu. 

Diikuti oleh lagu "Surat untuk Wakil Rakyat" Iwan Fals (1987). Lagu ini mengkritik anggota DPR yang dianggap tidak menjalankan tugasnya dengan baik. 

Demikian juga lagu "Pak Tua" Elpamas (1991) yang menggambarkan sosok pemimpin yang sudah tua tetapi tetap mempertahankan kekuasaannya. 

"Liriknya yang dianggap menyindir pemerintahan saat itu membuat lagu ini dilarang beredar di radio dan video klipnya dicekal dari televisi nasional dan swasta," kata Roy.

Lucunya lagu cinta seperti "Hati yang Luka" Betharia Sonata (1988) juga sempat dilarang Menteri Penerangan Harmoko karena dianggap 'cengeng' yang diikuti lagu "Gelas-Gelas Kaca" Nia Daniaty turut dilarang dengan alasan sejenis. 

Namun dua lagu yang cukup fenomenal dan masih banyak dinyanyikan sampai sekarang adalah "Bento" dan "Bongkar". Keduanya karya Iwan Fals (1991). 

Meski lagu ini dianggap meresahkan karena liriknya yang kritis terhadap pemerintah, sehingga dilarang peredarannya pada masa Orde Baru, namun justru masih banyak dinyanyikan saat demo hingga sekarang, 

Di era Reformasi dan tercatat juga beberapa lagu sempat mendapatkan pelarangan dari pemerintah, diantaranya "Cinta Satu Malam" Melinda (2010), dan "Paling Suka 69" Julia Perez (2012).

"Keduanya dilarang karena dianggap mengajarkan hal-hal yang vulgar, tidak berbudaya ketimuran hingga pornografi," kata Roy.

Ada juga lagu "Gossip Jalanan" Slank (2004) yang dianggap bisa memicu keresahan masyarakat karena memotret realita kehidupan rakyat yang tertindas oleh rezim yang berkuasa.

"Kesimpulannya, pelarangan atau pembredelan lagu justru biasanya tidak membuat lagu dan penyanyinya hilang dari pasaran namun justru makin terkenal," pungkas Roy.



Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya